Senin, 12 Oktober 2020

Mendidik Berbingkai Kekerasan

Oleh : NKITD

Setiap manusia membutuhkan didikan dari orang dewasa untuk mencapai kedewasaan. Didikan yang tepat akan menghantarkan kita menjadi manusia dewasa seutuhnya. Dewasa dalam arti bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.  Sebaliknya, apabila didikan yang kita dapatkan berbalut dengan kekerasan makan akan menciptakan manusia yang tidak memiliki kesadaran dan tidak bertanggung jawab,

Guru dapat dikatakan sebagai manusia dewasa yang bertugas mengajar dan mendidik siswa.  Adakalanya sebagai manusia, guru memiliki keterbatasan untuk menentukan sikap dalam mendidikan siswa. Alih-alih bersikap untuk mendidik tapi berujung pada tindak kekerasan. Misalnya, guru mendidik dengan cara pemberian hukuman berdiri di depan kelas, dijemur di lapangan,  main tangan dengan cara mencubit, menjewer, menampar dan lain-lain. Kita bisa lihat hukuman yang diberikan dalam rangka mendidik tersebut mengarah pada tindak kekerasan. Hal tersebut dilakukan dengan alasan klasik yaitu mendidik. Singkatnya, guru mendidik siswa dalam bingkai kekerasan.

Kita pribadi mengetahui bahwa kekerasan tidak sama dengan mendidik. Tapi, adakalanya sadar atau tidak kita berniat atau pernah melakukan hal tersebut. Sepatutnya sebagai manusia dewasa yang mempunyai pikiran dan wawasan yang luas maka niat tersebut harus dibuang jauh-jauh. Sedangkan bagi kita yang pernah melakukan kekeliruan tersebut diharapkan sadar, berubah untuk tidak mengulanginya lagi. Mengapa demikian? Karena kekerasan akan menimbulkan luka baik secara fisik atau psikis, sedangkan mendidik akan menumbuhkan sikap yang baik, sadar diri dan bertanggu jawab. Oleh karena itu, seyogyanya guru bersikap bijaksana dalam mendidik siswa agar tidak terjadi kekerasan.

Sebagai manusia yang berpendidikkan, guru pasti mengetahui dampak negatif dari kekerasan yang dilakukan dalam mendidik siswa. Akan tetapi, sampai saat ini masih terdengar kabar, seorang guru memilih menggunakan kekerasan dalam mendidik siswa. Hal tersebut terjadi karena kurang cerdas, kurang sabar, kurang bijaknya seorang guru dalam menentukan cara yang efektif untuk mendidik siswa. Maka guru memilih jalan pintas dengan melakukan kekerasan.

 Ketika kekerasan dilakukan dalam rangka mendidik sebenarnya hal tersebut bukan mendidik tapi merusak.  Bukankah mendidik itu membangun atau menciptakan tingkah laku yang baik bukan merusak? Mulai sekarang, mari kita pisahkan antara kekerasan dalam mendidik. Mari kita katakana tidak untuk kekerasan berbingkai mendidik yang akan berujung pada kerusakan.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar