Selasa, 25 September 2018

Tanda Kasih



Oleh : NKITD

Sang surya melebihi tiang bendera, seorang siswa memancarkan aura kebahagiaan, bersandar duduk dipojok kelas. Pandangan matanya terus terarah pada satu bingkisan berplastik hitam yang berada di hadapannya. Suasana kelas sepi, jauh dari hiruk-piruk suara canda-tawa anak smp. Di dalam kelas ia hanya sendiri karena bel istirahat telah berbunyi 10 menit yang lalu. Bingkisan itu melahirkan kebahagiaan yang sangat di dalam hatinya, sehingga ia putuskan untuk berada di kelas saja. Ia hanya berkata kepada teman karibnya Qia, ”Aku malas ke kantin, kamu duluan saja.”

* * *

            Ia hanyalah seorang remaja bernama Rina, dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ayahnya adalah seorang guru honorer di daerahnya. Ia tinggal di daerah terpencil, untuk mendatangi keramaian pasar ia harus naik angkutan umum selama satu jam. Rina adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Antara anak yang satu dengan yang lain hanya berjarak 1 tahun paling lama 2 tahun. Pernah sekali ia mengeluh kepada ibunya dengan berkata, ”Ibu, belikan Rin tas yang baru?”

Ibunya berkata lembut diiringi dengan sentuhan lembut tepat di rambut Rina, ”Kamu pakai saja tas itu ya Nak? Kalau ada uang Insya Allah akan ibu belikan.”

Dengan senyum paksa rina menjawab, ”Baiklah Ibu.”

Dalam hatinya ia berkata, ”Sudah aku duga pasti jawaban ibu seperti itu. Ya, sudahlah.”

* * *

            Saat ini ia hanyalah pelajar kewajibannya adalah belajar dan sekolah. Karena itu apapun yang terjadi Rina selalu berangkat ke sekolah walaupun sering tidak diberikan uang saku. Untungnya sekolahnya bisa ia jangkau dengan berjalan kaki. Saat ia tidak mendapatkan uang saku, setiap istirahat ia pergi ke perpustakaan atau belajar di dalam kelas sendiri. Terkadang ia merasa geram jika ada beberapa temannya yang menyianyiakan makanannya dengan cara yang mubazir. Pernah waktu itu ia melihat seorang temannya yang bernama Rasti sedang asik berbicara kepada Romi sambil minum es beberapa sedot dan langsung membuangnya ke tempat sampah, sungguh miris. Dalam hatinya ia berkata, ”Sayang sekali, padahal esnya masih banyak.”

* * *

”Baiklah anak-anak, Bapak akan mengambil nilai untuk lari jarak jauh. Jadi kalian harus mengelilingin lingkungan sekolah selama 2 kali putaran.” Kata Guru Olahraga

”Ya, Pak.” Jawab teman-teman Rina serempak

Barisanpun sudah dalam keadaan baik dan benar, setiap baris terdiri dari lima siswa. Rina berada di barisan kedua pada urutan terakhir, sedangkan evi teman baiknya berada pada urutan keempat satu baris dengannya. Dalam hati Rina berkata, ”Sepatunya kuat tidak ya.”

Sepatu Rina kini memasuki taraf kurang layak pakai, sudah banyak lubang yang agak besar di bagian sampinya dan alasnya juga sudah belah. Sepat ingin sekali ia mengatakan pada Orang tuanya untuk membelikan ia sepatu baru, tapi tidak mungkin. Hampir saja ia ingin mengatakannya pada malam menjelang tidur di ruang tamu, namun ia urung melakukannya. Uang yang orang tua rina dapatkan lebih baik digunakan untuk keperluan sekolah adiknya daripada harus digunakan untuk membeli sepatu, begitulah pikirnya saat itu.

Pernah sekali temannya berkata. ”Ya ampun Rina, kamu ko masih pakai sepatu yang tidak layak pakai si.”  Rina hanya tersenyum miris tanpa berkata apa-apa.

* * *

Assalamualaikum, Mamah.” Ucap rasti ketika memasuki rumahnya.

”Waalaiku salam.” Jawab mamah Rasti

”Kamu sduah pulang, Nak.” ucap mamah ketika Rasti mencium tangan mamahnya.

”Ya, Mah. Hari ini rasti tidak ada sekul.” Jawab Rasti.

”Oo, begitu. Kamu makan dulu ya sebelum shalat?” Saran mamah rasti sambil menyiapkan makanan di meja makan.

”Ya, Mah.” Jawab Rasti sambil duduk di meja makan.

”Kamu makan yang banyak ya, Nak.” Ucap mamah sambil menyendok nasi untuk Rasti

”Ya, Mah. Mamah lihat sepatu rasti yang waktu itu dibelikan ka Rizal?” tanya rasti sambil menguyah beberapa butir nasi.

”Sepatu yang mana, sepatu kamukan banyak.” Ucap mamah Rasti

”Itu loh mah, sepatu sekolah yang ukurannya tidak pas sama aku.” Urai Rasti.

”Oo, sepatu yang satu bulan lalu dibelikan ka rizal.”  Ucap mamah Rasti

”Ya, Mah.” Jawab Rasti

”Nanti mamah cariin ya, Nak? sekarang kamu makan dulu.” Saran mamah

”Ya, Mah.” Jawab Rasti

Setelah selesai makan, rastipun bergegas untuk shalat dzuhur yang berkumandang 2 jam yang lalu. Setelah shalat rasti kembali menemui mamahnya yang sedang mencari sepatu. ”Sudah ketemu, Mah sepatu yang rasti maksud.” ucap rasti halus

”Belum, Nak. mamah lupa meletakkannya dimana?”

”Dimana ya? Rasti juga lupa.” Tambah rasti

Beberapa saat kemudian rastipun berkata. ”Oia kemarin aku letakkan di dalam lemarin.”

”Kamu itu kebiasaan sekali.” ucap mamah

”Maaf mah. Biasa akukan lupaan orangnya.” Jawab Rasti sambil meenunjukkan giginya.

”Ya sudah. Memang sepatu itu mau kamu apakan rasti? Tanya mamah

”Rahasia.” Ucap Rasti

”Kamu itu.” Kata mamah Rasti

”Ini sepatu untuk temanku mamah, daripada tidak aku pakai lebih baik buat dia.” Jelas Rasti.

”Anak mamah perhatian sekali.” Puji mamahnya

”Ya donk, Rasti.”Jawab Rasti

”Baru dipuji sedikit sudah sombong.” Tukas mamah

* * *

Tidak seperti biasanya hari ini Rasti berangkat ke sekolah lebih awal. Hal itu membuat keluarganya menjadi bingung. Kakanyapun berkata, ”Tumben kamu sudah rapi jam segini.” Rasti hanya unjuk gigi tanpa berkata apapun pada kakaknya yang sedang menikmati sarapan pagi bersama ibu dan ayahnya. Rasti langsung menyantap makan pagi dan berpamitan pada kedua orangtuanya dan kakaknya.

”Assalamualaikum.”  Ucap Rasti berlalu meninggalkan ruang makan.

”Waalaikum salam.” Jawab keluarganya serempak.

Hati-hati di jalan ya, Nak?” Ucap papah.

”Ya. Papah.” Jawab Rasti.

Rastipun berlalu, sementara itu kaknya rizal merasa aneh kiarena adiknya rasti memegang bingkisan yang berlapiskan plasti hitam. Rizapun bertanya, ”Mah, Rasti bawa apa?”

”Oo, itu. Dia bawa sepatu untuk diberikan kepada temannya.” Jawab mamah.

”Mulia sekali hatinya.” Ucap papah.

”Siapa dulu Mamahnya.” Tukas mamah.

”Siapa dulu Kakaknya donk, Mah.” Sela Rizal.

”Sudah-sudah kalian berdua ini ada-ada saja.” Ucap Papah.

* * *

Seperti yang telah ia pikirkan sebelum berangkat bahwa Rina pasti sudah datang lebih dulu dari teman-temannya. Rina sedang menyapu kelas karena saat ini adalah jadwal piketnya. Pekerjaannya hampir selesai, tinggal mengeduk sampahnya.

”Assalamualaikum, Rina.” Ucap Rasti

”Waalaikum salam.” Jawab Rina

Setelah Rasti duduk di bangkunya, rinapun selesai. Rastipun berkata, ”Rina ke sini sebentar.” Kata Rasti

”Ada apa, Ti?”  Tanya Rina

”Ini untuk kamu.” Ucap Rasti sambil memberikan bingkisan berplastik hitam.

”Apa ini, Ti?” Tanya Rina

”Kamu lihat saja.” Saran Rasti

”Ya, ampun ini sepatu untuk aku?” Tanya Rina memastikan

”Ya, Aku harap kamu bisa terima walaupun ini bukan sepatu baru.” Ucap Rasti dengan hati-hati

”Makasih rasti. Ini semua sudah lebih dari cukup.” Jawab Rina

            Pemberian Rasti membuat Rina bahagia sampai-sampai ia enggan untuk ke kantin pada jam istirahat. Rina merasa ini adalah tanda kasih dari yang terkasih, dan ia tak pernah menduga bahwa yang terkasih itu adalah Rasti. Teman yang tak pernah ia kira akan melakukan hal ini. Begitu baiknya Rasti sampai-sampai ia memperhatikan hal yang seperti ini. Berbeda sekali dengan temannya sarah yang mencemoohnya tanpa bisa memberikan apapun.




Pengertianmu







Oleh : NKITD

Pagi menyingsing, suara alam merdu mendayu-dayu diiringi surya yang gagah mulai menampakkan diri. Seorang gadis belia tertidur pulas dalam buaian mimpi anugerah dari Ilahi. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi menandakan bahwa satu pesan telah diterima. Hal tersebut menyadarkan ia dari tidur yang cukup panjang. Dengan kekuatan seadanya diambilah ponsel itu yang berada tepat di atas meja tak jauh dari tempat tidurnya.

”Kamu tega sekali sama aku Via, aku masih cinta padamu. Lebih baik aku mati daripada kita tak bisa bersama lagi.”

Satu pesan singkat itu mampu membuat mata Via terbuka lebar dan mendetakkan jantungnya lebih cepat dari biasanya. Sejenak ia bergumam, ”Ya ampun, apa yang harus aku lakukan?”

Beberapa saat kemudia, dengan mengucapkan bismillah, Viapun membalas pesan singkat tersebut.

”Begitu sempit jalan pikiran kamu, apakah Cuma karena hal semacam ini kamu mau mengakhiri hidupmu.”

Beberapa menit kemudia ada pesan singkat dari Teguh.

”Aku tidak peduli, yang aku inginkan kita tetap bersama selamanya.”

Viapun membalas, ”Percuma saja kita bersama karena aku sudah tak cinta lagi denganmu.”

Teguh membalas pesan tersebut, ”Semudah dan secepat itukah kamu melupakan aku, padahal kita putus baru beberapa hari. Aku masih sayang padamu, Vi.”

Via membalas, ”Yang lalu biarlah berlalu Guh, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.”

Teguh membalas, ”Aku hanya ingin bersamamu, Vi.”

Via membalas, ”Cinta itu tak harus memiliki, Guh.”

Teguh membalas, ”Kalau kamu tidak ingin bersamaku lagi lebih baik aku mati, aku sudah cukup tersiksa dengan keputusanmu yang tidak masuk akal itu.”

Viapun merasa terpojok setelah mendapatkan pesan singkat penghabisan itu, tak ada katapun yang mampu ia ciptakan untuk menyakinkan lelaki itu untuk menerima keputusan yang telah ia ambil. Kebisuan ciptakan gumamnya, ”Bagaimana kalau itu sampai terjadi, aku tidak mau disalahkan atas kematiannya. Sebenarnya apa yang ada di dalam benaknya, sungguh kekanak-kanakan.”

* * *

Pesan singkat yang ia dapatkan kemarin berhasil membuat perasaannya tidak tenang dan merenggut keceriaan yang biasanya tercermin dari wajahnya yang bulat. Padahal tugas-tugas mata kulaihnya menumpuk.

“Kamu kenapa, Vi. Tidak seperti biasanya kamu seperti ini.” Ucap ibu dengan air muka yang lembut ketika masuk ke dalam kamar Via. D

“Tak apa-apa, Bu. Hanya sedikit pusing saja dengan tugas yang menumpuk.” Jawab Via menyakinkan

“Ya sudah, kamu istirahat dulu supaya besok bisa bangun pagi untuk berangkat kuliah.” Kata Ibu lembut

“Baiklah, Bu.” Jawab Via

“Oia, kamu sudah shalat Isya kan?” Tanya Ibu

“Sudah, Bu.” Jawab Via

“Jangan lupa baca doa sebelum tidur.” Saran Ibu

“Ya, Bu.” Jawab Via

Lampu kamarpun dipadamkan ibu ketika keluar dari kamar Via. Dalam kegelapan yang biasanya mampu untuk membuatnya tertidur nyenyak kini tidak demikian. Via masih memikirkan pesan singkat yang ia dapatkan kemarin. Ingin rasanya ia ceritakan itu semua dengan Ibunya tetapi tidak mungkin menurutnya. Padahal setiap ada masalah biasanya Via selalu mencurahkan kepada ibunda tercintanya. Kesibukan ibunya mengurus Via dan dua orang adiknya tak membuat kasih sayang dan perhatian ibunya berkurang kepada anak-anaknya. Tanpa Via inginkan untuk tidur matanyapun memaksanya untuk nyenyak dalam gelapnya malam.

Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari, tiba-tiba Via terbangun dari tidurnya dan mengeluarkan peluh yang terus bercucuran. Ada perasaan aneh yang ada dalam hatinya, ia merasa waswas. Anehnya ia sama sekali tidak ingat, mimpi apakah yang membuat ia terkejut seperti itu. Iapun melihat handphonenya, ternyata ada pesan singkat dari Teguh yang dia kirimkan pada pukul 2 dini hari.

“Sekarang kamu puas, Vi. Tega sekali kamu. Saat ini aku tidak tahu ada dimana, sama halnya dengan perasaanku yang tak tahu harus melakukan apa untuk melupakanmu. Kamu puas karena telah berhasil membuat aku seperti ini.”

Viapun berkata dalam hati, “Apakah mimpi tadi ada kaitannya dengan teguh.”

* * *



Suasana kampus hari ini berbeda dengan hari biasanya menurut Via. Sejak sampai di kelas Via murung dan langsung duduk di tempat duduknya. Beberapa saat kemudian datanglah Silvi, sahabat baiknya sejak awal kuliah. Silvi langsung duduk di sebelah tempat duduk Via dan berkata, ”Sepertinya ada yang beda. Kamu ada masalah apa Vi?”

”Ya, Sil. Aku punya masalah mengenai hubunganku dengan Teguh.” Jawab Via

”Ada apa dengan Teguh, Vi?” Tanya Silvi

”Aku sudah memutuskan hubungan dengannya beberapa hari yang lalu, Sil.” Ucap Via

”Benarkah?” Tanya Silvi heran

”Ya, Sil. Aku merasa hubungan ini memang harus berakhir.” Ucap Via

”Akhirnya kamu bisa bersikap Vi. Aku pikir kamu tidak akan memutuskan hubungan dengannya.” Jawab Silvi

”Tapi ia tidak menerima begitu saja, Sil. Ia menerorku dengan pesan singkat.” Ucap Via sambil memberikan handphonenya kepada Silvi.

”Ya, ampun.” Ucap Silvi heran ketika ia membaca pesan singkat dari Teguh.

”Aku takut, ia akan melakukannya Sil.” Ucap Via khawatir

”Semoga saja tidak, Vi. Kita tunggu Tara dan Raras dulu ya, Vi? Karena aku tidak tahu pasti apa yang harus kamu lakukan. Mungkin Tara dan Raras bisa memberi masukan karena mereka berdua berpengalaman.” Jawab Silvi menyakinkan

Beberapa menit kemudian Tara dan Raras datang ke kelas langsung mendekati Silvi dan Via.

”Ada apa, pagi-pagi kalian berdua sudah sampai ke kampus mendahului kita.” Ucap Raras dengan nada bergurau.

”Ya, ni. Pasti nanti siang hujan.” Tambah Tara

“Ya, ya sudahlah.” Jawab Silvi dengan tawa khasnya

“Vi, ko kamu diam? Biasanya kamu yang paling senang membalikan lelucon dari kita.” Ucap Raras heran

“Saat ini aku tidak bersemangat, Ras.” Jawab Via

“Coba lihat ini.” Kata Silvi sambil memberikan handphonenya kepada Raras dan Tara

”Sungguh kekanak-kanakan.” Jawab Tara dan Raras bersmaan

”Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Via

”Kamu jangan terlalu menghiraukannya, Vi. Belum tentu ia benar-benar melakukannya.” Saran Tara

Percakapan itu terus berlangsung, teman-teman Via berusaha untuk menyakinkan Via bahwa kemungkinannya kecil Teguh melakukan hal itu. Percakapan terpotong karena beberapa teman sekelasnya datang.

* * *

Aku tidak akan membiarkan ini semua, aku harus menemui Teguh. Ucap Via dalam hati.

Karena dosen mata kuliah yang bersangkutan tidak datang akhirnya Via memutuskan untuk pulang lebih awal. Setelah berpamitan dengan temannya akhirnya. Ia tak langsung pulang ke rumahnya, tetapi ia ingin bertemu dengan Teguh untuk menyelsaikan persoaalan yang terjadi. Setelah Via mengirim pesan singkat kepada Teguh untuk bertemu di Taman kota.

Suasana taman kotapun sepi karena waktunya matahari memancarkan panasnya dengan maksimal. Via berada tepat di bawah pohon besar untuk menghindari panasnya matahari. Setelah ia menunggu 10 menit, akhirnya teguhpun sampai. Percakapan langsungpun terjadi antara Teguh dan Via.

”Vi, apakah kita benar-benar tidak bisa bersama lagi seperti dulu?” Tanya Teguh

”Tidak bisa, Guh.” Jawab Via Mantap

”Apakah kamu sudah menyukai laki-laki lain?” Tanya Teguh

”Tentu saja tidak.”

”Lalu kenapa? Kamu senang melihat aku menderita, Vi.”

”Aku juga menderita, Guh. Lebih dari kamu. Apa maksud kamu untuk mengirim pesan singkat seperti itu. Aku sakit, Guh. Kamu teror aku seperti ini.” Ucap Via menyakinkan sambil menepuk-nepuk dadanya dengan kencang

Kontak Teguhpun kaget melihat Via seperti itu.

”Keputusan aku sudah bulat, Guh. Aku tidak bisa bersama kamu lagi. Kamu harus mengerti dan jangan pernah lakukan hal-hal yang aneh-aneh.”

”Tapi, Vi.” Ucap Teguh sambil mencoba meraih tangan Via namun gagal.

”Cukup, Guh. Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.” Saran Via

”Vi, Aku..”

”Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.” Ucap Via sambil berlalu meninggalkan Teguh.

Teguh hanya terpaku dan membisu dengan apa yang diucapkan oleh Via. Dia heran kenapa Via bisa bersikap seperti itu kepadanya. Yang ia pikirkan Via sangat menyukainya.


















Surya Memudar


Oleh ; NKITD

Setiap pagi aku selalu melihatnya melalui jedela kamarku, ia berjalan dan leyap entah kemana. Dia adalah seorang pemuda yang tidak aku ketahui namanya, entah kenapa setiap aku melihatnya aku merasa suatu saat nanti kita akan berteman baik.

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana dan mempunyai 3 orang adik, 1 perempuan dan 2 laki-laki. Orang tuaku memberi nama Laras, adik laki-lakiku bernama Iras dan Tio sedangkan adik perempuanku bernama Sasa. Seragam putih biru selalu aku kenakan setiap hari senin sampai kami. Saat ini aku bersekolah di SMP Tunas Indah kelas 2 semester 2. Pendidikan agama yang diberikan orang tua kamipun cukup sehingga perempuan dikeluarga kami mengenakan jilabab.

Orang tua kami selalu menasehati agar kami tidak pacaran terlebi dahulu karena dikhawatirkan akan mengganggu sekolah kami. Aku mengerti dan berusaha untuk menjalaninya. Tapi apa boleh buat waktu membawaku untuk mengenal pemuda itu. Berkat persahabatan antara aku dan rere maka aku bisa mengenal pemuda itu. Ternyata ia bernama Surya, bersekolah di semester yang sama denganku dan sekolahnya tak jauh dari sekolahku. Sayangnya ia telah menjalin hubungan dengan seseorang dan aku mengenalnya. Seketika harapan untuk dekat dengannya sirna, karena aku tidak ingin menjadi penghalang antara mereka berdua.

* * *



“Hari ini panas sekali, sudah panas pulang sendirian lagi. Sungguh terlalu, Rere kemana lagi.” Ucap laras

Tiba-tiba Laras mendengar suara seorang pria yang memanggilnya, iapun menoleh. Ternyata Surya yang memanggil namanya. Suryapun berkata, “Lagi ngelamun ya?”

“Ehm, ya. Biasa berjalan sambil berpikir.” Ucap Laras dengan senyu yang merona di muka kemerahannya.

“Pastas saja dari tadi aku panggil. Eh.. kamu malah jalan terus.”  Kata Surya

”Maaf ya, semoga kamu bisa maklum.” Jawab Laras

”Ya, bisa ko. Tenang saja.” Ucap Surya

”Kamu tidak pulang sekolah bersama Dian?” Ucap Laras spontan

”Tidak, biasa dia ada urusan dengan organisasinya.” jawab surya

”oo. Begitu.” Kata Laras

”Kamu sendiri, sendirian. Biasanya selalu berdua dengan Rere.” Tanya Surya

”Ya, Rere ada urusan di sekolah jadi aku pulang sekolah duluan dech.” Jawab Laras

Perjalanan pulang sekolahpun menjadi lebih berwarna, bagi Laras karena ada surya yang menjadi teman seperjalanannya. Suasana kaku yang dulu sempat tercipta antara Laras dan Suryapun berubah menjadi hangat dan bersahabat. Dan setiap Rere dan Dian mempunyai urusan di sekolah maka Laras dan Suryapun menjadi teman seperjalanan, begitulah seterusnya.

            Perjalanan itu menjadi kunci untuk membuka isi hati antara Laras dan Surya. Walaupun seperti itu Laras tetap berpikir kalau ia sudah merasa bahagia bila ia bisa bersahabat dengan surya tanpa mengharapkan menjalin hubungan yang khusus dengannya.

* * *

”Dian mendua aku, Laras.” Ucap Surya ketika mereka pulang sekolah bersama. Wajah surya yang bersih kini diliputi oleh awan hitam kesedihan.

”Benarkah?” Ucap Laras heran

”Ya, Ras. Kemarin aku sudah bertanya kepanya dan ia mengaku. Setelah itu dia memutuskan hubungan yang sudah kita bangun selama 1 tahun.” Jawab Surya

”Ya, sudahlah. Kamukan laki-laki, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik daripada Dian.” Ucap Laras

”Aku sedih, Ras.” Kata Surya

”Ya, aku ngerti. Tapikan kamu laki-laki, jangan terlalu serius memikirkan hal itu. Aku akan menjadi sahabatmu dan mendengarkan keluh kesahmu. Ok?” Hibur Laras

”Makasih ya, Ras? Kamu selalu ada untukku.” Jawaban Surya

”Ya, sama-sama. Kamu juga selalu ada saat aku butuh teman pulang sekolah.” Hibur Laras

Percakap itupun berakhir dengan tawa dan canda yang mereka ciptakan dengan lelucon ala anak sekolahan.

* * *

            Sejak Laras mengetahui hubungan Surya dan Dian berakhir, entah mengapa ia merasa lebih bahagia dari biasanya. Iapun merasa bingung, kenapa ia bisa seperti itu?. Iapun menemui Rere untuk menjelaskan apa sebenarnya yang ia rasakan. Halaman belakang rumah Rere menjadi saksi bisu percakapan antara Laras dan Rere.

”Rere, kamu sudah tahukan kalau aku merasakan hal yang berbeda setiap berada di dekat Surya. Aku merasa bahagia.” Ucap Laras

”Ia, aku tahu. Masalahnya apa?” Jawab Rere

”Aku bingung apakah ini yang dinamakan suka?” Kata Laras

”Aku pikir juga begitu. Itulah yang namanya suka.” Jawab Rere

”Tapi aku tak mungkin bisa menjalin hubungan dengannya Re.” Keluh Laras

”Kenapa tidak?” Ucap Rere

”Karena kedua orang tuaku sudah memberi nasehat supaya aku tidak pacaran dulu.” Ucap Laras

”Ya, kalau begitu ya jangan dulu.” Jawab Rere

“Tapi.. ya  sudahlah kalau jodoh juga tak lari kemana.” Kata Laras

”Cie,, yang pasrah.” jawab Rere

”Ya, ya.” Ucap Laras

“Aku percaya keputusan yang kamu ambil adalah keputusan yang terbaik bagi semuanya.” Kata Rere

“Amien. Ini rahasia diantara kita ya Re. Kamu jangan sampai mengatakannya kepada Surya. Ok?” Jawab Laras

”Ya, tenang saja.” Ucap Sarah dengan sungguh-sungguh

Percakapan itupun berlanjut dengan pembahasan yang tidak jelas arahnya. Seperti biasa percakapan itu berakhir dengan canda dan tawa.

* * *

Bel sekolahpun berbunyi menandakan waktunya pulang sekolah. Seperti biasa Laras langsu menuju kelas Rere yang tak hanya dipisahkan oleh 2 kelas. Mereka berduapun pulang sekolah bersama.

“Hai, Surya.” Ucap Rere

“Hai, Re.” Jawab Surya

Laraspun heran kenapa Surya bisa ada di depan gerbang sekolahnya. Dengan spontan Laraspun berkata, “Ada angin apa ni kamu ada di depan gerbang sekolah kita?”

“Angin pa ya?” Jawab Surya

Dengan nada nyeleneh Rerepun berkata, “Angin cinta kali,, hehehehe.”

Kontak Laras dan Suryapun diam dan wajah mereka berubah memerah.

Sudah-sudah jangan main grogian-grogian gitu dong. Ayo kita jalan?” Ucap Rere

Sebelum pulang sekolah kita makan dulu yuk di Pangkalan Bakso Kece.” Kata Surya

“Aduh, maaf ya aku tidak bisa?” Jawab Laras

“Ayolah, Ras. Kita makan bakso dulu.” Ucap Rere

”Gimana ya, ya sudahlah ayo?” Kata Laras

“Gitu dong.” Ucap Surya

Selesai makan kamipun bercakap-cakap sebentar dan aku pamit duluan karena waktu menunjukkan sudah jam 2. Suryapun menahan dan berkata, ”sebetar dulu Ras, ada yang ingin aku bicarakan.”

”Oo, oke? Ingin bicara apa si Surya.”

Rere hanya cengar-cengir tidak jelas disebelah laras. ”Aku suka sama kamu, maukah kamu menjalin hubungan denganku?” Dengan suara terbata-bata

Laraspun heran dan diam seribu bahasa.

Untung saja Rere membuat Laras menjadi sadar kembali. “Gimana ya Surya? Sebenarnya aku suka sama kamu. Tapi bagaimana kalau kita bersahabat, maksudnya kita tetap menjaga perasaan kita masing-masing. Aduh gimana ya?”

“Ribet kali kamu, Ras. Terima sajalah.” Sela Rere

”Bagaimana ya?” Ucap Laras ragu

”Aku bisa terima apapun pilihan kamu ko, Ras?” Jawab Surya

”Kamu tidak maukan kalau Surya menjalin hubungan lagi dengan Dian.” Sela Rere

Seketika Laraspun berpikir, sebenarnya aku suka Surya tapi bagaimana dengan nasehat ayah dan ibunya. Tapi bagaimana kalau dia menjalin hunbungan lagi dengan Dian, Apakah aku rela melihatnya?”  Ya Tuhan apa yang harus aku pilih. Ucap Laras dalam hati

Akhirnya ia memilih untuk menjalin hubungan dengan Surya ditambah persyaratan yang telah ia ajukan kepada Surya. Persyaratan tersebut diterima oleh Surya dengan lapang dada.

* * *

Hubungan Laras dan Suryapun akhirnya diketahui oleh Dian. Laraspun merasa tak enak hati karena ia merasa kalau Dian masih menyukai Surya. Rasa cemburu kadang merasuk dalam hatinya, mengetahui bahwa Dian dan Surya kini satu kelas. Tapi kesungguhan Surya mampu untuk mengantisipasi rasa cemburunya. Kebahagiaan Laras tak sempurna karena hubungannya dengan Surya tidak diketahui kedua orangtuanya. Ia berusaha untuk menutupinya. Hapir saja Laras di ketahui sedang jalan berdua di toko buku oleh adiknya Iras, untung saja Laras bisa mengatakan bahwa Surya hanya teman biasa. Tapi Iras bukanlah adik yang bodoh karena ia sekarang usianya hanya beda 2 tahun dengan Laras.

* * *

Ketika kami sekeluarga sedang menonton televisi seperti malam-malam biasanya. Tiba-tiba saja ayah Laras berkata, ”Usia kalian masih dini, jadi jangan pacaran dulu ya?” Kontak aku merasa tersinggung atas ucapan ayah. Dan perlahan-lahan Laraspun meninggalkan ruang televisi. ”Apa yang harus aku lakukan Ya Allah. Disisi lain aku sangat menyukai Surya, tapi aku yakin orang tuaku tidak akan menyetujui hubungan kami. Aku tahu sekali orang tuaku sangat tegas terhadap perkataan yang telah mereka katakan.” Ucapnya dalam hati.

Perkataan ayahnya tadi malam membuat Laras merasa bersalah. Ia merasa telah membohongi orang tuanya karena telah melanggar nasehat yang telah diberikan. ”Apakah aku harus memutuskan hubungan ini.” Ucap Laras lirih.

* * *

Dengan keputusan yang bulat akhirnya Laras memutuskan hubungannya dengan Surya yang berjalan hampir 3 bulan. Laras hanya berkata, ”Lebih baik kita akhiri hubungan ini karena aku tidak ingin lagi melukaimu, Surya.” Tanpa mengatakan bahwa kedua orang tuanya tidak menghendaki hubungan itu. Surya bingung dan berkata, ”Apakah ada laki-laki lain yang kamu sukai, Ras?”

Laras menjawab, ”Tentu saja tidak, Maafin aku karena aku tak bisa melanjutkan hubungan ini.” Setelah itu Laraspun pergi meninggalkan Surya yang tengah menundukkan kepalanya.

Di dalam hati Laraspun berkata, ”Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kita. Kalau kita jodoh pasti kita akan dipertemukan kembali Surya. Untuk saat ini aku akan memudarkan bayangmu dari hatiku.”














Akhir Cerita






Oleh : NKITD

Rumah kecil berhiaskan ayaman bambu menjadi saksi kelahirannya dulu. Rumahnya sering berpindah-pindah tapi ayaman bambu selalu jadi hiasan dinding. Ayah dan ibunya bekerja serabutan dan terkadang tak tentu pekerjaannya. Dia adalah seorang remaja dan kedua orang tuanya memberi nama Retno. Retno mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Rasti, usianya kini 3 tahun. Kesibukan ayah dan ibu mengharuskan dia untuk mengasuh rasti. Setiap pulang sekolah dia selalu mengasuh Rasti adiknya, sementara itu kedua orang tuannya bekerja sebagai apa saja. Entah itu jadi kuli bangunan, tukang cuci, pedagang keliling dan sebagainya. 

Keharmonisan keluarganya telah lama memudar bahkan hilang, pemicu utamanya adalah krisis ekonomi yang selalu melanda keluarga kami. Setiap malam ketika Retno dan adiknya terlelap ayah dan ibu selalu bersilat lidah. Entah apa yang mereka perdebatkan tidak dia mengerti. Sekat-sekat ayamanan bambu memang membuat perdebatan itu jelas terdengar tapi usianya yang berajak 13 tahun belum cukup untuk memaknai itu semua. Setiap perdebatan itu terjadi, maka Retno akan menutup telinga adiknya dengan kedua belah tangannya, tak ingin rasanya dia membiarkan adiknya mendengarkan semuanya.

Retnopun merasa sedih karena perdebatan itu selalu terjadi. Kesedihannya terobati ketika dia mengungkapkannya kepada sarah. Sarah adalah sahabat karibnya, sejak kecil kami telah menjalin persahabatan. Kata-katanya selalu membuat Retno lebih baik. Bahkan keluarga sarah menganggap Retno sebagai saudara kandungnya.

Perdebatan itu terjadi lagi malam ini lebih hebat daripada malam-malam sebelumnya. Untung saja adiknya yang kecil tidur nyenyak. Perdebatan itu membuatnya tak bisa tidur, Retno mencoba untuk meresapi apa sebenarnya yang terjadi.

“Tenyata dugaan bapak benarnya, Ibu berselingkuh dengan si Udin bujangan itu.”suara Bapak garang

“Kalau ibu bilang ya, kenapa pa? Bapak mau apa?” Jawab Ibu

”Kamu benar-benar menantangku sum.” Kata Ayah semakin garang

”Ya, memangnya kenapa? Aku berbuat seperti itu karena kamu tidak bisa memenuhi kebutuhan kita. Selalu saja aku yang harus benar-benar membanting tulang untuk memenuhi semuanya sedangkan kamu hanya bekerja setengah keras.”Ucap Ibunya

Aku sudah bekerja keras sum. Aku hanya tamatan sd sum, pekerjaan apa lagi yang bisa aku lakukan.” Jawab Ayah

”Ya, ya selalu saja itu yang kau katan to. Aku sudah tidak sanggup lagi tinggal denganmu. Lebih baik aku pergi dengan si Udin. Dia bisa menjamin kehidupan yang lebih baik darimu.” Ucap Ibu

”Kalau itu maumu, ya sudah pergilah dan jangan kembali lagi ke sini.” Jawab Ayah

”Baiklah aku akan pergi.”Ucap Ibu

Perdebatan malam itu membuat ibuku pergi dari rumah, tanpa membawa aku dan adikku sungguh menyedihkan. Aku ceritakan hal itu kepada sarah, dia hanya memandang iba dan berkata, ”Kamu jangan sedih ya, retno. Aku akan selalu ada untukmu.” Hal itu cukup membuatku kuat untuk menghadapi kenyataan yang telah terjadi.

            Keburukanpun menimpahku, entah apa yang dipikirkan ayah waktu itu ketika aku hendak berangkat sekolah ayah menghalangiku dan memaksa aku untuk memenuhi nafsu bejatnya. Semampuku aku berusaha melawannya dengan kekuatanku tanpa berani utnuk mengeluarkan ucapan sediktpun. Tapi kekatanku tak sebanding dengannya, dia telah mengambil keperawanan anaknya sendiri. Dan tangisku mnganak sungai karena perlakuan ayah padaku. Dan ayah pergi begitu saja setelah melakukan perbuatan keji itu.

            Aku takut ayah akan mengualngi hal itu padaku, akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah dengan uang yang telah aku kumpulkan. Tanpa berpamitan dengan sarah sahabatku. Aku bingung harus kemana, rasanya aku ingin menemuimu ibu. Tapi entahlah, aku bisa menemukan ibu dimana? Tanpa arah dan tujuan yang jelas aku meninggalkan rumah.

* * *

”Assalamualaikum.” Ucap Sarah sambil bergegas masuk rumahnya dan bersalaman dengan ibunya.

”Waalaikum salam.” Jawab Ibunya

”Ibu, sudah dua minggu Retno tidak masuk sekolah.” Kata sarah

”ko, bisa memangnya kenapa? Kamu sudah ke rumahnya untuk memastikan kenapa dia tidak masuk?” Jawab Ibunya heran

”Entahlah ibu, aku tidak tahu. Sarah sudah ke rumahnya tetapi Retno tidak ada. Di rumahnya hanya ada adiknya bermain boneka sendiri.” Ucap Sarah

”Ada kabar yang tidak baik menyebar di lingkungan kita Sar.” Ucap ibu khawatir

”Kabar apa Bu?” Jawab Sarah

”Kalau Retno telah mengalami tindakan bejak Bapaknya. Tapi ibu tidak terlalu yakin, apakah sebelumnya retno pernah bercerita?” Ucap Ibu

”sebelum Retno tidak masuk sekolah, ia sempat berbicara dengannya tapi pembicaraan tersebut terpotong oleh tetesan air mata Bu. Sarah tanya kenapa? Tapi retno tidak menjawab.” Kata Sarah

”Semoga kabar itu tidak benar ya Nak?” Harap Ibu

”Ia, Bu.” Harap Sarah

* * *

”Ya Allah sudah hampir dua bulan, aku tak berjumpa dengan Retno. Dia pergi kemana?” Nyanyian pagi menyaksikan seorang remaja yang mengkhawatirkan seorang sahabta. Tiba-tiba ada sosok yang menghampirinya dan berkata, ”Assalamualaikum, Sarah.” Seketika lamunannya hilang dan ia terperanjat dari tempat duduknya dan berkata, ”Waalaikumsalam, Retno? Kemana saja kamu selama ini?” tiba-tiba air muka retno berubah sedih dan kedua kelopak matanya yang sipit mengeluarkan butiran-butiran air mata. Sarah bingung dan berkata, ”Kenapa kamu menangis, Retno?” Dengan suar parau Retnopun berkata, ”Dapatkah kita berbicara di kamarmu, Sar?”

”Tentu saja bisa.” Jawab Sarah        

Akhirnya Sarah mengajak Retno untuk masuk ke dalam kamarnya. Pembicaraan kembali disambung setelah terputus sesaat.

“Sebelum kamu berbicara, lebih baik kamu minum dulu, Re.”

Dengan linangan air mata retnopun meminum air pemberian Sarah. Seketika Retno memeluk sahabatnya dengan erat dan menangis sejadi-jadinya. Sarahpun bingung dengan apa yang terjadi dengan Retno, iapun hanya mendaratkan tangan kekepala sahabatnya dengan sentuhan sayang. Beberapa saat kemudian Sarahpun memberanikan diri dan berkata, “Kenapa kamu menangis Retno? Coba ceritakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi?”

Retnopun menjawab, “Aku bingung dan malu, Sar. Harus dari mana aku memulainya. Dan sekarang aku bingung apa yang harus aku lakukan”. Butiran-butiran air matapun kembali tercipta dari mata Retno. “Katakanlah apa adanya, Retno. Janganlah kamu merasa malu denganku, bukankah kita sudah bersahabat sejak lama. Apakah kamu harus malu dengan sahabatmu ini.” Ucap Sarah

Retnopun menjawab, “Aku harap kamu bisa jaga rahasia ini, Sar.”

“Baiklah, Retno.” Jawab Sarah

“Kamu tahukan, Sar? Hampir dua bulan aku pergi dari rumah. Sebenarnya aku pergi karena Bapakku. Sekarang aku hamil, aku bingung apa yang harus aku lakukan?” Ucap Retno diiringi tangisannya

“Apa? Kamu mengandung? Ya Allah sungguh kejamnya Bapakmu, Retno.” Jawab Sarah

Tangis merekapun pecah dalam kamar yang berhiaskan foto-foto yang tersenyum riang.

* * *

Sejak pertemuan itu, aku tidak pernah melihat bahkan mengetahui secara pasti keberadaan sahabatku, Retno. Kabar yang beredar dimasyarakat saat ini adalah Retno mengandung anak Bapak kandungnya sendiri. Yang lebih tragis, kini Bapaknya telah menikah lagi dengan wanita lain. Ada yang mengatakan kini Retno tinggal bersama saudaranya di Bandung, tapi entahlah. Aku hanya bisa melihat ia dalam bingkai foto berwarna biru, tanpa bisa bertukar pikiran dengannya. Aku merasa sedih karena tidak bisa melakukan apa-apa. Sahabat baikku Retno mengalami akhir cerita remajanya dalam keadaan yang menyedihkan dan tragis. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa kepada Allah, semoga Retno selalu dalam lindungan-Nya. Amien