Senin, 09 November 2020

Bumi dan Langit

Oleh :  NKITD 

FEB UHAMKA



Hujan basahilah bumi

Hujan penghubung rindu

Rindu bumi untuk langit

Rindu langit untuk bumi

 



Bumi dan langit

 

Hujan perekat kasih

Perekat kasih bumi untuk langit

Perekat kasih langit untuk bumi

 

Bumi dan langit

Yang tak bersatu

Namun berpadu

 

Kini Bumi dengan dunianya

Lalu Langit dengan dunianya

 

Kini Bumi dan Langit

Tak bersatu

Tak berpadu

 

Namun

Hanya miliki kisah lalu

Untuk petik hikma

Demi sikap terbaik dunia baru Bumi dan Langit

 Jakarta, 7 September 2019

 

Kala


 


Oleh : NKITD

Feb Uhamka


Kala bergerak cepat

Bergegas tinggalkan detik

Menit, hari, bulan dan tahun

 

Insan harapkan

Kala sebagai tanda hikma sang khalik

 

Insan harap

Memetik hikma dari kala

 

Namun kala seolah tak rela

Insan memetik dengan Cuma

 

Aku kira, kala inginkan insan

Temukan satu nokta kebenaran

Dalam firman sang khalik

Dan titah Baginda Rasulullah

 

Ketika itu kala tersenyum pada insan

Lantas rela beri hikma

Ditambah kedewasaan

Dan kebijaksanaa

 

Aksara Tertulis

 Oleh : NKITD

 

Ketika lisan tak terucap

Ketika ucap tak terdengar

Ketika telinga enggan menangkap ribuan kata melalui alat ucap

Jenuh dengan kata sama yang tak berjedah

Jenuh dengan ucap yang tak teruji keabsahannya

Jenuh dengan kata bercampur emosi jiwa

Ketika alat dengar dan alat ucap berbenturan dengan umur manusia

Ketika alat ucap tak abadi, Ketika alat dengar nisbih

Buku hadir sebagai wakil insan di bumi

Untuk menyebarkan ilmu dan informasi

Untuk berbagi kisah hidup pribadi dan pelajaran di muka bumi

Untuk berbagi pemikiran, ajakan, pengaruh dan argumentasi

Buku peninggalan abadi insan yang tergenggap oleh masa

Terbaca manusia di zaman yang berbeda

Terjaga dalam kertad dan tinta hitam.

Menghidupkan pemikiran yang mati

Dan membuka pemikiran yang mati

Bekasi, 13 Mei 2015

Ruang Itu

 

Oleh: NKITD


Kamu yang kokoh tak berbalut apapun

Sampai kamu yang kokoh berbalut warna-warni

 

Kamu yang beruang dua

Lalu beruang lima

Kemudian beruang delapan

 

Satu ruangmu mengusikku

Ruang  itu terekam ingat

 

Aku  rindu ruang itu

Bertanah, bersemen tanpa kerami putih, coklat, dan kuning.

 

Aku rindu satu ruangmu kala dulu

Ketika adzan magrib berkumandang

Enam sajadah terhampar di sana


Ketika lafal Ilahi terucap dan tertangkap indra pendengarku

Berlanjut dengan kata aamiin bersama 

Diakhiri dengan jabatan tangan penghapus noda kealfaan kala itu


Kini ruang itu beralih fungsi

Lafal ilahi tetap terucap dan terdengar namun tak bersamaan 

Sering terdengar sendirian dan berduaan 

Tak lebih dari itu



Edisi Revisi

Jakarta, 09 November 2020