Selasa, 25 September 2018

Intan







Oleh : NKITD

Sudah lama aku tak melihatnya dan berbicara padanya. Ya, dia seorang gadis yang sederhana, berwajah manis, berjilbab sebagaimana gadis kebanyakan berjilbab, dan satu hal yang menjadi cirri khas di antara gadis yang lain, yakni dia adalah satu dari beberapa gadis yang menggunakan rok. Aku sama sekali tak pernah melihat ia menggunakan celana panjang. Ya, aku ingat hanya sekali, itu pun mungkin karena terpaksa.

“Harun, harun, kamu tuh emang pecinta perempuan ya.” Ucap Adit sambil berlari perlahan.

“Siapa, aku? masa si.” Jawab harun dengan santai sambil mendahului langkah kaki adit berlari.

“Nggak usah deh, kamu liatin si Intan.” Lanjut Adit dengan nafas terengah-engah lelah karena badannya yang over sambil mengelap tangan ke wajahnya yang penuh dengan keringat.

“Emang kalo gua liat si Intan salah ya, gua aneh aja, baru kali ini gua liat si intan pake celan?” Elak Harus sambil cengengesan.

“Tuh kan bener, sebegitu perhatiannya loe sama si Intan.” Tegas Adit.

“Udahlah brow, nggak usah dibahas mendingan kita balapan lari aja.” Pinta Harun.

Dalam hati Harun berkata, “Sial, ketebak gua sama si Adit.”



Harun pun berlari mendahului Adit serta rombongan gadis yang berlari perlahan di depan mereka termasuk Intan dan kawan-kawannya yang seragam mengenakan jilbab. Lari pagi di pelabuhan ratu ini adalah peristiwa langka karena ini merupakan satu kegiatan dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di universitas. Itu adalah awal aku benar-benar memperhatikan Intan, gadis manis berjilbab itu. Setelah itu, aku semakin tertarik dengannya dan berusaha untuk mendekatinya di rapat UKM, dan tentunya di perpustakaan. Intan termasuk gadis cerdas yang suka membaca di perpustakaan universitas kami.

“Intan, lagi cari buku ya?” Tanya Harun sambil mengambil buku yang ada di samping intan.

“Ya. Aku lagi cari buku referensi untuk makalah tugas kelompok pak Zaenal. Kamu juga dapat tugas kelompok juga kan?” Jawab intan sambil membuka buku yang ia pegang.

“Ya, aku juga ada tugas. Tapi belum selesai si? Paling juga besok aku ngerjain bareng anak-anak.” Ucap Harus sambil membuka buku yang ia ambil tadi.

“Kamu dapat pembahasan materi apa untuk dipresentasikan.” Tanya Intan sambil membaca sekilas buku yang ia pegang.

“Aku lupa, Intan. Besok aku kasih tau kamu dah. Oia, ada tugas individu juga kan dari pak Jaja.” Ungkap Harun sambil meletakan buku yang ia pegang ke rak buku

“Ya, benar. Pecan depan dikumpulkan bukan?” Jawab Intan yang masih asik membaca sekilas bagian belakang buku yang ia pegang.

“Ya. Aku belum selesai, Tan. Kamu bisa bantu aku nggak?” Pinta Harun

“Ehm, ok aku bisa tapi Cuma 1 jam ya, Run. Soalnya aku harus segera pulang.” Jawab Intan seolah berpikir panjang.

“Ok. Aku bawa bukunya, betar ya, aku ambil dulu di loker.” Ucap harus.



Itu adalah kesempatan emas yang didapatkan Harun. Ia pun merasa senang. Satu jam kebersamaan mereka. Haru mengetahui sesuatu yang baru tentang Intan. Dan itu membuat harun lebih tertarik pada Intan.

“Sini dah Intan, coba kamu liat di notebookku, benar nggak kaya gini.” Pinta Harun kepada Intan yang sedang duduk di sebelah harun.

“Ok, aku liat. Oia, harun, maaf, tangan kamu. Aku mau pegang mouse kamu.” Ucap Intan.



Harun cukup terkejut dengan sikap Intan. Biasanya teman gadisnya tak akan berbicara seperti itu, mereka pasti langsung memegang tangan harun.

***

Harun hampir putus asa karena usaha yang ia lakukan untuk mendekati Intan seolah sia-sia. Padahal, dengan terang-terangan ia menunjukkan sikap yang berbeda untuk Intan. Namun, Intan seolah pura-pura tak mengerti. Itulah yang ditanggkap oleh Harun. Walaupun demikian, ia belum memutuskan untuk menyerah dalam satu kesempatan acara klub belajar di tingkat jurusan, ia berhasil mendapatkan no hp Intan dan tentunya jejaring sosial Intan di dunia maya. harun berkomunikasi via jejaring sosial Intan terlebih dahulu dan tanggapan positif yang ia dapatkan. Kemudian, ia beralih untuk sms Intan. Akan tetapi, seolah balasan sms Intan membuat Harun marah.



Harun teramat marah kepada Intan. Untuk pertama kalinya, ia menganggap Intan tak ada. Harun tau, itu membuat senyum diwajah manis Intan sekejap berubah menjadi bingung tapi harun tak peduli. Kata-kata sms Intan semalam membuatnya marah. Sampai club belajar selesai, harun seolah menjauh dari Intan. padahal sebelumnya, harun selalu mendekati intan.

***

Harun masih marah kepada Intan. padahal hari ini ada acara peringatan untuk club belajarnya yaitu pentas seni di depan kampus dengan dana seadanya dan kreativitas sebanyak jumlah anggota clubnya. Sebenarnya, harun sebel sekali tapi kali ini ia harus benar-benar berkomunikasi dengan Intan. Kini, Intan ada di hadapannya maka harun tak ada pilihan selain bicara pada Intan agar acara pentas tersebut sukses.

“Intan, kamu nggak baca smsku tadi?” Tanya Harun ketus.

“Sms, apa? Aku nggak terima sms dari kamu.” Jawab Intan polos.

“Tuh liat aku sms kamu.” Tegas harun sambil menunjukkan hp ke depan mata Intan.

“Ooo, ya. Tapi nggak ada di aku ya?” Tanya Intan heran.

“Ini nomor kamukan?” Ucap Harun sambil menunjukkan no hp yang ada di ponselnya.

“Bukan. Pinjam bentar ya hpnya.” Ucap intan sambil mengambil ponsel yang dipegang Harun.



Wajah Harun pun semakin bingung. “Lalu aku salah sms ceritanya,” ucap harun dalam hati.

“Ini bukan nomor aku. ini nomor aku  yang aku save di ponselmu.” Ucap Intan sambil menunjukkan nomornya yang berada di ponsel Harun.



Wajah muram harun berubah menjadi cerah dan senyum sipu pun kini menghiasi wajah putihnya. “Ini nomor Intan, teman sekelasku.” Jawab Harun dengan wajah memerah.

“Jadi kamu salah sms ya, Run?” Ucap Intan.

“Ya.” Jawab Harun.

Intan seolah tak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang ia tau, kini pertemanan dengan harun membaik. Insiden kesalah pahaman itu, membuat harun semakin suka dengan sikap Intan. Seharusnya, Intan marah dengan sikap kekanak-kanakan harun tapi tidak.

***

Harun semakin berharap hubungan pertemanan dengan Intan berubah menjadi lebih dari teman. Maka, ia berusaha mencari peluang. Jadwal kuliah yang padat dan ketidak sekelasan Harun dan Intan menjadi kendala utamanya. Hal itu membuat mereka jarang untuk bertemu. Akhirnya kesempatan itu datang, UKM mengadakan acara keluar kota sebagai usaha untuk mempererat tali silaturahmi anggota yang agak renggang. Karena itu, kini Harun dan Intan ada di daerah pegunungan bersama teman satu jurusan. Ia pun mulai mendekati Intan yang sedang berjalan di halaman vila. Intan, tunggu sebenatr. Ucap harun sambil mendekati Intan

“Ya, ada apa, Run?” Tanya Intan sambil memegang kertas yang ada di tangannya.

“Kamu belum makan kan? Kita cari makan yuk?” Pinta Harun.

“Cari makan di mana, Run?” Jawab Intan.

“Cari makan di luar villalah.” Ucap harun sambil cengengesan.



Bentar ya, aku harus ngurus ini. ungkap Intan sambil mengangkat kertas yang ia pegang. Intan terus berjalan kea rah Villa dan Harun terpaku mendengar ucapan Intan. Keberanian untuk mengajak Intan lagi seolah hilang, harun merasa jengkel dan berusaha untuk membuat Intan cemburu dengan mendekati teman gadis lain di UKM tersebut. Intan seolah tak mengerti dengan sikap harun karena ketidakpekaannya.

***



Banyak hal yang telah Harun usahakan untuk dekat dengan Intan. tetapi usaha tersebut belum membuahkan hasil. Harun berusaha untuk membiasakan rasa yang terlanjur ada untuk Intan. lalu momen ini pun terjadi. Momen di pertigaan jalan raya menuju universitas. Momen yang membuat harun yakin bahwa Intan juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Pertigaan jalan menjadi saksi bisu pertemuan tak terduga mereka. Adit yang sedang asik makan ketoprak seolah heran melihat perilaku teman karibnya ini. Harun mengucapkan kata “Intan” dengan nada terkejut seolah satu tahun tak bertemu dengan gadis itu. Begitu pula, Intan mengucapkan kata “Harun” dengan nada terkejut seolah satu abad tak bertemu. Waktu saat itu bagi mereka bagaikan berjalan dengan perlahan. Najwa yang berada disebelah Intan juga merasakan keheranan yang sama karena perilaku Intan dan Harun.

“Kalian lagi apa?” Itu pertanyaan spontan yang terucap oleh Harun.

“Kami dari perpustakaan taman di sana.” Jawab Intan sambil menunjuk kea rah taman.

“Kalian lagi makan apa?” Tanya Intan dengan nada gugup.

“Kami lagi makan ketoprak ni.” Jawab Adit

“Kami duluan ya.” Ucap Intan.

***

“Kamu kenapa, Tan? Ekspresi dan ucapan kamu aneh pas nyebut nama ‘Harun’ tadi. Kayanya ada bunga-bunga cinta nih.” Goda Najwa sambil berjalan beriiringan dengan Intan menuju kampus.

“Nggak apa-apa, Wa.” Ucap Intan seakan menutupi sesuatu.

“Kalian aneh. Seperti ada sesuatu, kaya ada cemisteri gitu.” Ungkap Najwa.

“Kamu bisa aja.” Ucap Intan.

***

“Harun, kenapa loe. Sok cool gitu Cuma nyebut nama ‘Intan’.” Tanya Adit sambil cekikikan

“Emang gua cool.” Jawab Harun.

“Loe jangan ngarep sama Intan, Mas Brow. Soalnya si Intan tuh tipe cewe yang nggak kenal yang namanya pacara. Dia tuh maunya langsung nikah tau.” Tegas Adit

“Benarkah itu?” Tanya Harun penasaran.

“Ya, temen gua yang namanya Edo juga suka sama si Intan tapi ya gitu dicuekin abis.” Jelas Adit kepada Harun.

“Pantas saja”, ucap Harun dalam hati.

_Selesai_

Bekasi, 13 Mei 2015







Vespa Kala Senja


Oleh : NKITD

Vespa unik tempo dulu terjajar rapi di depa halaman. Aku tak tahu vespa itu keluaran tahun berapa? Mungkin tahun 80-an. Berkat keahlian si babeh dalam memodifikasi motor maka vespa tersebut terlihat lebih cantik dan bisa digunakan. Padahal,  babeh membeli vespa itu dengan harga yang murah dengan kondisi bodi yang kusam dan berkarat. Selain jago mendesai rumah, si Babeh jago dalam memodifikasi motor termasuk vespa. Dan kehlian itu diturunkan kepada adik laki-lakiku Toriq. Sedangkan aku dan tiga saudara lainnya tak ahli dalam hal tersebut.

Babehku memang suka mengoleksi motor antik, termasuk vespa dan moge. Tak heran kalau di depan rumah ada dua atau tiga vespa dan satu moge jadul terjajar rapi. Aku mendengar ada satu moge lagi tapi moge itu berada di kantor si babeh. Sebenarnya, babeh tak berniat untuk mengoleksi motor dengan tipe tersebut. Babeh hanya suka membeli motor dengan tipe tersebut untuk dimodifikasi dengan tangannya sendiri. Mendempul dan memberikan warna pada bodi vespa adalah satu hobi babehku. Jika ia memiliki waktu luang maka ia akan mengerjakannya sendiri. Itu juga kalau keadaan mesin vespa atau moge itu dalam keadaan baik-baik saja. Kalau mesin vespa atau moge itu harus turun mesin maka babeh menyerahkan tugas itu pada bengkel khusus motor antik langganannya. Maklum motor antik tempo dulu biasanya selalu bermasalah dengan mesinnya.

Kadang, ibuku suka mengeluh kepadaku dan babeh. Ia mengatakan mengapa babeh hanya memperhatikan vespa dengan dempulan dan pilok untu mempercantik body vespa. Ia juga dengan iseng mengatakan bahwa ayah vespa mulu yang dibeliin dempul, ibu dong beliin dempul. Ayah menjawab dengan santai bahwa wajah ibu sudah cantik jadi tak perlulah beli dempulan. Aku akui ibu memang cantik, lebih cantik dari tiga anak perempuannya. Teman zaman SMA-ku juga mengakui kecantikannya. Teman SMA-ku mengatakan dengan terang-terangan, ibuku lebih cantik dari pada anaknya. Ibuku tersenyum mendengar hal itu dan mengatakan cantik ibukan dibagi tiga dan temen kamu ada-ada aja.

Babehku memang beruntung mendapatkan istri seperti ibuku. Ibuku sudah cantik, baik hati, penurut dan tidak macam-macam. Walaupun sekarang lebih banyak bicara dibandingkan dengan masa sekolah. Sejak memiliki anak, sifat pendiam ibuku memudar. Dapat dikatakan, kebutuhan sehari-hari anak telah membuat ibuku berani bersuara lantang. Kalau tidak seperti itu maka babehku kadang lupa diri. Babehku tipe orang yang royal dengan teman dan hobinya.

Apabila ada seseorang yang berminat untuk membeli vespa maka si babeh akan menjualnya. Tentunya jika harga pembelian vespa sesuai dengan kesepakatan, jika tidak maka babeh membiarkan vespa terjajar rapi di depan rumah kami. Setelah menjualnya maka ia akan membeli vespa lagi. Tidak semua vespa dijual karena babeh dan adikku suka mengendarai vespa.

Tersisalah tiga vespa di rumah kami. Satu dipakai ayah untuk pergi ke kantor. Dan satu vespa lagi dipakai untuk adikku yang kuliah PP (pulang pergi) dari rumah ke kampus. Lumayanlah dari kabupaten ke kota Jakarta. Perjalan yang cukup panjang dan melelahkan. Dengan segala kemungkinan baik dan kurang baik. Maklum vespa kadang bermasalah dengan mesinnya.

Walaupun demikian, vespa itu memang unik. Begitupula pemiliknya, unik sekali. Aku pernah mendengar cerita dari adikku bahwa jadi pengendara vespa itu lebih enak sekali dibandingkan dengan pengendara motor lain. Alasannya adalah pertolongan akan selalu didapatkan oleh pengendara vespa ketika ia mengalami masalah dengan mesin vespa dari pengendara vespa lainnya. Unik sekalikan. Dan hal itu tidak akan terjadi kalau kita menggunakan motor biasa. Vespa memang luar biasa, dengan segala keunikan bodi, perawatan dan pemiliknya.

Alasan keunikan itulah yang medorong hati dan diri ini untuk belajar mengendarai vespa. Heheheh itu Cuma alasan klasik. Alasan sesungguhnya adalah hanya vespalah kendaraan yang menganggur di rumahku dan cocoklah untuk aku pakai saat ini. Aku berpikir, keren sekali rasanya, ketika seorang perempuan dapat mengendarai vespa. Disamping itu, pengendara vespa tak terlalu diperhitungkan apabila ada penilangan pak polisi.

Berawal dari senja yang memerah, aku belajar vespa di halaman rumahku yang sempit. Sebelumnya, adik dan babehku memberikan pengarahan mengenai bagaimana caranya mengendarai vespa. Sebenarnya aku ragu tapi aku harus berani mencoba. Kalau tak sekarang, kapan lagi. Maka dari itu aku hilangkan rasa ragu itu dengan tekat yang kuat.

Halaman rumahku kecil ada beberapa tanaman hijau yang berdampingan dengan jendela ruang tamu rumahku. Halaman yang tidak berumput tapi bersemen. Dua vespa hitam abu-abu dan coklat loreng-loreng berjajar rapi di samping jendela.

Jendela rumahku menghadap selatan dan pintu utama rumahku menghadap barat. Sebenarnya halaman ini milik bersama karena  beberapa meter dari halaman mini terdapat rumah minimalis tanpa gerbang. Posisi vespaku mengarah ke rumah minimalis itu. Pintu rumah berwarna biru itu kebetulan terbuka lebar karena pemiliknya adalah saudaraku. Sebelum aku mulai mengendarai vespa, aku sempat mengobrol dengan saudaraku tentang kesibukanku sehari-hari. Lalu, ia pergi untuk menemui anaknya yang sedang bermain.

Setelah itu, aku mulai mengaplikasikan instruksi yang telah diberikan babeh dan adikku. Aku mulai duduk di atas jok vespa, mereka berada di sebelah kiriku dan masih memberikan instruksi dan informasi mengenai gas, gigi, pedal dan rem. Aku mencoba untuk memahaminya. Agak rumit memang, gigi satu untuk …  gigi dua untuk … dan gigi tiga untuk ….

Ini adalah kali pertama aku belajar motor dan aku memilih belajar untuk mengendarai vespa. Di halaman yang sempit. Aku sudah duduk di atas jok vespa dan mencoba untuk memegang gas tanpa menyalahkan mesi vespa. Aku coba untuk bermain dengan gas dan mengeremnya. Itulah yang aku lakukan sambil mendengarkan istruksi dari babeh dan adikku.

Dengan menyebut asmaNya, aku mulai menginjak pedal untuk menyalahkan mesin vespa. Namun, aku tak berhasil maka adikkupun membantu agar mesin vespa itu menyalah. Pedal telah berhasil dinyalahkan lalu gigi mulai diinjak, dan aku pun mulai memegang gas. Aku mulai menarik gas dengan tangan kananku. Tanganku terlalu kuat memegang gas tersebut. aku  berubah menjadi panik mendengar suara yang dihasilkan dari pengangan gas tangan kananku. Aku tak mampu mengendalikan vespa dan lupa untuk memegang rem. Aku pun mulai berteriak ketakutan.

Babeh yang berada di samping kiriku berusaha untuk menahan agar vespa tak terus melaju dengan  kaki kanannya. Akan tetapi, vespa tak berhasil dihentikan, ban vespa hanya meluncur tanpa dosa di atas kaki kanan babehku. Babehku berteriak agar aku mengerem. Tapi, aku terlampau panik dan tak bisa mengerem. Aku bingun dan mengankat tanganku ke atas. Vespa terus melaju ke arah pintu rumah minimalis itu dan meninggalkan diriku yang jatuh duduk. Dengan sigap adikku mengejar laju vespaku dan langsung mengambil posisi di depan vespa beberapa cm. kemudian, ia menahan vespa dengan tangan dan kakinya. Dengan izin Allah Swt, vespanyapun berhasil diselamatkan.

Vespa berhenti tepat di depan pintu rumah saudaraku. Aku masih sock dengan kejadian tersebut. Aku mencoba mengendalikan diri dan mengembalikan kesadarankulagi. Aku berdiri dan langsung melihat ke arah babehku. Dan mataku langsung tertuju pada kaki kanan yang telah menahan laju ban vespa. Aku melihat ada luka di sana. Luka yang cukup serius. Aku lihat kulit yang membungkus punggung kaki kanan babehku terkelupas, ada warna merah muda di sana.

Lalu, ku tengok adikku yang ada beberapa cm dariku. Aku lihat celannya sobek dan sobekan itu membuat aku tahu bahwa paha kirinya berdarah sepertinya cukup parah. Aku bingung dan mengatakan maaf. Babehku mengatakan parah ini bocah. Babeh segera memanggil adikku yang lain untuk membeli obat. Sedangkan adikku mengatakan aduh vespa gua.

  Vespa telah selamat dan meninggalkan dua luka pada punggung kaki kanan Babeh dan paha kiri adikku. Luka yang cukup membuat aku khawatir dan merasa bersalah. Dengan izin Allah Swt, aku baik-baik saja. Ya, fisikku baik-baik saja sedangkan hatiku tidak demikian. Aku merasa amat sangat bersalah karena kecerobohanku telah membuat luka bersemanyat dalam fisik Babeh dan adikku. Maaf, hanya itu yang terucap dalam bibir dan hatiku.

Aku begitu naïf dan lupa bahwa aku bukanlah tipe orang yang mudah cepat tdan tanggap dalam menerima informasi. Ya, aku memang salah perkiraan. Dan kesalahan perkiraan ini membuat seseorang yang aku kasihi terluka. Rasanya, lebih baik aku yang terluka sendiri daripada melihat babeh dan adikku terluka karena itu amat sangat menyakitkan.

Tragedi vespa di senja itu, membuat babeh dan adikku beristirahat di rumah selama beberapa hari. Ibu tak menyalahkanku atas kejadian itu, ia mengatakan takapa-apalah karena kejadian itu, si babeh dapat beristirahat di rumah. Selama beberapa hari, aku merasa bersalah.

Aku berpikir melihat ayah terluka fisik amat sangat menyakitkan. Bagaimana dengan luka hati? Luka fisik mungkin bisa sembuh dalam beberapa hari tapi luka hati. Siapa yang bisa memastikan. Kejadian ini membuat aku semakin menjaga diri agar bersikap dan berkata yang sewajarnya saja terhadap babeh dan tentunya ibu. Karena kita tak tahu kata dan sikap mana yang bisa melukai hati mereka.
































Satu Cahaya Keimanan









Oleh : NKITD

“Anisa, kamu pulang duluan aja ya? Aku mau ketemuan sama Mbak Asih.” Iqlima berkata kepada Anisa yang sedang memakai sepatu di depan musolah setelah shalat dzuhur.

“Oo gt. Mbak Asih itu siapa?” Tanya Anisa sambil mengalihkan padangannya ke wajah Iqlima.

“Mbak Asih, itu loh, Nis, narasumber seminar sehari kemarin.” Jawab Iqlima sambil mengikat tali sepatu sebelah kanannya.

“Oo, ko Mbak Asih bisa kenal sama kamu.” Ucap Iqlima sambil berdiri dan membenarkan jilbab putih yang dikenakannya.

“Ya, karena kemarin pas seminar pertanyaanku paling bagus katanya. Makannya Mbak Asih inget aku dan sms aku. Ok, Anisa. Aku duluan ya? Nanti tolong kasih tahu ibuku. Tadi aku lupa kasih tau, soalnya mbak Anisa ngajak janjiannya mendadak si.” Dengan antusian yang tinggi Iqima pun melangkah dengan pasti menuju gerbang sekolah dan meninggalkan Anisa yang masih terpaku di depan musolah.

Anisa aneh dengan sikap Iqlima, terutama dengan ajakan Mbak Asih kepada Iqlima. Mbak Asih adalah orang asing bagi mereka. Anisa berkata dalam hati kecilnya, kenapa Iqlima tak mengajaknya untuk ikut. Anisa tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

***



Perkatannya mulai aneh ya. Itu adalah ucapan batin Anisa saat mendengar Iqlima berkisah tentang perjalanan selama sehari kemarin bersama Mbak Asih. Walaupun demikian,  Anisa tetap berusaha untuk mendengarkannya dengan seksama. Dengan ucapan yang semangat Iqlima membicarakan pertemuannya dengan Mbak Asih.

“Ya Anisa, kita harus berjihad melawan kemungkaran dengan tindakan yang tegas. Bla.. bla.. dan bla… “ Iqlima mengucap panjang kali lebar,

Anisa mencoba untuk memahami maksud perkataan Iqlima. \Anisa memotong dengan sebuah pertanyaan, “Kamu tahu siapa ketuanya?”

Iqlima diam sejenak, wajah menunjukkan kesan tak tahu pasti, Anisa mengetahui itu. Dan Iqlima pun berkata, “Mbak Asih bilang ya, belum waktunya aku tahu.” Anisa mulai curiga, hati kecilnya berkata, “Aneh, masa nggak tahu si siapa yang jadi ketuanya.” Iqlima mulai melanjutkan pembicaraannya, “Tenang aja Anisa sebentar lagi aku tahu ko. Aku harus naik tingkatan dulu ke tahap atas seperti Mbak Asih, baru aku tahu siapa ketuanya.”

Anisa semakin curiga dan memberanikan diri untuk berbicara secara perlahan agar Iqlima tak tersinggung denga ucapannya, “Iqlima, setidaknya setiap anggota dalam organisasi pasti tahu, siapa ketuannya, ya seperti OSIS di SMA kita. Semua orang tahu Andi ketua OSIS SMA kita. Lalu, mencurigakan sekali apabila kamu nggak tahu siapa ketua organisasi yang kamu ikuti sekarang.”

Iqlima seolah tak mendengarkan ucapan Anisa. Meskipun Anisa berkata sepeti itu Iqlima tetap punya argumen sehingga perkataan Anisa, sepupu dekatnya terkalahkan oleh argumennya. Anisa tak punya cukup kecerdasan untuk menjelaskan kepada Iqlima.

***



Anisa sedang menyapu halaman rumahnya. Kemudian, ibu Iqlima pun menghampiri Anisa dan bertanya padanya dengan ekspresi wajah yang cemas, “Anisa, kamu tahu Iqlima menginap di rumah siapa?”

Anisa kaget mendengar hal tersebut. Iqlima menginap tak seperti biasanya sepintas pikirannya berkata seperti itu. Ibu Iqlima melanjutkan pertanyaannya untuk menyakinkan keraguan yang ada di wajah Anisa. “Ya, dia bilang mau pergi si tapi nggak bilang mau ke mana?” Jawab Ibu Iqlima dengan nada khawatir.

“Ini sudah hampir dua hari Anisa.” Lanjut Ibu Iqlima.

“Bude. Anisa nggak tau Iqlima menginap di mana. Bude udah hubungi Iqlima?” Tanya Anisa sambil mengajak Bude untuk duduk di ruang tamu.

“Bude udah hubungi berkali-kali tapi hpnya nggak aktif, Nis. Malahan nanti malam Pakde kamu udah pulang dari tugas dinasnya. Bude harus bilang apa ya?” Ucap Ibu Iqlima dengan raut wajah kebingungan.

“Ya, Bude. Nanti, Anisa coba hubungi teman-teman yang lain.” Kata Anisa agar kecemasan Budenya hilang perlahan.

“Baiklah kalo gitu, Nis. Nanti kabarin Bude ya?” Pinta Ibu Iqlima sambil berdiri dan menggeser kursi jati.

Anisa khawatir maka ia menceritakan tentang obrolan antara dia dan Iqlima beberapa hari yang lalu. “Bude, tunggu sebentar, Anisa ingat sesuatu.” Ucap Anisa.

“Apa itu, Nis?” Tanya Bude sambil duduk kembali.

“Dua hari yang lalu Iqlima pernah cerita tentang jihad, Bude.” Ungkap Anisa sambil memandang kedua bola mata Budenya.

Anisa menceritakan dari awal sampai akhir semua pembahasan yang disampaikan Iqlima. Ibu Iqlima menyimak dengan seksama. Mendengar hal tersebut Ibu Iqlima yang biasa dipanggil Bude oleh Anisa, semakin cemas mendengar cerita itu. Anisa berusaha untuk menguatkan hati Budenya.

***



Anisa bergegas ke rumah Iqlima untuk mengetahui keadaan Iqlima setelah dua hari pergi tanpa kabar. Sesampainya di rumah Iqlima, dia melihat Iqlima sedang duduk di ruang tamu bersamaa ayah dan ibunya. Ia masuk dan duduk di sebelah Iqlima. Ayah Iqlima mengatakan dengan tegas bahwa organisasi yang Iqlima ikuti dua hari kemarin adalah organisasi illegal yang pada akhirnya akan menanamkan pemahaman jihad secara radikal.

Anisa mendengarkan baik-baik ucapan ayah Iqlima sambil sesekali melihat Iqlima. Anisa khawatir Iqlima terlampau memahami ajaran radikal yang ditanamkan oleh organisasi tersebut. Iqlima hanya diam seribu bahasa dan menunjukkan padangan mata yang bingung. Anisa dapat melihatnya dengan jelas. Ibu Iqlima juga menyadari hal itu maka dengan nada yang lebih halus ibu Iqlima menambahkan ucapan suaminya. Dengan nada hati-hati ibu Iqlima mulai menjabarkan kembali apa yang diucapkan oleh suaminya. Iqlima pun masih diam.

Aku semakin khawatir dengan psikologis Iqlima. Setelah ayah dan ibunya selesai, Iqlima pun mulai angkat bicara, mencoba menjelaskan bahwa organisasi itu bertujuan amal maruf nahi mungkar. Ayah Iqlima yang sudah tahu asam garam organisasi kembali menegaskan kepada Iqlima bahwa organisasi tersebut menanamkan pemahaman jihad secara radikal dengan berujung pada bom bunuh diri.

Ayah Iqlima meminta kepada Tara untuk mengambil papan tulis di ruang kerjanya kemudian menjelaskan tentang asal mula orgAnisasi tersebut. Iqlima dan aku memperhatikan dengan seksama. Iqlima pun mencoba untuk mengerti penjelasan ayahnya. Aku masih khawatir karena wajah Iqlima tak menunjukkan kesan memahami secara penuh penjelasan ayahnya.

***



“Iqlima, kamu baik-baik  ajakan?” Tanya Anisa dengan cemas.

“Entalah, Nis.” Jawab Iqlima singkat.

“Kamu nggak benar-benar menyakini pemahaman yang diajarkan oleh organisasi tersebut kan?” Tanya Anisa dengan hati-hati.

“Aku bingung, Nis.” Jawab Iqlima dengan nada tak mengerti.

“Bingung kenapa?” Ucap Anisa.

“Ya, ko ada ya pemahaman seperti yang diajarkan Mbak Asih. Kenapa harus seperti itu? Kenapa islma tak benar- benar bisa bersatu. Kenapa begitu banyak perpecahan yang ada? Akibatnya kamu bisa lihat sendiri kan Nis, Umat islam kita jadi lemah dan terjajah oleh perpecahan itu? Kenapa organisasi itu mengatakan umat islam lain menjual dengan harga yang murah. Padahal dia sendiri yang menjual dengan harga yang murah.” Tanya Iqlima.

Anisa seolah tak cukup mampu untuk menjawab pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh Iqlima. Ia hanya bisa diam sejenak dan tersenyum memandang Iqlima. Ekspresi wajah, Anisa membuat Iqlima memahami bahwa semua akan baik-baik saja dan kamu pasti akan menemukan jawabannya sendiri.

***



Kejadian itu membuat Bude memberikan amanat kepada Anisa.

