Oleh : NKITD
Setiap
manusia membutuhkan didikan dari orang dewasa untuk mencapai kedewasaan.
Didikan yang tepat akan menghantarkan kita menjadi manusia dewasa seutuhnya.
Dewasa dalam arti bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, apabila didikan yang kita
dapatkan berbalut dengan kekerasan makan akan menciptakan manusia yang tidak
memiliki kesadaran dan tidak bertanggung jawab,
Guru
dapat dikatakan sebagai manusia dewasa yang bertugas mengajar dan mendidik
siswa. Adakalanya sebagai manusia, guru
memiliki keterbatasan untuk menentukan sikap dalam mendidikan siswa. Alih-alih
bersikap untuk mendidik tapi berujung pada tindak kekerasan. Misalnya, guru
mendidik dengan cara pemberian hukuman berdiri di depan kelas, dijemur di
lapangan, main tangan dengan cara
mencubit, menjewer, menampar dan lain-lain. Kita bisa lihat hukuman yang
diberikan dalam rangka mendidik tersebut mengarah pada tindak kekerasan. Hal
tersebut dilakukan dengan alasan klasik yaitu mendidik. Singkatnya, guru
mendidik siswa dalam bingkai kekerasan.
Kita
pribadi mengetahui bahwa kekerasan tidak sama dengan mendidik. Tapi, adakalanya
sadar atau tidak kita berniat atau pernah melakukan hal tersebut. Sepatutnya
sebagai manusia dewasa yang mempunyai pikiran dan wawasan yang luas maka niat
tersebut harus dibuang jauh-jauh. Sedangkan bagi kita yang pernah melakukan
kekeliruan tersebut diharapkan sadar, berubah untuk tidak mengulanginya lagi.
Mengapa demikian? Karena kekerasan akan menimbulkan luka baik secara fisik atau
psikis, sedangkan mendidik akan menumbuhkan sikap yang baik, sadar diri dan
bertanggu jawab. Oleh karena itu, seyogyanya guru bersikap bijaksana dalam
mendidik siswa agar tidak terjadi kekerasan.
Sebagai
manusia yang berpendidikkan, guru pasti mengetahui dampak negatif dari
kekerasan yang dilakukan dalam mendidik siswa. Akan tetapi, sampai saat ini
masih terdengar kabar, seorang guru memilih menggunakan kekerasan dalam
mendidik siswa. Hal tersebut terjadi karena kurang cerdas, kurang sabar, kurang
bijaknya seorang guru dalam menentukan cara yang efektif untuk mendidik siswa.
Maka guru memilih jalan pintas dengan melakukan kekerasan.
Ketika kekerasan dilakukan dalam rangka
mendidik sebenarnya hal tersebut bukan mendidik tapi merusak. Bukankah mendidik itu membangun atau
menciptakan tingkah laku yang baik bukan merusak? Mulai sekarang, mari kita
pisahkan antara kekerasan dalam mendidik. Mari kita katakana tidak untuk
kekerasan berbingkai mendidik yang akan berujung pada kerusakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar