Oleh : NKITD
Vespa unik tempo dulu terjajar rapi di depa halaman. Aku tak tahu vespa itu keluaran tahun berapa? Mungkin tahun 80-an. Berkat keahlian si babeh dalam memodifikasi motor maka vespa tersebut terlihat lebih cantik dan bisa digunakan. Padahal, babeh membeli vespa itu dengan harga yang murah dengan kondisi bodi yang kusam dan berkarat. Selain jago mendesai rumah, si Babeh jago dalam memodifikasi motor termasuk vespa. Dan kehlian itu diturunkan kepada adik laki-lakiku Toriq. Sedangkan aku dan tiga saudara lainnya tak ahli dalam hal tersebut.
Babehku memang suka mengoleksi motor antik, termasuk
vespa dan moge. Tak heran kalau di depan rumah ada dua atau tiga vespa dan satu
moge jadul terjajar rapi. Aku mendengar ada satu moge lagi tapi moge itu berada
di kantor si babeh. Sebenarnya, babeh tak berniat untuk mengoleksi motor dengan
tipe tersebut. Babeh hanya suka membeli motor dengan tipe tersebut untuk
dimodifikasi dengan tangannya sendiri. Mendempul dan memberikan warna pada bodi
vespa adalah satu hobi babehku. Jika ia memiliki waktu luang maka ia akan
mengerjakannya sendiri. Itu juga kalau keadaan mesin vespa atau moge itu dalam
keadaan baik-baik saja. Kalau mesin vespa atau moge itu harus turun mesin maka
babeh menyerahkan tugas itu pada bengkel khusus motor antik langganannya.
Maklum motor antik tempo dulu biasanya selalu bermasalah dengan mesinnya.
Kadang, ibuku suka mengeluh kepadaku dan babeh. Ia
mengatakan mengapa babeh hanya memperhatikan vespa dengan dempulan dan pilok
untu mempercantik body vespa. Ia juga dengan iseng mengatakan bahwa ayah vespa
mulu yang dibeliin dempul, ibu dong beliin dempul. Ayah menjawab dengan santai
bahwa wajah ibu sudah cantik jadi tak perlulah beli dempulan. Aku akui ibu
memang cantik, lebih cantik dari tiga anak perempuannya. Teman zaman SMA-ku
juga mengakui kecantikannya. Teman SMA-ku mengatakan dengan terang-terangan,
ibuku lebih cantik dari pada anaknya. Ibuku tersenyum mendengar hal itu dan
mengatakan cantik ibukan dibagi tiga dan temen kamu ada-ada aja.
Babehku memang beruntung mendapatkan istri seperti
ibuku. Ibuku sudah cantik, baik hati, penurut dan tidak macam-macam. Walaupun
sekarang lebih banyak bicara dibandingkan dengan masa sekolah. Sejak memiliki
anak, sifat pendiam ibuku memudar. Dapat dikatakan, kebutuhan sehari-hari anak
telah membuat ibuku berani bersuara lantang. Kalau tidak seperti itu maka
babehku kadang lupa diri. Babehku tipe orang yang royal dengan teman dan
hobinya.
Apabila ada seseorang yang berminat untuk membeli vespa
maka si babeh akan menjualnya. Tentunya jika harga pembelian vespa sesuai
dengan kesepakatan, jika tidak maka babeh membiarkan vespa terjajar rapi di
depan rumah kami. Setelah menjualnya maka ia akan membeli vespa lagi. Tidak
semua vespa dijual karena babeh dan adikku suka mengendarai vespa.
Tersisalah tiga vespa di rumah kami. Satu dipakai ayah
untuk pergi ke kantor. Dan satu vespa lagi dipakai untuk adikku yang kuliah PP
(pulang pergi) dari rumah ke kampus. Lumayanlah dari kabupaten ke kota Jakarta.
Perjalan yang cukup panjang dan melelahkan. Dengan segala kemungkinan baik dan
kurang baik. Maklum vespa kadang bermasalah dengan mesinnya.
Walaupun demikian, vespa itu memang unik. Begitupula
pemiliknya, unik sekali. Aku pernah mendengar cerita dari adikku bahwa jadi pengendara
vespa itu lebih enak sekali dibandingkan dengan pengendara motor lain.
Alasannya adalah pertolongan akan selalu didapatkan oleh pengendara vespa
ketika ia mengalami masalah dengan mesin vespa dari pengendara vespa lainnya. Unik
sekalikan. Dan hal itu tidak akan terjadi kalau kita menggunakan motor biasa.
Vespa memang luar biasa, dengan segala keunikan bodi, perawatan dan pemiliknya.
Alasan keunikan itulah yang medorong hati dan diri ini
untuk belajar mengendarai vespa. Heheheh itu Cuma alasan klasik. Alasan
sesungguhnya adalah hanya vespalah kendaraan yang menganggur di rumahku dan
cocoklah untuk aku pakai saat ini. Aku berpikir, keren sekali rasanya, ketika
seorang perempuan dapat mengendarai vespa. Disamping itu, pengendara vespa tak
terlalu diperhitungkan apabila ada penilangan pak polisi.
Berawal dari senja yang memerah, aku belajar vespa di
halaman rumahku yang sempit. Sebelumnya, adik dan babehku memberikan pengarahan
mengenai bagaimana caranya mengendarai vespa. Sebenarnya aku ragu tapi aku
harus berani mencoba. Kalau tak sekarang, kapan lagi. Maka dari itu aku
hilangkan rasa ragu itu dengan tekat yang kuat.
Halaman rumahku kecil ada beberapa tanaman hijau yang
berdampingan dengan jendela ruang tamu rumahku. Halaman yang tidak berumput
tapi bersemen. Dua vespa hitam abu-abu dan coklat loreng-loreng berjajar rapi
di samping jendela.
Jendela rumahku menghadap selatan dan pintu utama
rumahku menghadap barat. Sebenarnya halaman ini milik bersama karena beberapa meter dari halaman mini terdapat
rumah minimalis tanpa gerbang. Posisi vespaku mengarah ke rumah minimalis itu.
Pintu rumah berwarna biru itu kebetulan terbuka lebar karena pemiliknya adalah
saudaraku. Sebelum aku mulai mengendarai vespa, aku sempat mengobrol dengan
saudaraku tentang kesibukanku sehari-hari. Lalu, ia pergi untuk menemui anaknya
yang sedang bermain.
Setelah itu, aku mulai mengaplikasikan instruksi yang
telah diberikan babeh dan adikku. Aku mulai duduk di atas jok vespa, mereka
berada di sebelah kiriku dan masih memberikan instruksi dan informasi mengenai
gas, gigi, pedal dan rem. Aku mencoba untuk memahaminya. Agak rumit memang,
gigi satu untuk … gigi dua untuk … dan
gigi tiga untuk ….
Ini adalah kali pertama aku belajar motor dan aku
memilih belajar untuk mengendarai vespa. Di halaman yang sempit. Aku sudah
duduk di atas jok vespa dan mencoba untuk memegang gas tanpa menyalahkan mesi
vespa. Aku coba untuk bermain dengan gas dan mengeremnya. Itulah yang aku
lakukan sambil mendengarkan istruksi dari babeh dan adikku.
Dengan menyebut asmaNya, aku mulai menginjak pedal untuk
menyalahkan mesin vespa. Namun, aku tak berhasil maka adikkupun membantu agar
mesin vespa itu menyalah. Pedal telah berhasil dinyalahkan lalu gigi mulai
diinjak, dan aku pun mulai memegang gas. Aku mulai menarik gas dengan tangan kananku.
Tanganku terlalu kuat memegang gas tersebut. aku berubah menjadi panik mendengar suara yang
dihasilkan dari pengangan gas tangan kananku. Aku tak mampu mengendalikan vespa
dan lupa untuk memegang rem. Aku pun mulai berteriak ketakutan.
Babeh yang berada di samping kiriku berusaha untuk
menahan agar vespa tak terus melaju dengan kaki kanannya. Akan tetapi, vespa tak berhasil
dihentikan, ban vespa hanya meluncur tanpa dosa di atas kaki kanan babehku.
Babehku berteriak agar aku mengerem. Tapi, aku terlampau panik dan tak bisa
mengerem. Aku bingun dan mengankat tanganku ke atas. Vespa terus melaju ke arah
pintu rumah minimalis itu dan meninggalkan diriku yang jatuh duduk. Dengan
sigap adikku mengejar laju vespaku dan langsung mengambil posisi di depan vespa
beberapa cm. kemudian, ia menahan vespa dengan tangan dan kakinya. Dengan izin
Allah Swt, vespanyapun berhasil diselamatkan.
Vespa berhenti tepat di depan pintu rumah saudaraku. Aku
masih sock dengan kejadian tersebut. Aku mencoba mengendalikan diri dan
mengembalikan kesadarankulagi. Aku berdiri dan langsung melihat ke arah
babehku. Dan mataku langsung tertuju pada kaki kanan yang telah menahan laju
ban vespa. Aku melihat ada luka di sana. Luka yang cukup serius. Aku lihat
kulit yang membungkus punggung kaki kanan babehku terkelupas, ada warna merah
muda di sana.
Lalu, ku tengok adikku yang ada beberapa cm dariku. Aku
lihat celannya sobek dan sobekan itu membuat aku tahu bahwa paha kirinya
berdarah sepertinya cukup parah. Aku bingung dan mengatakan maaf. Babehku
mengatakan parah ini bocah. Babeh segera memanggil adikku yang lain untuk
membeli obat. Sedangkan adikku mengatakan aduh vespa gua.
Vespa telah
selamat dan meninggalkan dua luka pada punggung kaki kanan Babeh dan paha kiri
adikku. Luka yang cukup membuat aku khawatir dan merasa bersalah. Dengan izin
Allah Swt, aku baik-baik saja. Ya, fisikku baik-baik saja sedangkan hatiku
tidak demikian. Aku merasa amat sangat bersalah karena kecerobohanku telah
membuat luka bersemanyat dalam fisik Babeh dan adikku. Maaf, hanya itu yang
terucap dalam bibir dan hatiku.
Aku begitu naïf dan lupa bahwa aku bukanlah tipe orang
yang mudah cepat tdan tanggap dalam menerima informasi. Ya, aku memang salah
perkiraan. Dan kesalahan perkiraan ini membuat seseorang yang aku kasihi
terluka. Rasanya, lebih baik aku yang terluka sendiri daripada melihat babeh
dan adikku terluka karena itu amat sangat menyakitkan.
Tragedi vespa di senja itu, membuat babeh dan adikku
beristirahat di rumah selama beberapa hari. Ibu tak menyalahkanku atas kejadian
itu, ia mengatakan takapa-apalah karena kejadian itu, si babeh dapat
beristirahat di rumah. Selama beberapa hari, aku merasa bersalah.
Aku berpikir melihat ayah terluka fisik amat sangat
menyakitkan. Bagaimana dengan luka hati? Luka fisik mungkin bisa sembuh dalam
beberapa hari tapi luka hati. Siapa yang bisa memastikan. Kejadian ini membuat
aku semakin menjaga diri agar bersikap dan berkata yang sewajarnya saja
terhadap babeh dan tentunya ibu. Karena kita tak tahu kata dan sikap mana yang
bisa melukai hati mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar