Selasa, 25 September 2018

Intan







Oleh : NKITD

Sudah lama aku tak melihatnya dan berbicara padanya. Ya, dia seorang gadis yang sederhana, berwajah manis, berjilbab sebagaimana gadis kebanyakan berjilbab, dan satu hal yang menjadi cirri khas di antara gadis yang lain, yakni dia adalah satu dari beberapa gadis yang menggunakan rok. Aku sama sekali tak pernah melihat ia menggunakan celana panjang. Ya, aku ingat hanya sekali, itu pun mungkin karena terpaksa.

“Harun, harun, kamu tuh emang pecinta perempuan ya.” Ucap Adit sambil berlari perlahan.

“Siapa, aku? masa si.” Jawab harun dengan santai sambil mendahului langkah kaki adit berlari.

“Nggak usah deh, kamu liatin si Intan.” Lanjut Adit dengan nafas terengah-engah lelah karena badannya yang over sambil mengelap tangan ke wajahnya yang penuh dengan keringat.

“Emang kalo gua liat si Intan salah ya, gua aneh aja, baru kali ini gua liat si intan pake celan?” Elak Harus sambil cengengesan.

“Tuh kan bener, sebegitu perhatiannya loe sama si Intan.” Tegas Adit.

“Udahlah brow, nggak usah dibahas mendingan kita balapan lari aja.” Pinta Harun.

Dalam hati Harun berkata, “Sial, ketebak gua sama si Adit.”



Harun pun berlari mendahului Adit serta rombongan gadis yang berlari perlahan di depan mereka termasuk Intan dan kawan-kawannya yang seragam mengenakan jilbab. Lari pagi di pelabuhan ratu ini adalah peristiwa langka karena ini merupakan satu kegiatan dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di universitas. Itu adalah awal aku benar-benar memperhatikan Intan, gadis manis berjilbab itu. Setelah itu, aku semakin tertarik dengannya dan berusaha untuk mendekatinya di rapat UKM, dan tentunya di perpustakaan. Intan termasuk gadis cerdas yang suka membaca di perpustakaan universitas kami.

“Intan, lagi cari buku ya?” Tanya Harun sambil mengambil buku yang ada di samping intan.

“Ya. Aku lagi cari buku referensi untuk makalah tugas kelompok pak Zaenal. Kamu juga dapat tugas kelompok juga kan?” Jawab intan sambil membuka buku yang ia pegang.

“Ya, aku juga ada tugas. Tapi belum selesai si? Paling juga besok aku ngerjain bareng anak-anak.” Ucap Harus sambil membuka buku yang ia ambil tadi.

“Kamu dapat pembahasan materi apa untuk dipresentasikan.” Tanya Intan sambil membaca sekilas buku yang ia pegang.

“Aku lupa, Intan. Besok aku kasih tau kamu dah. Oia, ada tugas individu juga kan dari pak Jaja.” Ungkap Harun sambil meletakan buku yang ia pegang ke rak buku

“Ya, benar. Pecan depan dikumpulkan bukan?” Jawab Intan yang masih asik membaca sekilas bagian belakang buku yang ia pegang.

“Ya. Aku belum selesai, Tan. Kamu bisa bantu aku nggak?” Pinta Harun

“Ehm, ok aku bisa tapi Cuma 1 jam ya, Run. Soalnya aku harus segera pulang.” Jawab Intan seolah berpikir panjang.

“Ok. Aku bawa bukunya, betar ya, aku ambil dulu di loker.” Ucap harus.



Itu adalah kesempatan emas yang didapatkan Harun. Ia pun merasa senang. Satu jam kebersamaan mereka. Haru mengetahui sesuatu yang baru tentang Intan. Dan itu membuat harun lebih tertarik pada Intan.

“Sini dah Intan, coba kamu liat di notebookku, benar nggak kaya gini.” Pinta Harun kepada Intan yang sedang duduk di sebelah harun.

“Ok, aku liat. Oia, harun, maaf, tangan kamu. Aku mau pegang mouse kamu.” Ucap Intan.



Harun cukup terkejut dengan sikap Intan. Biasanya teman gadisnya tak akan berbicara seperti itu, mereka pasti langsung memegang tangan harun.

***

Harun hampir putus asa karena usaha yang ia lakukan untuk mendekati Intan seolah sia-sia. Padahal, dengan terang-terangan ia menunjukkan sikap yang berbeda untuk Intan. Namun, Intan seolah pura-pura tak mengerti. Itulah yang ditanggkap oleh Harun. Walaupun demikian, ia belum memutuskan untuk menyerah dalam satu kesempatan acara klub belajar di tingkat jurusan, ia berhasil mendapatkan no hp Intan dan tentunya jejaring sosial Intan di dunia maya. harun berkomunikasi via jejaring sosial Intan terlebih dahulu dan tanggapan positif yang ia dapatkan. Kemudian, ia beralih untuk sms Intan. Akan tetapi, seolah balasan sms Intan membuat Harun marah.



Harun teramat marah kepada Intan. Untuk pertama kalinya, ia menganggap Intan tak ada. Harun tau, itu membuat senyum diwajah manis Intan sekejap berubah menjadi bingung tapi harun tak peduli. Kata-kata sms Intan semalam membuatnya marah. Sampai club belajar selesai, harun seolah menjauh dari Intan. padahal sebelumnya, harun selalu mendekati intan.

***

Harun masih marah kepada Intan. padahal hari ini ada acara peringatan untuk club belajarnya yaitu pentas seni di depan kampus dengan dana seadanya dan kreativitas sebanyak jumlah anggota clubnya. Sebenarnya, harun sebel sekali tapi kali ini ia harus benar-benar berkomunikasi dengan Intan. Kini, Intan ada di hadapannya maka harun tak ada pilihan selain bicara pada Intan agar acara pentas tersebut sukses.

“Intan, kamu nggak baca smsku tadi?” Tanya Harun ketus.

“Sms, apa? Aku nggak terima sms dari kamu.” Jawab Intan polos.

“Tuh liat aku sms kamu.” Tegas harun sambil menunjukkan hp ke depan mata Intan.

“Ooo, ya. Tapi nggak ada di aku ya?” Tanya Intan heran.

“Ini nomor kamukan?” Ucap Harun sambil menunjukkan no hp yang ada di ponselnya.

“Bukan. Pinjam bentar ya hpnya.” Ucap intan sambil mengambil ponsel yang dipegang Harun.



Wajah Harun pun semakin bingung. “Lalu aku salah sms ceritanya,” ucap harun dalam hati.

“Ini bukan nomor aku. ini nomor aku  yang aku save di ponselmu.” Ucap Intan sambil menunjukkan nomornya yang berada di ponsel Harun.



Wajah muram harun berubah menjadi cerah dan senyum sipu pun kini menghiasi wajah putihnya. “Ini nomor Intan, teman sekelasku.” Jawab Harun dengan wajah memerah.

“Jadi kamu salah sms ya, Run?” Ucap Intan.

“Ya.” Jawab Harun.

Intan seolah tak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang ia tau, kini pertemanan dengan harun membaik. Insiden kesalah pahaman itu, membuat harun semakin suka dengan sikap Intan. Seharusnya, Intan marah dengan sikap kekanak-kanakan harun tapi tidak.

***

Harun semakin berharap hubungan pertemanan dengan Intan berubah menjadi lebih dari teman. Maka, ia berusaha mencari peluang. Jadwal kuliah yang padat dan ketidak sekelasan Harun dan Intan menjadi kendala utamanya. Hal itu membuat mereka jarang untuk bertemu. Akhirnya kesempatan itu datang, UKM mengadakan acara keluar kota sebagai usaha untuk mempererat tali silaturahmi anggota yang agak renggang. Karena itu, kini Harun dan Intan ada di daerah pegunungan bersama teman satu jurusan. Ia pun mulai mendekati Intan yang sedang berjalan di halaman vila. Intan, tunggu sebenatr. Ucap harun sambil mendekati Intan

“Ya, ada apa, Run?” Tanya Intan sambil memegang kertas yang ada di tangannya.

“Kamu belum makan kan? Kita cari makan yuk?” Pinta Harun.

“Cari makan di mana, Run?” Jawab Intan.

“Cari makan di luar villalah.” Ucap harun sambil cengengesan.



Bentar ya, aku harus ngurus ini. ungkap Intan sambil mengangkat kertas yang ia pegang. Intan terus berjalan kea rah Villa dan Harun terpaku mendengar ucapan Intan. Keberanian untuk mengajak Intan lagi seolah hilang, harun merasa jengkel dan berusaha untuk membuat Intan cemburu dengan mendekati teman gadis lain di UKM tersebut. Intan seolah tak mengerti dengan sikap harun karena ketidakpekaannya.

***



Banyak hal yang telah Harun usahakan untuk dekat dengan Intan. tetapi usaha tersebut belum membuahkan hasil. Harun berusaha untuk membiasakan rasa yang terlanjur ada untuk Intan. lalu momen ini pun terjadi. Momen di pertigaan jalan raya menuju universitas. Momen yang membuat harun yakin bahwa Intan juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Pertigaan jalan menjadi saksi bisu pertemuan tak terduga mereka. Adit yang sedang asik makan ketoprak seolah heran melihat perilaku teman karibnya ini. Harun mengucapkan kata “Intan” dengan nada terkejut seolah satu tahun tak bertemu dengan gadis itu. Begitu pula, Intan mengucapkan kata “Harun” dengan nada terkejut seolah satu abad tak bertemu. Waktu saat itu bagi mereka bagaikan berjalan dengan perlahan. Najwa yang berada disebelah Intan juga merasakan keheranan yang sama karena perilaku Intan dan Harun.

“Kalian lagi apa?” Itu pertanyaan spontan yang terucap oleh Harun.

“Kami dari perpustakaan taman di sana.” Jawab Intan sambil menunjuk kea rah taman.

“Kalian lagi makan apa?” Tanya Intan dengan nada gugup.

“Kami lagi makan ketoprak ni.” Jawab Adit

“Kami duluan ya.” Ucap Intan.

***

“Kamu kenapa, Tan? Ekspresi dan ucapan kamu aneh pas nyebut nama ‘Harun’ tadi. Kayanya ada bunga-bunga cinta nih.” Goda Najwa sambil berjalan beriiringan dengan Intan menuju kampus.

“Nggak apa-apa, Wa.” Ucap Intan seakan menutupi sesuatu.

“Kalian aneh. Seperti ada sesuatu, kaya ada cemisteri gitu.” Ungkap Najwa.

“Kamu bisa aja.” Ucap Intan.

***

“Harun, kenapa loe. Sok cool gitu Cuma nyebut nama ‘Intan’.” Tanya Adit sambil cekikikan

“Emang gua cool.” Jawab Harun.

“Loe jangan ngarep sama Intan, Mas Brow. Soalnya si Intan tuh tipe cewe yang nggak kenal yang namanya pacara. Dia tuh maunya langsung nikah tau.” Tegas Adit

“Benarkah itu?” Tanya Harun penasaran.

“Ya, temen gua yang namanya Edo juga suka sama si Intan tapi ya gitu dicuekin abis.” Jelas Adit kepada Harun.

“Pantas saja”, ucap Harun dalam hati.

_Selesai_

Bekasi, 13 Mei 2015







Tidak ada komentar:

Posting Komentar