“Anisa, Bude titip Iqlima ya? Walaupun Bude tahu, ini adalah universita swasta dibawah naungan sang pencerah dan dulu Pakdemu mendapat gelar sarjana di sana. Namun, Bude masih merasa khawatir karena kejadian tempo hari yang meinpa Iqlima.” Ungkap Ibu Iqlima dengan terus terang.

“Ya, Bude, Nisa mengerti. Sebenarnya, Nisa mau pidah jurusan tapi nanti tidak satu tempat dengan jurusan Iqlima. Nisa, akan urungkan niat untuk pindah Bude agar nisa bisa tahu aktivitas Iqlima.” Jawab Anisa.

***



“Acara Perkenalan kampus ya, seru, Iqlima.” Ucap Anisa ketika di dalam bus saat perjalan pulang.

“Ya. Nggak nyangka acaranya bakal selama ini. Perkenalan kampus dua hari dan ada acara perkenalan dasar-dasar Islam selama tiga hari.” Jawab Iqlima dengan semangat 45.

“Ini pengalaman yang menakjubkan. Ya, setidaknya aku merasa lebih baik berada di universitas ini walaupun bukan negeri.” Lanjut Anisa sambil menunjukkan wajah murung sejenak.

“Udah, universitas yang kita pilih nggak kalah ko sama universitas negeri impianmu di Jakarta Timur, Nis.” Hibur Iqlima.

Perkenalan kampus dan perkenalan dasar-dasar islam di bawah panji hijau sang pencerah di universitas swasta favorit berwarna unggu yang berpusat  di Kebayoran Baru menambah pemahaman Iqlima dan Anisa tentang Islam yang sesungguhnya. Mereka, kini lebih memahami dan mengetahui dalil naqli tentang ibadah. Mereka merasa sudah seharusnya umat islma mengetahui dalil sebelum menjalankan perintah Allah Swt.

Perkenalan dasar-dasar Islam yang diusung oleh organisasi Islam di universitas tersebut  adalah “Islam for Peace and Humanity”. Iqlima dan Anisa sangat tertarik dengan tema yang diusung tersebut. Melalui tema itu mereka benar-benar memahami bahwa ajaran Islam yang sebenarnya adalah rahmatan lilalamin (rahmat bagi semesta alam).

Kegiatan awal di panji sang pencerah membuat Iqlima mampu menjawab segala pertanyaan yang dahulu dilontarkan kepada Anisa. Pertanyaannya yang membuatnya bingung dan tak habis pikir tentang pemahaman yang dianut oleh organisasi dahulu. Kini, panji sang pencerah melalui nuansa unggu kembali membuka pemikiran dan pemahan baru bagi Iqlima bahwa ajaran islam yang sebenarnya itu bersifat modern dan berkemajuan yang akan selalu sejalan dengan perkembangan zaman. Bukan islam yang egoistis dan mengedepankan kekerasan, terorisme yang berujung pada bom bunuh diri.





Bekasi, 26 Mei 2015





Adzan atau Komad ?







Oleh : NKITD 

Saat malam hari di sebuah Sekolah Menengah Pertama pada acara perkemahan sabtu minggu. Anak-anak yang lain berada di lapangan sekolah sedang berbaris. Barisan inti dengan komando kakak Danis. Sedangkan aku, Arya dan Rahma berada di luar barisan inti bersama Kakak Maya. 
Aku mulai mengantuk karena waktu menunjukkan hampIr tengah malam. Rasa kantukku membuat mataku menangkap bayangan yang bernuansa mistis. Rasa kantuk itu hilang ketika Arya mendapat perintah dari Kakak Maya untuk melantunkan adzan. Kenapa bisa demikian? Hal itu terjadi karena aku mendengar suara gemulai Arya sedang melantunkan perintah kakak Maya. 
Suara gemulainya terdengar demikian

Allahu akbar, allahu akbar, ashaduallaillaillah, waashadu annamuhammadarasulullah, hayya allasshola, hayya allal falah kodkomatishola, kodkomatishola, allahu akbar, allahu akbar, laillaillah.

Kontan wajah sangar lebih tepatnya tegas kak Maya pun berubah termasuk rasa kantukku. Aku tertawa tertahan bersama Rahma mendengar adzan ala Arya.

Keputusan







Oleh : NKITD

"Maukah kamu menjadi pacarku?”

Lenipun bingung harus menjawab apa. Sesungguhnya ia juga suka dan ingin mengatakan ya. Tapi ia ingat prinsipnya dan tentunya ortu tercinta tak akan mengizinkan.

“Jadi, apa jawaban kamu, Len?”

Seolah angin malam yang menerpa wajah Leni tahu kebimbangan hati yang dirasakan perempuan berjilbab itu.

“Aku suka kamu, Leni? Kamu suka aku juga kan?” Ucap laki-laki itu penuh percaya diri,

“Aku suka kamu tapi aku nggak bisa pacaran.” Sambung Leni sambil mengerutkan kedua dahinya.

“Jadi, kamu nolak aku?” Tegas laki-laki itu.

Leni pun khawatir kehilangan laki-laki yang berada dihadapannya. Dia bernama Rizal. Anak baru pengajian yang 1 bulan dikenalnya. Leni berkata, “Bukan begitu. maksud aku, aku nggak mau pacaran, Rizal . Kita bisa jadi teman dekat. Kita sama-sama tahu kalau kita saling suka. Ya, kita jaga rasa itu aja.”

Sinta yang dari tadi jadi pendengar ketiga yang berada di samping Leni pun geregetan dengan sikap Leni. Maka ia pun berkata, “Aduh Leni, maksud kamu apa si? Jadian, jadian aja kali.”

“Jadi bagaimana maksudmu, Len?” Tanya Rizal.

“Gimana ya Rizal. Aku, aku suka kamu.” Leni menarik nafas panjang dan berkata, ‘Baiklah aku terima kamu dengan syarat.”

Leni mulai menjabarkan persyaratan 1 sampai 10. Syarat itu menjadi pertanda bahwa ia menerima Rizal.

***





Senja kembali menyapa daerah tercinta. Iringan suara dari masjid dan musolah, memanggil-manggil jamaah. Gelap mulai menyapa penglihatan dan lampu-lampu berwarna putih dan kuning pun menerangi kegelapa itu. Sejenak sepi dan senyap terlihat digang-gang kecil. Hanya terdengar suara merdu jangrik yang bersembunyi entah di mana.                                                                                                 

Itulah waktunya anak-anak seusia Leni mengaji setelah shalat magrib. Sebelum mengaji di kampung sebelah, Leni mendatangi rumah temannya satu per satu untuk pergi bersama ke tempat pengajian. Setelah itu, barulah mereka berangkat mengaji bersama-sama. Leni merasa bersemangat ketika mengaji, ia terlihat lebih ceria dibandingkan dengan ketika ia belajar di kelas. Leni bisa menjadi diri sendiri di tempat mengaji karena ia merasa sudah dekat dengan teman-temannya. Baik itu teman laki-laki atau teman perempuan.

Tempat pengajian berubah menjadi penuh dengan warna ketika beberapa orang yang baru datang untuk mengaji di sana. Ya, Sarah dan Sari adalah adik kakak yang menjadi penghuni baru di sana. Tempat pengajian itu menjadi ramai dan meriah.

Semuanya berjalan apa adanya, berangkat mengaji, menunggu antrian untuk mengaji, bercanda dengan teman pengajian di halaman musolah. Itulah kegiatan malam yang Leni lakukan. Dan, hal itu menjadi tidak biasa ketika Rizal datang untuk mengaji di sana. Ya, Rizal menjadi salah satu murid baru di tempat pengajian Leni. Tanpa sadar, Leni menyukai Rizal. Begitu pula Rizal.

Awalnya, Leni hanya ingin menyuka saja tanpa diketahui oleh Rizal. Tapi, Sarah berhasil mengetahui isi hati Leni dan membertahukan hal itu pada Rizal. Terjadilah, aksi penembakan rasa. Di belakang halaman musolah, ketika malam penuh bintang, disamping kolam besar, di bawah pohon rindang berteman lampu redup kuning, Rizal pun menyatakan perasaannya pada Leni.

Leni bingung, apa yang harus ia jawab. Ya atau tidak. Dengan berpikir sejenak, Leni menjawab tidak. Dan Sarah yang saat itu berada disamping Leni, kaget mendengar hal itu. akhirnya, Sarah memberikan penjelasan kepada Leni agar ia menerima Rizal. Akhirnya Leni berubah pikiran dan menerima Rizal sebagai pacarnya dengan beberapa syarat yang ia ucapkan langsung di depan Rizal. Dan, RIzalpun mengiyakan hal tersebut.

Setelah ia memutuskan mengiyakan kehadiran Rizal. Akhirnya, ia pun menyesalinya. Leni khawatir kalau hal itu diketahui oleh kedua orang tuanya, bisa-bisa ia dimarahi. Tapi, ia tak bisa membohongi dirinya, bahwa ia menyukai Rizal maka ia abaikan kata hatinya. Toh, ia dan Rizal pacaran sehat ko, tak yang aneh-aneh, itulah yang ada dipikiran Leni saat itu.

Nia salah satu teman dekat Leni di sekolah sama sekali tak menyangka kalau Leni berpacaran dengan Rizal. Nia kira Leni tak mungkin menerima Rizal karena Leni berjilbab dan agamis. Nia tak mengatakannya secara langsung kepada Leni, tapi Leni seolah tahu isi hati Nia. Dan dengan logika SMP ala Leni, ia pun berhasil memberikan alasan yang logis, kenapa ia memutuskan untuk menerima Rizal. Alasannya adalah Leni ingin membuat Rizal menjadi seorang remaja yang lebih mendekatkan diri pada Allah.

Suasana di tempat pengajian adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh Leni. Ketika ia berada di sekolah, ia mulai benar-benar memfokuskan diri untuk memikirkan Rizal seorang. Aneh tapi nyata, maka rasa suka yang dulu ada untuk teman sekelasnya, hilang. Ia ingin menjaga hati. Temannya pernah berkata, apa yang kita lakukan, akan dilakukan oleh pacar kita. Maka Leni mulai belajar untuk setia dan berharap Rizal juga setia.

Pertemuan di perjalanan menuju musolah dan musolah serta sekitarnya adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh Leni. Sekedar berjalan beriringan dengan Rizal adalah hal yang membahagiakan bagi Leni. Kebahagian itu bertambah ketika ada pasar malam. Di sana, Leni bersama teman-temannya mampir sejenak setelah mengaji termasuk Rizal. Mereka bersama-sama naik permainan “ombak”. Kebahagiaan itu tak bertahan lama karena hubungan mereka tercium juga ditelinga orang tua Leni.

Leni amat sangat bersalah dan menyesal. Leni galau, khawatir dan bingung, apa yang harus ia lakukan. Apakah memutuskan hubungan dengan Rizal sebelum orang tuannya tahu. Atau backstreet? Hal itu pernah ia lakukan tapi ia tetap merasa bersalah.

Cukup lama, Leni memikirkan hal itu. Ia memikirkan baik-buruknya. Dan akhirnya dengan berat hati, ia mengatakan kepada Rizal bahwa ia ingin putus. Leni mengatakan bahwa ia tak ingin menyakiti hati Rizal dengan sikapnya. Ya, Leni tak jujur pada Rizal bahwa orang tuanya tak menginginkan anak mereka  berpacaran. Tapi, Leni tak mengatakan hal itu karena ia tak mampu untuk mengatakannya.

Rizal bingung dengan keputusan dan alasan yang Leni utarakan. Rizal tak bisa menerima hal itu. Rizal menundukan kepala tak berkata apa pun pada Leni. Leni pun pergi meninggalkan Rizal dalam gelapnya malam dan gelapnya lampu penerangan. Sejujurnya, Leni tak mudah untuk mengatakan hal tersebut tapi Leni harus memilih antara keinginan orang tuannya dan keinginan dia. Maaf Rizal itulah ucapan yang terngiang-ngian di benaknya.

-Selesai-



                                                                                                           


Senin, 24 September 2018

Kertas Antrean 18

Oleh : NKITD
Keramaian antrian pemberkasa di sebuah Universitas Negeri di Jakarta Timur membuat seorang anak yang baru lulus SMA pun bernama Niar cukup gugup. Nomor antrian telah ia ambil dari petugas. Sama seperti calon mahasiswa lainnya, Niar harus menunggu giliran. Universitas tersebut telah menyiapkan tenda dan bangku di bagian depan tata usaha/ administrasi.  Berhubung bangku yang disediakan telah penuh dengan para pengantri maka anak SMA itu memilih untuk menunggu di tepi jalan beralaskan got kering bertralis tak jauh dari tempat penyerahan berkas.

Niar masih memegang nomor antrian dengan kedua tangannya. Bertuliskan angka 18 di nomor antrian tersebut. Sebelumnya, ia ragu untuk duduk di tepi jalan akan tetapi kakaknya memaksa agar ia duduk di sana. Kakak Niar sudah duduk cantik di sebelah calon mahasiswa lain dan berbaur dengan wali mahasiswa lainnya. Alhasil, Niar hanya berdiri di sebelah kakanya yang sedang bertanya tentang pemberkasan dan wawancara yang diadakan oleh pihak universitas. Niar tak angkat bicara, ia hanya diam. Tas hitam masih Niar kenakan. Ketika pembicaraan kakak Niar telah usai, tiba-tiba Niar menjatuhkan kertas antrian itu. Kertas antrian itu jatuh ke dalam got kering yang cukup dalam. Kedalaman got itu kurang lebih 50 cm, Niar dan kakaknya tak dapat mengambil kertas antrian tersebut karena trails got yang berlubang kecil sehingga tangan mereka tak dapat menjangkaunya. Wajah Niar terlihat panik. Dan semakin panik ketika kakaknya mengatakan bahwa Universitas ini tak akan memberikan pemaluman anak hal tersebut. Kakak Niar pun dengan kelakuan Niar.

Niar cemas dan berkata, “gimana dong?” Walaupun sempat jengkel dengan kelakuan adiknya, kakak Niar pun menjawab, “ ya udah. Loe minta nomor baru lagi ke petugas. Dan gua akan usaha untuk ambil nomor loe di got.” Kakak Niar mulai berpikir selam Niar kembali mengambil nomor antria pada petugas yang berada di depan tempat pemberkasan.

Tak lama kemudian, adiknya datang. Kakak Niar tak melihat kertas antrian di tangan Niar. Niar mendekati kakaknya dan  berkata, “petugasnya bilang nggak apa-apa.” Karena kakak Niar tahu dengan pasti kedisiplinan Universitas ini, kakak Niar agak sewot, “nggak apa-apa gimana?” Niar memasang wajah bingung karena ucapan kakaknya.

Kakak Niar nggak tega juga melihat wajah Niar seperti itu. Niar diam tak dapat berkata apapun. Kakaknya berkata, “kita butuh satu lidih nih.” Niar heran dan tak percaya dengan ucapan kakaknya. “Buat apa lidih,” pikir Niar. Ada petugas kebersihan lewat dari arah yang cukup jauh dari mereka berdiskusi. Kontan kakak Niar berkata,  “noh, ada tukang sampah, sana minta satu lidih sama petugasnya.” Niar enggan untuk mengikuti saran kakaknya karena mempercayai ucapan petugas. Kalau bisa simple kenapa harus repot ambil lidi itulah yang ada dipikirannya. Niar hanya mematung dan diam. Kakaknya geregetan melihat sikap adiknya.

Mereka berdua pun duduk kembali di tempat yang sama. Niar tahu kakaknya tak yakin dengan ucapan petugas tersebut. Niar melihat kakaknya mematahkan batang tanaman hias. Lalu kakaknya membuang daun yang ada di batang tanaman tersebut. Niar masih belum paham melihat sikap kakaknya. “Ini namanya ikhtiar,” ucap kakak Niar sambil cengengesan. Sebelum kakak Niar memasukan lidi itu ke dalam lubang trails got tersebut. Niar melihat kakaknya tengok kanan dan kiri. Setelah itu, kakak niar memasukan batang tanaman ke dalam trails. Niar melihat, batang tanaman itu menuju kertas segi empat bertulisan angka 18. Niar masih memperhatikan kertas itu diarahkan ke pinggir got bersemen. Kertas itu hamper menuju ke atas. Dengan hati-hati kakak Niar menggerakan batang tanaman itu agar kertas terangkat ke atas dan dapat dijangkau oleh jari tangan.  Kertas nomor antrian itu hamper mendekati trails got. Dan kertas itu jatuh ke dasar got lagi.

Niar menahan tawa karena aksi ikhtiar kakaknya. Aksi itu terhenti sejenak karena ada mobil yang akan parkir di depan mereka duduk. Kakak Niar bersikap seolah tak ada apa-apa. Setelah mobil terparkir dan pemilik mobil pergi, kakak niar mulai berikhtiar kembali. Niar memperhatikan, kali ini kakaknya memegang ujung batang tanaman itu. Kemudian, ujung batangnya di belah dua sedikit dan ada batang kecil yang mengganjal belahan tersebut. Sekilas seperti sumplit yang dipakai anak SD makan Mie. Bedanya, belahan dibatang itu lebih kecil dan sedikit jika dibantingkan dengan sumplit yang dipakai anak SD.  

Kakak Niar mulai memasukan batang tersebut, kerta antrian mulai didirikan mendekati pinggir got bersemen. Ujung sumplit batang mulai mengarah pada bagian pinggir kertas. Kertas mulai terangkat ke atas dan jatuh kembali. Kakak niar mulai putus asa. Ketika terdengar antrian nomor 14 telah disebutkan oleh petugas. Niar mulai memahami strategi kakaknya, mka ia mencoba mengambil alih untuk melakukan hal yang sama dengan kakanya. Niar mulai memasukan batang tanaman, menjepit kertas antrian itu dengan ujung batang tanaman. Kakak Niar mulai melihat kerta antrian mulai terangkat ke atas dan kertas itu jatuh kembali ke dasar got. Kakaknya pun cengengesan melihat gaya adiknya dan gayanya sendiri di tengah keramaian tersebut.

Kakak Niar kembali mencoba kembali, ia yakin akan berhasil. Nomor antrian terlihat masih berdiri di pojok got. Niar melihat kertas segiempat nomor antrian itu mulai terselip batang tanaman. Kertas itu mulai terangkat ke atas, perlahan demi per lahan. Dan akhirnya kertas itu dapat diambil dengan jari tangan. Wajah syukur terlihat ketika kertas itu ada ditangan kakanya. Kakaknya menyerahkan kertas antrian itu kepada Niar.

Tak lama kemudian, nomor antrian 18 telah dipanggil, mereka pindah ke depan tempat penyerhan berkas. Kakak Niar tak melihat petugas yang mengatakan taka pa-apa kepada Niar. Niar menyerahkan berkas dan kakaknya ada di sampingnya. Dengan nada tegas, ibu berkaca mata menanyakan nomor antrian pada Niar.

-Selesai-



Bekasi, 29 Juli 2015