Oleh : NKITD
"Maukah kamu menjadi pacarku?”
Lenipun bingung harus menjawab
apa. Sesungguhnya ia juga suka dan ingin mengatakan ya. Tapi ia ingat
prinsipnya dan tentunya ortu tercinta tak akan mengizinkan.
“Jadi, apa jawaban kamu, Len?”
Seolah angin malam yang menerpa
wajah Leni tahu kebimbangan hati yang dirasakan perempuan berjilbab itu.
“Aku suka kamu, Leni? Kamu suka aku juga kan?” Ucap laki-laki itu penuh percaya diri,
“Aku suka kamu tapi aku nggak bisa pacaran.” Sambung Leni sambil mengerutkan kedua dahinya.
“Jadi, kamu nolak aku?”
Tegas laki-laki itu.
Leni pun khawatir kehilangan laki-laki yang berada dihadapannya. Dia bernama Rizal. Anak baru pengajian yang 1 bulan dikenalnya. Leni berkata, “Bukan begitu. maksud aku,
aku nggak mau pacaran, Rizal . Kita bisa jadi teman dekat. Kita sama-sama tahu kalau kita saling
suka. Ya, kita jaga rasa itu aja.”
Sinta yang dari tadi jadi
pendengar ketiga yang berada di samping Leni pun geregetan dengan sikap Leni. Maka ia pun berkata,
“Aduh Leni, maksud kamu apa si?
Jadian, jadian aja kali.”
“Jadi bagaimana maksudmu, Len?” Tanya Rizal.
“Gimana ya Rizal. Aku, aku suka kamu.” Leni menarik nafas panjang dan berkata, ‘Baiklah aku terima kamu
dengan syarat.”
Leni mulai menjabarkan
persyaratan 1 sampai 10. Syarat itu menjadi pertanda bahwa ia menerima Rizal.
***
Senja kembali menyapa daerah
tercinta. Iringan suara dari masjid dan musolah, memanggil-manggil jamaah.
Gelap mulai menyapa penglihatan dan lampu-lampu berwarna putih dan kuning pun menerangi
kegelapa itu. Sejenak sepi dan senyap terlihat digang-gang kecil. Hanya
terdengar suara merdu jangrik yang bersembunyi entah di mana.
Itulah waktunya anak-anak
seusia Leni mengaji setelah shalat magrib. Sebelum mengaji di kampung sebelah,
Leni mendatangi rumah temannya satu per satu untuk pergi bersama ke tempat
pengajian. Setelah itu, barulah mereka berangkat mengaji bersama-sama. Leni
merasa bersemangat ketika mengaji, ia terlihat lebih ceria dibandingkan dengan
ketika ia belajar di kelas. Leni bisa menjadi diri sendiri di tempat mengaji
karena ia merasa sudah dekat dengan teman-temannya. Baik itu teman laki-laki
atau teman perempuan.
Tempat pengajian berubah
menjadi penuh dengan warna ketika beberapa orang yang baru datang untuk mengaji
di sana. Ya, Sarah dan Sari adalah adik kakak yang menjadi penghuni baru di
sana. Tempat pengajian itu menjadi ramai dan meriah.
Semuanya berjalan apa adanya,
berangkat mengaji, menunggu antrian untuk mengaji, bercanda dengan teman
pengajian di halaman musolah. Itulah kegiatan malam yang Leni lakukan. Dan, hal
itu menjadi tidak biasa ketika Rizal datang untuk mengaji di sana. Ya, Rizal
menjadi salah satu murid baru di tempat pengajian Leni. Tanpa sadar, Leni
menyukai Rizal. Begitu pula Rizal.
Awalnya, Leni hanya ingin
menyuka saja tanpa diketahui oleh Rizal. Tapi, Sarah berhasil mengetahui isi
hati Leni dan membertahukan hal itu pada Rizal. Terjadilah, aksi penembakan
rasa. Di belakang halaman musolah, ketika malam penuh bintang, disamping kolam
besar, di bawah pohon rindang berteman lampu redup kuning, Rizal pun menyatakan
perasaannya pada Leni.
Leni bingung, apa yang harus ia
jawab. Ya atau tidak. Dengan berpikir sejenak, Leni menjawab tidak. Dan Sarah
yang saat itu berada disamping Leni, kaget mendengar hal itu. akhirnya, Sarah
memberikan penjelasan kepada Leni agar ia menerima Rizal. Akhirnya Leni berubah
pikiran dan menerima Rizal sebagai pacarnya dengan beberapa syarat yang ia
ucapkan langsung di depan Rizal. Dan, RIzalpun mengiyakan hal tersebut.
Setelah ia memutuskan
mengiyakan kehadiran Rizal. Akhirnya, ia pun menyesalinya. Leni khawatir kalau
hal itu diketahui oleh kedua orang tuanya, bisa-bisa ia dimarahi. Tapi, ia tak
bisa membohongi dirinya, bahwa ia menyukai Rizal maka ia abaikan kata hatinya.
Toh, ia dan Rizal pacaran sehat ko, tak yang aneh-aneh, itulah yang ada
dipikiran Leni saat itu.
Nia salah satu teman dekat Leni
di sekolah sama sekali tak menyangka kalau Leni berpacaran dengan Rizal. Nia
kira Leni tak mungkin menerima Rizal karena Leni berjilbab dan agamis. Nia tak
mengatakannya secara langsung kepada Leni, tapi Leni seolah tahu isi hati Nia.
Dan dengan logika SMP ala Leni, ia pun berhasil memberikan alasan yang logis,
kenapa ia memutuskan untuk menerima Rizal. Alasannya adalah Leni ingin membuat
Rizal menjadi seorang remaja yang lebih mendekatkan diri pada Allah.
Suasana di
tempat pengajian adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh Leni. Ketika ia
berada di sekolah, ia mulai benar-benar memfokuskan diri untuk memikirkan Rizal
seorang. Aneh tapi nyata, maka rasa suka yang dulu ada untuk teman sekelasnya,
hilang. Ia ingin menjaga hati. Temannya pernah berkata, apa yang kita lakukan,
akan dilakukan oleh pacar kita. Maka Leni mulai belajar untuk setia dan
berharap Rizal juga setia.
Pertemuan di perjalanan menuju
musolah dan musolah serta sekitarnya adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh Leni.
Sekedar berjalan beriringan dengan Rizal adalah hal yang membahagiakan bagi
Leni. Kebahagian itu bertambah ketika ada pasar malam. Di sana, Leni bersama
teman-temannya mampir sejenak setelah mengaji termasuk Rizal. Mereka
bersama-sama naik permainan “ombak”. Kebahagiaan itu tak bertahan lama karena
hubungan mereka tercium juga ditelinga orang tua Leni.
Leni amat sangat bersalah dan
menyesal. Leni galau, khawatir dan bingung, apa yang harus ia lakukan. Apakah
memutuskan hubungan dengan Rizal sebelum orang tuannya tahu. Atau backstreet?
Hal itu pernah ia lakukan tapi ia tetap merasa bersalah.
Cukup lama, Leni memikirkan hal
itu. Ia memikirkan baik-buruknya. Dan akhirnya dengan berat hati, ia mengatakan
kepada Rizal bahwa ia ingin putus. Leni mengatakan bahwa ia tak ingin menyakiti
hati Rizal dengan sikapnya. Ya, Leni tak jujur pada Rizal bahwa orang tuanya
tak menginginkan anak mereka berpacaran.
Tapi, Leni tak mengatakan hal itu karena ia tak mampu untuk mengatakannya.
Rizal bingung dengan keputusan
dan alasan yang Leni utarakan. Rizal tak bisa menerima hal itu. Rizal
menundukan kepala tak berkata apa pun pada Leni. Leni pun pergi meninggalkan
Rizal dalam gelapnya malam dan gelapnya lampu penerangan. Sejujurnya, Leni tak
mudah untuk mengatakan hal tersebut tapi Leni harus memilih antara keinginan
orang tuannya dan keinginan dia. Maaf Rizal itulah ucapan yang terngiang-ngian
di benaknya.
-Selesai-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar