Oleh : NKITD
“Harun, harun, kamu tuh emang pecinta perempuan ya.” Ucap Adit sambil
berlari perlahan.
“Siapa, aku? masa si.” Jawab harun dengan santai sambil
mendahului langkah kaki adit berlari.
“Nggak usah deh, kamu liatin si Intan.” Lanjut Adit dengan
nafas terengah-engah lelah karena badannya yang over sambil mengelap tangan ke
wajahnya yang penuh dengan keringat.
“Emang kalo gua liat si Intan salah ya, gua aneh
aja, baru kali ini gua liat si intan pake celan?” Elak Harus sambil cengengesan.
“Tuh kan bener, sebegitu perhatiannya loe sama si
Intan.”
Tegas Adit.
“Udahlah brow, nggak usah dibahas mendingan kita
balapan lari aja.”
Pinta Harun.
Dalam hati
Harun berkata, “Sial, ketebak gua sama si
Adit.”
Harun pun
berlari mendahului Adit serta rombongan gadis yang berlari perlahan di depan
mereka termasuk Intan dan kawan-kawannya yang seragam mengenakan jilbab. Lari
pagi di pelabuhan ratu ini adalah peristiwa langka karena ini merupakan satu
kegiatan dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di universitas. Itu adalah awal
aku benar-benar memperhatikan Intan, gadis manis berjilbab itu. Setelah itu,
aku semakin tertarik dengannya dan berusaha untuk mendekatinya di rapat UKM,
dan tentunya di perpustakaan. Intan termasuk gadis cerdas yang suka membaca di
perpustakaan universitas kami.
“Intan, lagi cari buku ya?” Tanya Harun sambil
mengambil buku yang ada di samping intan.
“Ya. Aku lagi cari buku referensi untuk makalah
tugas kelompok pak Zaenal. Kamu juga dapat tugas kelompok juga kan?” Jawab intan sambil
membuka buku yang ia pegang.
“Ya, aku juga ada tugas. Tapi belum selesai si?
Paling juga besok aku ngerjain bareng anak-anak.” Ucap Harus sambil membuka buku
yang ia ambil tadi.
“Kamu dapat pembahasan materi apa untuk
dipresentasikan.”
Tanya Intan sambil membaca sekilas buku yang ia pegang.
“Aku lupa, Intan. Besok aku kasih tau kamu dah. Oia,
ada tugas individu juga kan dari pak Jaja.” Ungkap Harun sambil meletakan
buku yang ia pegang ke rak buku
“Ya, benar. Pecan depan dikumpulkan bukan?” Jawab Intan yang
masih asik membaca sekilas bagian belakang buku yang ia pegang.
“Ya. Aku belum selesai, Tan. Kamu bisa bantu aku
nggak?”
Pinta Harun
“Ehm, ok aku bisa tapi Cuma 1 jam ya, Run. Soalnya
aku harus segera pulang.”
Jawab Intan seolah berpikir panjang.
“Ok. Aku bawa bukunya, betar ya, aku ambil dulu di
loker.”
Ucap harus.
Itu adalah
kesempatan emas yang didapatkan Harun. Ia pun merasa senang. Satu jam
kebersamaan mereka. Haru mengetahui sesuatu yang baru tentang Intan. Dan itu
membuat harun lebih tertarik pada Intan.
“Sini dah Intan, coba kamu liat di notebookku, benar
nggak kaya gini.”
Pinta Harun kepada Intan yang sedang duduk di sebelah harun.
“Ok, aku liat. Oia, harun, maaf, tangan kamu. Aku
mau pegang mouse kamu.”
Ucap Intan.
Harun
cukup terkejut dengan sikap Intan. Biasanya teman gadisnya tak akan berbicara
seperti itu, mereka pasti langsung memegang tangan harun.
***
Harun hampir
putus asa karena usaha yang ia lakukan untuk mendekati Intan seolah sia-sia.
Padahal, dengan terang-terangan ia menunjukkan sikap yang berbeda untuk Intan.
Namun, Intan seolah pura-pura tak mengerti. Itulah yang ditanggkap oleh Harun.
Walaupun demikian, ia belum memutuskan untuk menyerah dalam satu kesempatan
acara klub belajar di tingkat jurusan, ia berhasil mendapatkan no hp Intan dan
tentunya jejaring sosial Intan di dunia maya. harun berkomunikasi via jejaring
sosial Intan terlebih dahulu dan tanggapan positif yang ia dapatkan. Kemudian,
ia beralih untuk sms Intan. Akan tetapi, seolah balasan sms Intan membuat Harun
marah.
Harun
teramat marah kepada Intan. Untuk pertama kalinya, ia menganggap Intan tak ada.
Harun tau, itu membuat senyum diwajah manis Intan sekejap berubah menjadi bingung
tapi harun tak peduli. Kata-kata sms Intan semalam membuatnya marah. Sampai
club belajar selesai, harun seolah menjauh dari Intan. padahal sebelumnya,
harun selalu mendekati intan.
***
Harun
masih marah kepada Intan. padahal hari ini ada acara peringatan untuk club
belajarnya yaitu pentas seni di depan kampus dengan dana seadanya dan
kreativitas sebanyak jumlah anggota clubnya. Sebenarnya, harun sebel sekali
tapi kali ini ia harus benar-benar berkomunikasi dengan Intan. Kini, Intan ada
di hadapannya maka harun tak ada pilihan selain bicara pada Intan agar acara
pentas tersebut sukses.
“Intan, kamu nggak baca smsku tadi?” Tanya Harun ketus.
“Sms, apa? Aku nggak terima sms dari kamu.” Jawab Intan polos.
“Tuh liat aku sms kamu.” Tegas harun sambil menunjukkan
hp ke depan mata Intan.
“Ooo, ya. Tapi nggak ada di aku ya?” Tanya Intan heran.
“Ini nomor kamukan?” Ucap Harun sambil menunjukkan no
hp yang ada di ponselnya.
“Bukan. Pinjam bentar ya hpnya.” Ucap intan sambil
mengambil ponsel yang dipegang Harun.
Wajah
Harun pun semakin bingung. “Lalu aku
salah sms ceritanya,” ucap harun dalam hati.
“Ini bukan nomor aku. ini nomor aku yang aku save di ponselmu.” Ucap Intan sambil
menunjukkan nomornya yang berada di ponsel Harun.
Wajah
muram harun berubah menjadi cerah dan senyum sipu pun kini menghiasi wajah
putihnya. “Ini nomor Intan, teman
sekelasku.” Jawab Harun dengan wajah memerah.
“Jadi kamu salah sms ya, Run?” Ucap Intan.
“Ya.” Jawab Harun.
Intan
seolah tak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang ia tau, kini pertemanan
dengan harun membaik. Insiden kesalah pahaman itu, membuat harun semakin suka
dengan sikap Intan. Seharusnya, Intan marah dengan sikap kekanak-kanakan harun
tapi tidak.
***
Harun
semakin berharap hubungan pertemanan dengan Intan berubah menjadi lebih dari
teman. Maka, ia berusaha mencari peluang. Jadwal kuliah yang padat dan ketidak
sekelasan Harun dan Intan menjadi kendala utamanya. Hal itu membuat mereka
jarang untuk bertemu. Akhirnya kesempatan itu datang, UKM mengadakan acara keluar
kota sebagai usaha untuk mempererat tali silaturahmi anggota yang agak
renggang. Karena itu, kini Harun dan Intan ada di daerah pegunungan bersama
teman satu jurusan. Ia pun mulai mendekati Intan yang sedang berjalan di
halaman vila. Intan, tunggu sebenatr. Ucap harun sambil mendekati Intan
“Ya, ada apa, Run?” Tanya Intan sambil memegang
kertas yang ada di tangannya.
“Kamu belum makan kan? Kita cari makan yuk?” Pinta Harun.
“Cari makan di mana, Run?” Jawab Intan.
“Cari makan di luar villalah.” Ucap harun sambil
cengengesan.
Bentar ya,
aku harus ngurus ini. ungkap Intan sambil mengangkat kertas yang ia pegang.
Intan terus berjalan kea rah Villa dan Harun terpaku mendengar ucapan Intan.
Keberanian untuk mengajak Intan lagi seolah hilang, harun merasa jengkel dan
berusaha untuk membuat Intan cemburu dengan mendekati teman gadis lain di UKM
tersebut. Intan seolah tak mengerti dengan sikap harun karena ketidakpekaannya.
***
Banyak hal
yang telah Harun usahakan untuk dekat dengan Intan. tetapi usaha tersebut belum
membuahkan hasil. Harun berusaha untuk membiasakan rasa yang terlanjur ada
untuk Intan. lalu momen ini pun terjadi. Momen di pertigaan jalan raya menuju
universitas. Momen yang membuat harun yakin bahwa Intan juga memiliki perasaan
yang sama dengannya.
Pertigaan
jalan menjadi saksi bisu pertemuan tak terduga mereka. Adit yang sedang asik
makan ketoprak seolah heran melihat perilaku teman karibnya ini. Harun
mengucapkan kata “Intan” dengan nada terkejut seolah satu tahun tak bertemu
dengan gadis itu. Begitu pula, Intan mengucapkan kata “Harun” dengan nada
terkejut seolah satu abad tak bertemu. Waktu saat itu bagi mereka bagaikan
berjalan dengan perlahan. Najwa yang berada disebelah Intan juga merasakan
keheranan yang sama karena perilaku Intan dan Harun.
“Kalian lagi apa?” Itu pertanyaan spontan yang
terucap oleh Harun.
“Kami dari perpustakaan taman di sana.” Jawab Intan sambil
menunjuk kea rah taman.
“Kalian lagi makan apa?” Tanya Intan dengan nada gugup.
“Kami lagi makan ketoprak ni.” Jawab Adit
“Kami duluan ya.” Ucap Intan.
***
“Kamu kenapa, Tan? Ekspresi dan ucapan kamu aneh pas
nyebut nama ‘Harun’ tadi. Kayanya ada bunga-bunga cinta nih.” Goda Najwa sambil
berjalan beriiringan dengan Intan menuju kampus.
“Nggak apa-apa, Wa.” Ucap Intan seakan menutupi
sesuatu.
“Kalian aneh. Seperti ada sesuatu, kaya ada
cemisteri gitu.”
Ungkap Najwa.
“Kamu bisa aja.” Ucap Intan.
***
“Harun, kenapa loe. Sok cool gitu Cuma nyebut nama ‘Intan’.” Tanya Adit sambil
cekikikan
“Emang gua cool.” Jawab Harun.
“Loe jangan ngarep sama Intan, Mas Brow. Soalnya si
Intan tuh tipe cewe yang nggak kenal yang namanya pacara. Dia tuh maunya
langsung nikah tau.”
Tegas Adit
“Benarkah itu?” Tanya Harun penasaran.
“Ya, temen gua yang namanya Edo juga suka sama si
Intan tapi ya gitu dicuekin abis.” Jelas Adit kepada Harun.
“Pantas saja”, ucap Harun dalam hati.
_Selesai_
Bekasi, 13 Mei 2015




Tidak ada komentar:
Posting Komentar