Oleh : NKITD
“Anisa, kamu
pulang duluan aja ya? Aku mau ketemuan sama Mbak Asih.”
Iqlima berkata kepada Anisa yang sedang memakai sepatu di depan musolah setelah
shalat dzuhur.
“Oo gt. Mbak
Asih itu siapa?” Tanya Anisa sambil mengalihkan
padangannya ke wajah Iqlima.
“Mbak Asih, itu
loh, Nis, narasumber seminar sehari kemarin.”
Jawab Iqlima sambil mengikat tali sepatu sebelah kanannya.
“Oo, ko Mbak
Asih bisa kenal sama kamu.” Ucap Iqlima sambil
berdiri dan membenarkan jilbab putih yang dikenakannya.
“Ya, karena
kemarin pas seminar pertanyaanku paling bagus katanya. Makannya Mbak Asih inget
aku dan sms aku. Ok, Anisa. Aku duluan ya? Nanti tolong kasih tahu ibuku. Tadi
aku lupa kasih tau, soalnya mbak Anisa ngajak janjiannya mendadak si.”
Dengan antusian yang tinggi Iqima pun melangkah dengan pasti menuju gerbang
sekolah dan meninggalkan Anisa yang masih terpaku di depan musolah.
Anisa aneh dengan sikap Iqlima, terutama dengan
ajakan Mbak Asih kepada Iqlima. Mbak Asih adalah orang asing bagi mereka. Anisa
berkata dalam hati kecilnya, kenapa Iqlima tak mengajaknya untuk ikut. Anisa
tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.
***
Perkatannya mulai aneh ya. Itu adalah ucapan batin
Anisa saat mendengar Iqlima berkisah tentang perjalanan selama sehari kemarin
bersama Mbak Asih. Walaupun demikian, Anisa
tetap berusaha untuk mendengarkannya dengan seksama. Dengan ucapan yang
semangat Iqlima membicarakan pertemuannya dengan Mbak Asih.
“Ya Anisa, kita
harus berjihad melawan kemungkaran dengan tindakan yang tegas. Bla.. bla.. dan
bla… “ Iqlima mengucap panjang kali lebar,
Anisa mencoba untuk memahami maksud perkataan Iqlima.
\Anisa memotong dengan sebuah pertanyaan, “Kamu
tahu siapa ketuanya?”
Iqlima diam sejenak, wajah menunjukkan kesan tak
tahu pasti, Anisa mengetahui itu. Dan Iqlima pun berkata, “Mbak Asih bilang ya, belum waktunya aku tahu.” Anisa mulai curiga,
hati kecilnya berkata, “Aneh, masa nggak
tahu si siapa yang jadi ketuanya.” Iqlima mulai melanjutkan pembicaraannya,
“Tenang aja Anisa sebentar lagi aku tahu
ko. Aku harus naik tingkatan dulu ke tahap atas seperti Mbak Asih, baru aku
tahu siapa ketuanya.”
Anisa semakin curiga dan memberanikan diri untuk
berbicara secara perlahan agar Iqlima tak tersinggung denga ucapannya, “Iqlima, setidaknya setiap anggota dalam organisasi
pasti tahu, siapa ketuannya, ya seperti OSIS di SMA kita. Semua orang tahu Andi
ketua OSIS SMA kita. Lalu, mencurigakan sekali apabila kamu nggak tahu siapa
ketua organisasi yang kamu ikuti sekarang.”
Iqlima seolah tak mendengarkan ucapan Anisa.
Meskipun Anisa berkata sepeti itu Iqlima tetap punya argumen sehingga perkataan
Anisa, sepupu dekatnya terkalahkan oleh argumennya. Anisa tak punya cukup
kecerdasan untuk menjelaskan kepada Iqlima.
***
Anisa sedang menyapu halaman rumahnya. Kemudian, ibu
Iqlima pun menghampiri Anisa dan bertanya padanya dengan ekspresi wajah yang
cemas, “Anisa, kamu tahu Iqlima menginap
di rumah siapa?”
Anisa kaget mendengar hal tersebut. Iqlima menginap
tak seperti biasanya sepintas pikirannya berkata seperti itu. Ibu Iqlima
melanjutkan pertanyaannya untuk menyakinkan keraguan yang ada di wajah Anisa. “Ya, dia bilang mau pergi si tapi nggak
bilang mau ke mana?” Jawab Ibu Iqlima dengan nada khawatir.
“Ini sudah hampir
dua hari Anisa.” Lanjut Ibu Iqlima.
“Bude. Anisa
nggak tau Iqlima menginap di mana. Bude udah hubungi Iqlima?”
Tanya Anisa sambil mengajak Bude untuk duduk di ruang tamu.
“Bude udah
hubungi berkali-kali tapi hpnya nggak aktif, Nis. Malahan nanti malam Pakde
kamu udah pulang dari tugas dinasnya. Bude harus bilang apa ya?” Ucap
Ibu Iqlima dengan raut wajah kebingungan.
“Ya, Bude.
Nanti, Anisa coba hubungi teman-teman yang lain.”
Kata Anisa agar kecemasan Budenya hilang perlahan.
“Baiklah kalo
gitu, Nis. Nanti kabarin Bude ya?” Pinta Ibu
Iqlima sambil berdiri dan menggeser kursi jati.
Anisa khawatir maka ia menceritakan tentang obrolan
antara dia dan Iqlima beberapa hari yang lalu. “Bude, tunggu sebentar, Anisa ingat sesuatu.” Ucap Anisa.
“Apa itu, Nis?”
Tanya Bude sambil duduk kembali.
“Dua hari yang
lalu Iqlima pernah cerita tentang jihad, Bude.” Ungkap
Anisa sambil memandang kedua bola mata Budenya.
Anisa menceritakan dari awal sampai akhir semua pembahasan
yang disampaikan Iqlima. Ibu Iqlima menyimak dengan seksama. Mendengar hal
tersebut Ibu Iqlima yang biasa dipanggil Bude oleh Anisa, semakin cemas
mendengar cerita itu. Anisa berusaha untuk menguatkan hati Budenya.
***
Anisa bergegas ke rumah Iqlima untuk mengetahui
keadaan Iqlima setelah dua hari pergi tanpa kabar. Sesampainya di rumah Iqlima,
dia melihat Iqlima sedang duduk di ruang tamu bersamaa ayah dan ibunya. Ia
masuk dan duduk di sebelah Iqlima. Ayah Iqlima mengatakan dengan tegas bahwa
organisasi yang Iqlima ikuti dua hari kemarin adalah organisasi illegal yang
pada akhirnya akan menanamkan pemahaman jihad secara radikal.
Anisa mendengarkan baik-baik ucapan ayah Iqlima
sambil sesekali melihat Iqlima. Anisa khawatir Iqlima terlampau memahami ajaran
radikal yang ditanamkan oleh organisasi tersebut. Iqlima hanya diam seribu
bahasa dan menunjukkan padangan mata yang bingung. Anisa dapat melihatnya
dengan jelas. Ibu Iqlima juga menyadari hal itu maka dengan nada yang lebih
halus ibu Iqlima menambahkan ucapan suaminya. Dengan nada hati-hati ibu Iqlima
mulai menjabarkan kembali apa yang diucapkan oleh suaminya. Iqlima pun masih
diam.
Aku semakin khawatir dengan psikologis Iqlima.
Setelah ayah dan ibunya selesai, Iqlima pun mulai angkat bicara, mencoba
menjelaskan bahwa organisasi itu bertujuan amal maruf nahi mungkar. Ayah Iqlima
yang sudah tahu asam garam organisasi kembali menegaskan kepada Iqlima bahwa
organisasi tersebut menanamkan pemahaman jihad secara radikal dengan berujung
pada bom bunuh diri.
Ayah Iqlima meminta kepada Tara untuk mengambil
papan tulis di ruang kerjanya kemudian menjelaskan tentang asal mula orgAnisasi
tersebut. Iqlima dan aku memperhatikan dengan seksama. Iqlima pun mencoba untuk
mengerti penjelasan ayahnya. Aku masih khawatir karena wajah Iqlima tak
menunjukkan kesan memahami secara penuh penjelasan ayahnya.
***
“Iqlima, kamu
baik-baik ajakan?”
Tanya Anisa dengan cemas.
“Entalah, Nis.”
Jawab Iqlima singkat.
“Kamu nggak
benar-benar menyakini pemahaman yang diajarkan oleh organisasi tersebut kan?”
Tanya Anisa dengan hati-hati.
“Aku bingung,
Nis.” Jawab Iqlima dengan nada tak mengerti.
“Bingung kenapa?”
Ucap Anisa.
“Ya, ko ada ya
pemahaman seperti yang diajarkan Mbak Asih. Kenapa harus seperti itu? Kenapa
islma tak benar- benar bisa bersatu. Kenapa begitu banyak perpecahan yang ada?
Akibatnya kamu bisa lihat sendiri kan Nis, Umat islam kita jadi lemah dan
terjajah oleh perpecahan itu? Kenapa organisasi itu mengatakan umat islam lain
menjual dengan harga yang murah. Padahal dia sendiri yang menjual dengan harga
yang murah.” Tanya Iqlima.
Anisa seolah tak cukup mampu untuk menjawab
pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh Iqlima. Ia hanya bisa diam sejenak dan
tersenyum memandang Iqlima. Ekspresi wajah, Anisa membuat Iqlima memahami bahwa
semua akan baik-baik saja dan kamu pasti akan menemukan jawabannya sendiri.
***
Kejadian itu membuat Bude memberikan amanat kepada
Anisa.
“Anisa, Bude
titip Iqlima ya? Walaupun Bude tahu, ini adalah universita swasta dibawah
naungan sang pencerah dan dulu Pakdemu mendapat gelar sarjana di sana. Namun, Bude
masih merasa khawatir karena kejadian tempo hari yang meinpa Iqlima.”
Ungkap Ibu Iqlima dengan terus terang.
“Ya, Bude, Nisa
mengerti. Sebenarnya, Nisa mau pidah jurusan tapi nanti tidak satu tempat
dengan jurusan Iqlima. Nisa, akan urungkan niat untuk pindah Bude agar nisa
bisa tahu aktivitas Iqlima.” Jawab Anisa.
***
“Acara
Perkenalan kampus ya, seru, Iqlima.”
Ucap Anisa ketika di dalam bus saat perjalan pulang.
“Ya. Nggak
nyangka acaranya bakal selama ini. Perkenalan kampus dua hari dan ada acara
perkenalan dasar-dasar Islam selama tiga hari.”
Jawab Iqlima dengan semangat 45.
“Ini pengalaman
yang menakjubkan. Ya, setidaknya aku merasa lebih baik berada di universitas
ini walaupun bukan negeri.” Lanjut Anisa sambil
menunjukkan wajah murung sejenak.
“Udah,
universitas yang kita pilih nggak kalah ko sama universitas negeri impianmu di
Jakarta Timur, Nis.” Hibur Iqlima.
Perkenalan kampus dan perkenalan dasar-dasar islam di
bawah panji hijau sang pencerah di universitas swasta favorit berwarna unggu yang
berpusat di Kebayoran Baru menambah pemahaman
Iqlima dan Anisa tentang Islam yang sesungguhnya. Mereka, kini lebih memahami
dan mengetahui dalil naqli tentang ibadah. Mereka merasa sudah seharusnya umat
islma mengetahui dalil sebelum menjalankan perintah Allah Swt.
Perkenalan dasar-dasar Islam yang diusung oleh
organisasi Islam di universitas tersebut
adalah “Islam for Peace and
Humanity”. Iqlima dan Anisa sangat tertarik dengan tema yang diusung
tersebut. Melalui tema itu mereka benar-benar memahami bahwa ajaran Islam yang
sebenarnya adalah rahmatan lilalamin
(rahmat bagi semesta alam).
Kegiatan awal di panji sang pencerah membuat Iqlima mampu
menjawab segala pertanyaan yang dahulu dilontarkan kepada Anisa. Pertanyaannya
yang membuatnya bingung dan tak habis pikir tentang pemahaman yang dianut oleh
organisasi dahulu. Kini, panji sang pencerah melalui nuansa unggu kembali
membuka pemikiran dan pemahan baru bagi Iqlima bahwa ajaran islam yang
sebenarnya itu bersifat modern dan berkemajuan yang akan selalu sejalan dengan
perkembangan zaman. Bukan islam yang egoistis dan mengedepankan kekerasan,
terorisme yang berujung pada bom bunuh diri.
Bekasi,
26 Mei 2015




Tidak ada komentar:
Posting Komentar