Sang surya melebihi tiang bendera, seorang siswa memancarkan aura
kebahagiaan, bersandar duduk dipojok kelas. Pandangan matanya terus terarah pada satu bingkisan
berplastik hitam yang berada di hadapannya. Suasana kelas sepi, jauh dari
hiruk-piruk suara canda-tawa anak smp. Di dalam kelas ia hanya sendiri karena
bel istirahat telah berbunyi 10 menit yang lalu. Bingkisan itu melahirkan
kebahagiaan yang sangat di dalam hatinya, sehingga ia putuskan untuk berada di
kelas saja. Ia hanya berkata kepada teman karibnya Qia, ”Aku malas ke
kantin, kamu duluan saja.”
* * *
Ia hanyalah seorang remaja bernama
Rina, dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ayahnya adalah seorang guru
honorer di daerahnya. Ia tinggal di daerah terpencil, untuk mendatangi
keramaian pasar ia harus naik angkutan umum selama satu jam. Rina adalah anak
pertama dari tujuh bersaudara. Antara anak yang satu dengan yang lain hanya
berjarak 1 tahun paling lama 2 tahun. Pernah sekali ia mengeluh kepada ibunya
dengan berkata, ”Ibu, belikan Rin tas yang baru?”
Ibunya
berkata lembut diiringi dengan sentuhan lembut tepat di rambut Rina, ”Kamu
pakai saja tas itu ya Nak? Kalau ada uang Insya Allah akan ibu belikan.”
Dengan
senyum paksa rina menjawab, ”Baiklah Ibu.”
Dalam
hatinya ia berkata, ”Sudah aku duga pasti jawaban ibu seperti itu. Ya,
sudahlah.”
* * *
Saat ini ia hanyalah pelajar
kewajibannya adalah belajar dan sekolah. Karena itu apapun yang terjadi Rina
selalu berangkat ke sekolah walaupun sering tidak diberikan uang saku. Untungnya
sekolahnya bisa ia jangkau dengan berjalan kaki. Saat ia tidak mendapatkan uang
saku, setiap istirahat ia pergi ke perpustakaan atau belajar di dalam kelas
sendiri. Terkadang ia merasa geram jika ada beberapa temannya yang
menyianyiakan makanannya dengan cara yang mubazir. Pernah waktu itu ia melihat
seorang temannya yang bernama Rasti sedang asik berbicara kepada Romi sambil
minum es beberapa sedot dan langsung membuangnya ke tempat sampah, sungguh
miris. Dalam hatinya ia berkata, ”Sayang sekali, padahal esnya masih banyak.”
* *
*
”Baiklah anak-anak, Bapak akan mengambil nilai untuk lari jarak jauh. Jadi
kalian harus mengelilingin lingkungan sekolah selama 2 kali putaran.” Kata Guru
Olahraga
”Ya, Pak.” Jawab teman-teman Rina serempak
Barisanpun sudah dalam keadaan baik dan benar, setiap baris terdiri dari
lima siswa. Rina berada di barisan kedua pada urutan terakhir, sedangkan evi
teman baiknya berada pada urutan keempat satu baris dengannya. Dalam hati Rina
berkata, ”Sepatunya kuat tidak ya.”
Sepatu Rina kini memasuki taraf kurang layak pakai, sudah banyak lubang
yang agak besar di bagian sampinya dan alasnya juga sudah belah. Sepat ingin
sekali ia mengatakan pada Orang tuanya untuk membelikan ia sepatu baru, tapi
tidak mungkin. Hampir saja ia ingin mengatakannya pada malam menjelang tidur di
ruang tamu, namun ia urung melakukannya. Uang yang orang tua rina dapatkan
lebih baik digunakan untuk keperluan sekolah adiknya daripada harus digunakan
untuk membeli sepatu, begitulah pikirnya saat itu.
Pernah sekali temannya berkata. ”Ya ampun Rina, kamu ko masih pakai sepatu
yang tidak layak pakai si.” Rina hanya
tersenyum miris tanpa berkata apa-apa.
* * *
Assalamualaikum, Mamah.” Ucap rasti ketika memasuki rumahnya.
”Waalaiku
salam.” Jawab mamah Rasti
”Kamu sduah
pulang, Nak.” ucap mamah ketika Rasti mencium tangan mamahnya.
”Ya, Mah.
Hari ini rasti tidak ada sekul.” Jawab Rasti.
”Oo, begitu.
Kamu makan dulu ya sebelum shalat?” Saran mamah rasti sambil menyiapkan makanan
di meja makan.
”Ya, Mah.”
Jawab Rasti sambil duduk di meja makan.
”Kamu makan
yang banyak ya, Nak.” Ucap mamah sambil menyendok nasi untuk Rasti
”Ya, Mah.
Mamah lihat sepatu rasti yang waktu itu dibelikan ka Rizal?” tanya rasti sambil
menguyah beberapa butir nasi.
”Sepatu yang
mana, sepatu kamukan banyak.” Ucap mamah Rasti
”Itu loh
mah, sepatu sekolah yang ukurannya tidak pas sama aku.” Urai Rasti.
”Oo, sepatu
yang satu bulan lalu dibelikan ka rizal.”
Ucap mamah Rasti
”Ya, Mah.”
Jawab Rasti
”Nanti mamah
cariin ya, Nak? sekarang kamu makan dulu.” Saran mamah
”Ya, Mah.”
Jawab Rasti
Setelah selesai makan, rastipun bergegas untuk shalat dzuhur yang
berkumandang 2 jam yang lalu. Setelah shalat rasti kembali menemui mamahnya
yang sedang mencari sepatu. ”Sudah ketemu, Mah sepatu yang rasti maksud.” ucap
rasti halus
”Belum, Nak.
mamah lupa meletakkannya dimana?”
”Dimana ya?
Rasti juga lupa.” Tambah rasti
Beberapa
saat kemudian rastipun berkata. ”Oia kemarin aku letakkan di dalam lemarin.”
”Kamu itu
kebiasaan sekali.” ucap mamah
”Maaf mah.
Biasa akukan lupaan orangnya.” Jawab Rasti sambil meenunjukkan giginya.
”Ya sudah.
Memang sepatu itu mau kamu apakan rasti? Tanya mamah
”Rahasia.”
Ucap Rasti
”Kamu itu.”
Kata mamah Rasti
”Ini sepatu
untuk temanku mamah, daripada tidak aku pakai lebih baik buat dia.” Jelas
Rasti.
”Anak mamah
perhatian sekali.” Puji mamahnya
”Ya donk,
Rasti.”Jawab Rasti
”Baru dipuji
sedikit sudah sombong.” Tukas mamah
* * *
Tidak seperti biasanya hari ini Rasti berangkat ke sekolah lebih awal. Hal
itu membuat keluarganya menjadi bingung. Kakanyapun berkata, ”Tumben kamu sudah
rapi jam segini.” Rasti hanya unjuk gigi tanpa berkata apapun pada kakaknya
yang sedang menikmati sarapan pagi bersama ibu dan ayahnya. Rasti langsung
menyantap makan pagi dan berpamitan pada kedua orangtuanya dan kakaknya.
”Assalamualaikum.” Ucap Rasti berlalu meninggalkan ruang makan.
”Waalaikum
salam.” Jawab keluarganya serempak.
Hati-hati di
jalan ya, Nak?” Ucap papah.
”Ya. Papah.”
Jawab Rasti.
Rastipun berlalu, sementara itu kaknya rizal merasa aneh kiarena adiknya
rasti memegang bingkisan yang berlapiskan plasti hitam. Rizapun bertanya, ”Mah,
Rasti bawa apa?”
”Oo, itu.
Dia bawa sepatu untuk diberikan kepada temannya.” Jawab mamah.
”Mulia
sekali hatinya.” Ucap papah.
”Siapa dulu
Mamahnya.” Tukas mamah.
”Siapa dulu
Kakaknya donk, Mah.” Sela Rizal.
”Sudah-sudah
kalian berdua ini ada-ada saja.” Ucap Papah.
* * *
Seperti yang telah ia pikirkan sebelum berangkat bahwa Rina pasti sudah
datang lebih dulu dari teman-temannya. Rina sedang menyapu kelas karena saat
ini adalah jadwal piketnya. Pekerjaannya hampir selesai, tinggal mengeduk
sampahnya.
”Assalamualaikum,
Rina.” Ucap Rasti
”Waalaikum
salam.” Jawab Rina
Setelah Rasti duduk di bangkunya, rinapun selesai. Rastipun berkata, ”Rina
ke sini sebentar.” Kata Rasti
”Ada apa,
Ti?” Tanya Rina
”Ini untuk
kamu.” Ucap Rasti sambil memberikan bingkisan berplastik hitam.
”Apa ini,
Ti?” Tanya Rina
”Kamu lihat
saja.” Saran Rasti
”Ya, ampun
ini sepatu untuk aku?” Tanya Rina memastikan
”Ya, Aku
harap kamu bisa terima walaupun ini bukan sepatu baru.” Ucap Rasti dengan
hati-hati
”Makasih
rasti. Ini semua sudah lebih dari cukup.” Jawab Rina
Pemberian Rasti membuat Rina bahagia
sampai-sampai ia enggan untuk ke kantin pada jam istirahat. Rina merasa ini
adalah tanda kasih dari yang terkasih, dan ia tak pernah menduga bahwa yang
terkasih itu adalah Rasti. Teman yang tak pernah ia kira akan melakukan hal
ini. Begitu baiknya Rasti sampai-sampai ia memperhatikan hal yang seperti ini. Berbeda
sekali dengan temannya sarah yang mencemoohnya tanpa bisa memberikan apapun.








