Oleh : NKITD
Rumah kecil berhiaskan ayaman bambu menjadi saksi kelahirannya dulu. Rumahnya sering berpindah-pindah tapi ayaman bambu selalu jadi hiasan dinding. Ayah dan ibunya bekerja serabutan dan terkadang tak tentu pekerjaannya. Dia adalah seorang remaja dan kedua orang tuanya memberi nama Retno. Retno mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Rasti, usianya kini 3 tahun. Kesibukan ayah dan ibu mengharuskan dia untuk mengasuh rasti. Setiap pulang sekolah dia selalu mengasuh Rasti adiknya, sementara itu kedua orang tuannya bekerja sebagai apa saja. Entah itu jadi kuli bangunan, tukang cuci, pedagang keliling dan sebagainya.
Keharmonisan
keluarganya telah lama memudar bahkan hilang, pemicu utamanya adalah krisis
ekonomi yang selalu melanda keluarga kami. Setiap malam ketika Retno dan
adiknya terlelap ayah dan ibu selalu bersilat lidah. Entah apa yang mereka
perdebatkan tidak dia mengerti. Sekat-sekat ayamanan bambu memang membuat
perdebatan itu jelas terdengar tapi usianya yang berajak 13 tahun belum cukup
untuk memaknai itu semua. Setiap perdebatan itu terjadi, maka Retno akan
menutup telinga adiknya dengan kedua belah tangannya, tak ingin rasanya dia
membiarkan adiknya mendengarkan semuanya.
Retnopun
merasa sedih karena perdebatan itu selalu terjadi. Kesedihannya terobati ketika
dia mengungkapkannya kepada sarah. Sarah adalah sahabat karibnya, sejak kecil
kami telah menjalin persahabatan. Kata-katanya selalu membuat Retno lebih baik.
Bahkan keluarga sarah menganggap Retno sebagai saudara kandungnya.
Perdebatan
itu terjadi lagi malam ini lebih hebat daripada malam-malam sebelumnya. Untung saja
adiknya yang kecil tidur nyenyak. Perdebatan itu membuatnya tak bisa tidur,
Retno mencoba untuk meresapi apa sebenarnya yang terjadi.
“Tenyata
dugaan bapak benarnya, Ibu berselingkuh dengan si Udin bujangan itu.”suara
Bapak garang
“Kalau
ibu bilang ya, kenapa pa? Bapak mau apa?” Jawab Ibu
”Kamu benar-benar menantangku sum.” Kata Ayah semakin
garang
”Ya, memangnya kenapa? Aku berbuat seperti itu karena kamu tidak bisa memenuhi
kebutuhan kita. Selalu saja aku yang harus benar-benar membanting tulang untuk
memenuhi semuanya sedangkan kamu hanya bekerja setengah keras.”Ucap Ibunya
Aku sudah bekerja keras sum. Aku hanya tamatan sd sum,
pekerjaan apa lagi yang bisa aku lakukan.” Jawab Ayah
”Ya, ya selalu saja itu yang kau katan to. Aku sudah tidak sanggup lagi tinggal denganmu. Lebih baik
aku pergi dengan si Udin. Dia bisa menjamin kehidupan yang lebih baik darimu.” Ucap Ibu
”Kalau itu maumu, ya sudah pergilah dan jangan kembali
lagi ke sini.” Jawab Ayah
”Baiklah aku akan pergi.”Ucap Ibu
Perdebatan malam itu membuat ibuku pergi dari rumah,
tanpa membawa aku dan adikku sungguh menyedihkan. Aku ceritakan hal itu kepada sarah, dia hanya memandang
iba dan berkata, ”Kamu jangan sedih ya, retno. Aku akan selalu ada untukmu.”
Hal itu cukup membuatku kuat untuk menghadapi kenyataan yang telah terjadi.
Keburukanpun
menimpahku, entah apa yang dipikirkan ayah waktu itu ketika aku hendak
berangkat sekolah ayah menghalangiku dan memaksa aku untuk memenuhi nafsu
bejatnya. Semampuku aku berusaha melawannya dengan kekuatanku tanpa berani
utnuk mengeluarkan ucapan sediktpun. Tapi kekatanku tak sebanding dengannya,
dia telah mengambil keperawanan anaknya sendiri. Dan tangisku mnganak sungai
karena perlakuan ayah padaku. Dan ayah pergi begitu saja setelah melakukan
perbuatan keji itu.
Aku takut ayah akan mengualngi hal itu padaku, akhirnya
aku memutuskan untuk pergi dari rumah dengan uang yang telah aku kumpulkan. Tanpa
berpamitan dengan sarah sahabatku. Aku bingung harus kemana, rasanya aku ingin
menemuimu ibu. Tapi entahlah, aku bisa menemukan ibu dimana? Tanpa arah dan
tujuan yang jelas aku meninggalkan rumah.
*
* *
”Assalamualaikum.” Ucap Sarah sambil bergegas masuk
rumahnya dan bersalaman dengan ibunya.
”Waalaikum salam.” Jawab Ibunya
”Ibu, sudah dua minggu Retno tidak masuk sekolah.” Kata sarah
”ko, bisa memangnya kenapa? Kamu sudah ke rumahnya untuk
memastikan kenapa dia tidak masuk?” Jawab Ibunya heran
”Entahlah ibu, aku tidak tahu. Sarah sudah ke rumahnya
tetapi Retno tidak ada. Di rumahnya hanya ada adiknya bermain boneka sendiri.”
Ucap Sarah
”Ada kabar yang tidak baik menyebar di lingkungan kita
Sar.” Ucap ibu khawatir
”Kabar apa Bu?” Jawab Sarah
”Kalau Retno telah mengalami tindakan bejak Bapaknya.
Tapi ibu tidak terlalu yakin, apakah sebelumnya retno pernah bercerita?” Ucap
Ibu
”sebelum Retno tidak masuk sekolah, ia sempat berbicara
dengannya tapi pembicaraan tersebut terpotong oleh tetesan air mata Bu. Sarah
tanya kenapa? Tapi retno tidak menjawab.” Kata Sarah
”Semoga kabar itu tidak benar ya Nak?” Harap Ibu
”Ia, Bu.” Harap Sarah
*
* *
”Ya Allah sudah hampir dua
bulan, aku tak berjumpa dengan Retno. Dia pergi kemana?” Nyanyian pagi
menyaksikan seorang remaja yang mengkhawatirkan seorang sahabta. Tiba-tiba ada
sosok yang menghampirinya dan berkata, ”Assalamualaikum, Sarah.” Seketika
lamunannya hilang dan ia terperanjat dari tempat duduknya dan berkata,
”Waalaikumsalam, Retno? Kemana saja kamu selama ini?” tiba-tiba air muka retno
berubah sedih dan kedua kelopak matanya yang sipit mengeluarkan butiran-butiran
air mata. Sarah bingung dan berkata, ”Kenapa kamu menangis, Retno?” Dengan suar
parau Retnopun berkata, ”Dapatkah kita berbicara di kamarmu, Sar?”
”Tentu saja bisa.” Jawab Sarah
Akhirnya Sarah mengajak
Retno untuk masuk ke dalam kamarnya. Pembicaraan kembali disambung setelah
terputus sesaat.
“Sebelum kamu berbicara, lebih baik kamu minum dulu,
Re.”
Dengan linangan air mata
retnopun meminum air pemberian Sarah. Seketika Retno memeluk sahabatnya dengan
erat dan menangis sejadi-jadinya. Sarahpun bingung dengan apa yang terjadi
dengan Retno, iapun hanya mendaratkan tangan kekepala sahabatnya dengan
sentuhan sayang. Beberapa saat kemudian Sarahpun memberanikan diri dan berkata,
“Kenapa kamu menangis Retno? Coba ceritakan padaku, apa sebenarnya yang
terjadi?”
Retnopun menjawab, “Aku bingung dan malu, Sar. Harus
dari mana aku memulainya. Dan sekarang aku bingung apa yang harus aku lakukan”.
Butiran-butiran air matapun kembali tercipta dari mata Retno. “Katakanlah apa
adanya, Retno. Janganlah kamu merasa malu denganku, bukankah kita sudah
bersahabat sejak lama. Apakah kamu harus malu dengan sahabatmu ini.” Ucap Sarah
Retnopun menjawab, “Aku harap kamu bisa jaga rahasia
ini, Sar.”
“Baiklah, Retno.” Jawab Sarah
“Kamu tahukan, Sar? Hampir dua bulan aku pergi dari
rumah. Sebenarnya aku pergi karena Bapakku. Sekarang aku hamil, aku bingung apa
yang harus aku lakukan?” Ucap Retno diiringi tangisannya
“Apa? Kamu mengandung? Ya Allah sungguh kejamnya
Bapakmu, Retno.” Jawab Sarah
Tangis merekapun pecah dalam kamar yang berhiaskan foto-foto
yang tersenyum riang.
* * *
Sejak pertemuan itu, aku
tidak pernah melihat bahkan mengetahui secara pasti keberadaan sahabatku,
Retno. Kabar yang beredar dimasyarakat saat ini adalah Retno mengandung anak
Bapak kandungnya sendiri. Yang lebih tragis, kini Bapaknya telah menikah lagi
dengan wanita lain. Ada yang
mengatakan kini Retno tinggal bersama saudaranya di Bandung, tapi entahlah. Aku
hanya bisa melihat ia dalam bingkai foto berwarna biru, tanpa bisa bertukar
pikiran dengannya. Aku merasa sedih karena tidak bisa melakukan apa-apa.
Sahabat baikku Retno mengalami akhir cerita remajanya dalam keadaan yang
menyedihkan dan tragis. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa kepada Allah,
semoga Retno selalu dalam lindungan-Nya. Amien



Tidak ada komentar:
Posting Komentar