Selasa, 25 September 2018

Keputusan







Oleh : NKITD

"Maukah kamu menjadi pacarku?”

Lenipun bingung harus menjawab apa. Sesungguhnya ia juga suka dan ingin mengatakan ya. Tapi ia ingat prinsipnya dan tentunya ortu tercinta tak akan mengizinkan.

Jadi, apa jawaban kamu, Len?

Seolah angin malam yang menerpa wajah Leni tahu kebimbangan hati yang dirasakan perempuan berjilbab itu.

Aku suka kamu, Leni? Kamu suka aku juga kan?” Ucap laki-laki itu penuh percaya diri,

Aku suka kamu tapi aku nggak bisa pacaran.” Sambung Leni sambil mengerutkan kedua dahinya.

Jadi, kamu nolak aku?” Tegas laki-laki itu.

Leni pun khawatir kehilangan laki-laki yang berada dihadapannya. Dia bernama Rizal. Anak baru pengajian yang 1 bulan dikenalnya. Leni berkata, “Bukan begitu. maksud aku, aku nggak mau pacaran, Rizal . Kita bisa jadi teman dekat. Kita sama-sama tahu kalau kita saling suka. Ya, kita jaga rasa itu aja.”

Sinta yang dari tadi jadi pendengar ketiga yang berada di samping Leni pun geregetan dengan sikap Leni. Maka ia pun berkata, “Aduh Leni, maksud kamu apa si? Jadian, jadian aja kali.”

Jadi bagaimana maksudmu, Len? Tanya Rizal.

Gimana ya Rizal. Aku, aku suka kamu. Leni menarik nafas panjang dan berkata, ‘Baiklah aku terima kamu dengan syarat.”

Leni mulai menjabarkan persyaratan 1 sampai 10. Syarat itu menjadi pertanda bahwa ia menerima Rizal.

***





Senja kembali menyapa daerah tercinta. Iringan suara dari masjid dan musolah, memanggil-manggil jamaah. Gelap mulai menyapa penglihatan dan lampu-lampu berwarna putih dan kuning pun menerangi kegelapa itu. Sejenak sepi dan senyap terlihat digang-gang kecil. Hanya terdengar suara merdu jangrik yang bersembunyi entah di mana.                                                                                                 

Itulah waktunya anak-anak seusia Leni mengaji setelah shalat magrib. Sebelum mengaji di kampung sebelah, Leni mendatangi rumah temannya satu per satu untuk pergi bersama ke tempat pengajian. Setelah itu, barulah mereka berangkat mengaji bersama-sama. Leni merasa bersemangat ketika mengaji, ia terlihat lebih ceria dibandingkan dengan ketika ia belajar di kelas. Leni bisa menjadi diri sendiri di tempat mengaji karena ia merasa sudah dekat dengan teman-temannya. Baik itu teman laki-laki atau teman perempuan.

Tempat pengajian berubah menjadi penuh dengan warna ketika beberapa orang yang baru datang untuk mengaji di sana. Ya, Sarah dan Sari adalah adik kakak yang menjadi penghuni baru di sana. Tempat pengajian itu menjadi ramai dan meriah.

Semuanya berjalan apa adanya, berangkat mengaji, menunggu antrian untuk mengaji, bercanda dengan teman pengajian di halaman musolah. Itulah kegiatan malam yang Leni lakukan. Dan, hal itu menjadi tidak biasa ketika Rizal datang untuk mengaji di sana. Ya, Rizal menjadi salah satu murid baru di tempat pengajian Leni. Tanpa sadar, Leni menyukai Rizal. Begitu pula Rizal.

Awalnya, Leni hanya ingin menyuka saja tanpa diketahui oleh Rizal. Tapi, Sarah berhasil mengetahui isi hati Leni dan membertahukan hal itu pada Rizal. Terjadilah, aksi penembakan rasa. Di belakang halaman musolah, ketika malam penuh bintang, disamping kolam besar, di bawah pohon rindang berteman lampu redup kuning, Rizal pun menyatakan perasaannya pada Leni.

Leni bingung, apa yang harus ia jawab. Ya atau tidak. Dengan berpikir sejenak, Leni menjawab tidak. Dan Sarah yang saat itu berada disamping Leni, kaget mendengar hal itu. akhirnya, Sarah memberikan penjelasan kepada Leni agar ia menerima Rizal. Akhirnya Leni berubah pikiran dan menerima Rizal sebagai pacarnya dengan beberapa syarat yang ia ucapkan langsung di depan Rizal. Dan, RIzalpun mengiyakan hal tersebut.

Setelah ia memutuskan mengiyakan kehadiran Rizal. Akhirnya, ia pun menyesalinya. Leni khawatir kalau hal itu diketahui oleh kedua orang tuanya, bisa-bisa ia dimarahi. Tapi, ia tak bisa membohongi dirinya, bahwa ia menyukai Rizal maka ia abaikan kata hatinya. Toh, ia dan Rizal pacaran sehat ko, tak yang aneh-aneh, itulah yang ada dipikiran Leni saat itu.

Nia salah satu teman dekat Leni di sekolah sama sekali tak menyangka kalau Leni berpacaran dengan Rizal. Nia kira Leni tak mungkin menerima Rizal karena Leni berjilbab dan agamis. Nia tak mengatakannya secara langsung kepada Leni, tapi Leni seolah tahu isi hati Nia. Dan dengan logika SMP ala Leni, ia pun berhasil memberikan alasan yang logis, kenapa ia memutuskan untuk menerima Rizal. Alasannya adalah Leni ingin membuat Rizal menjadi seorang remaja yang lebih mendekatkan diri pada Allah.

Suasana di tempat pengajian adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh Leni. Ketika ia berada di sekolah, ia mulai benar-benar memfokuskan diri untuk memikirkan Rizal seorang. Aneh tapi nyata, maka rasa suka yang dulu ada untuk teman sekelasnya, hilang. Ia ingin menjaga hati. Temannya pernah berkata, apa yang kita lakukan, akan dilakukan oleh pacar kita. Maka Leni mulai belajar untuk setia dan berharap Rizal juga setia.

Pertemuan di perjalanan menuju musolah dan musolah serta sekitarnya adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh Leni. Sekedar berjalan beriringan dengan Rizal adalah hal yang membahagiakan bagi Leni. Kebahagian itu bertambah ketika ada pasar malam. Di sana, Leni bersama teman-temannya mampir sejenak setelah mengaji termasuk Rizal. Mereka bersama-sama naik permainan “ombak”. Kebahagiaan itu tak bertahan lama karena hubungan mereka tercium juga ditelinga orang tua Leni.

Leni amat sangat bersalah dan menyesal. Leni galau, khawatir dan bingung, apa yang harus ia lakukan. Apakah memutuskan hubungan dengan Rizal sebelum orang tuannya tahu. Atau backstreet? Hal itu pernah ia lakukan tapi ia tetap merasa bersalah.

Cukup lama, Leni memikirkan hal itu. Ia memikirkan baik-buruknya. Dan akhirnya dengan berat hati, ia mengatakan kepada Rizal bahwa ia ingin putus. Leni mengatakan bahwa ia tak ingin menyakiti hati Rizal dengan sikapnya. Ya, Leni tak jujur pada Rizal bahwa orang tuanya tak menginginkan anak mereka  berpacaran. Tapi, Leni tak mengatakan hal itu karena ia tak mampu untuk mengatakannya.

Rizal bingung dengan keputusan dan alasan yang Leni utarakan. Rizal tak bisa menerima hal itu. Rizal menundukan kepala tak berkata apa pun pada Leni. Leni pun pergi meninggalkan Rizal dalam gelapnya malam dan gelapnya lampu penerangan. Sejujurnya, Leni tak mudah untuk mengatakan hal tersebut tapi Leni harus memilih antara keinginan orang tuannya dan keinginan dia. Maaf Rizal itulah ucapan yang terngiang-ngian di benaknya.

-Selesai-



                                                                                                           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar