Selasa, 25 September 2018

Akhir Cerita






Oleh : NKITD

Rumah kecil berhiaskan ayaman bambu menjadi saksi kelahirannya dulu. Rumahnya sering berpindah-pindah tapi ayaman bambu selalu jadi hiasan dinding. Ayah dan ibunya bekerja serabutan dan terkadang tak tentu pekerjaannya. Dia adalah seorang remaja dan kedua orang tuanya memberi nama Retno. Retno mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Rasti, usianya kini 3 tahun. Kesibukan ayah dan ibu mengharuskan dia untuk mengasuh rasti. Setiap pulang sekolah dia selalu mengasuh Rasti adiknya, sementara itu kedua orang tuannya bekerja sebagai apa saja. Entah itu jadi kuli bangunan, tukang cuci, pedagang keliling dan sebagainya. 

Keharmonisan keluarganya telah lama memudar bahkan hilang, pemicu utamanya adalah krisis ekonomi yang selalu melanda keluarga kami. Setiap malam ketika Retno dan adiknya terlelap ayah dan ibu selalu bersilat lidah. Entah apa yang mereka perdebatkan tidak dia mengerti. Sekat-sekat ayamanan bambu memang membuat perdebatan itu jelas terdengar tapi usianya yang berajak 13 tahun belum cukup untuk memaknai itu semua. Setiap perdebatan itu terjadi, maka Retno akan menutup telinga adiknya dengan kedua belah tangannya, tak ingin rasanya dia membiarkan adiknya mendengarkan semuanya.

Retnopun merasa sedih karena perdebatan itu selalu terjadi. Kesedihannya terobati ketika dia mengungkapkannya kepada sarah. Sarah adalah sahabat karibnya, sejak kecil kami telah menjalin persahabatan. Kata-katanya selalu membuat Retno lebih baik. Bahkan keluarga sarah menganggap Retno sebagai saudara kandungnya.

Perdebatan itu terjadi lagi malam ini lebih hebat daripada malam-malam sebelumnya. Untung saja adiknya yang kecil tidur nyenyak. Perdebatan itu membuatnya tak bisa tidur, Retno mencoba untuk meresapi apa sebenarnya yang terjadi.

“Tenyata dugaan bapak benarnya, Ibu berselingkuh dengan si Udin bujangan itu.”suara Bapak garang

“Kalau ibu bilang ya, kenapa pa? Bapak mau apa?” Jawab Ibu

”Kamu benar-benar menantangku sum.” Kata Ayah semakin garang

”Ya, memangnya kenapa? Aku berbuat seperti itu karena kamu tidak bisa memenuhi kebutuhan kita. Selalu saja aku yang harus benar-benar membanting tulang untuk memenuhi semuanya sedangkan kamu hanya bekerja setengah keras.”Ucap Ibunya

Aku sudah bekerja keras sum. Aku hanya tamatan sd sum, pekerjaan apa lagi yang bisa aku lakukan.” Jawab Ayah

”Ya, ya selalu saja itu yang kau katan to. Aku sudah tidak sanggup lagi tinggal denganmu. Lebih baik aku pergi dengan si Udin. Dia bisa menjamin kehidupan yang lebih baik darimu.” Ucap Ibu

”Kalau itu maumu, ya sudah pergilah dan jangan kembali lagi ke sini.” Jawab Ayah

”Baiklah aku akan pergi.”Ucap Ibu

Perdebatan malam itu membuat ibuku pergi dari rumah, tanpa membawa aku dan adikku sungguh menyedihkan. Aku ceritakan hal itu kepada sarah, dia hanya memandang iba dan berkata, ”Kamu jangan sedih ya, retno. Aku akan selalu ada untukmu.” Hal itu cukup membuatku kuat untuk menghadapi kenyataan yang telah terjadi.

            Keburukanpun menimpahku, entah apa yang dipikirkan ayah waktu itu ketika aku hendak berangkat sekolah ayah menghalangiku dan memaksa aku untuk memenuhi nafsu bejatnya. Semampuku aku berusaha melawannya dengan kekuatanku tanpa berani utnuk mengeluarkan ucapan sediktpun. Tapi kekatanku tak sebanding dengannya, dia telah mengambil keperawanan anaknya sendiri. Dan tangisku mnganak sungai karena perlakuan ayah padaku. Dan ayah pergi begitu saja setelah melakukan perbuatan keji itu.

            Aku takut ayah akan mengualngi hal itu padaku, akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah dengan uang yang telah aku kumpulkan. Tanpa berpamitan dengan sarah sahabatku. Aku bingung harus kemana, rasanya aku ingin menemuimu ibu. Tapi entahlah, aku bisa menemukan ibu dimana? Tanpa arah dan tujuan yang jelas aku meninggalkan rumah.

* * *

”Assalamualaikum.” Ucap Sarah sambil bergegas masuk rumahnya dan bersalaman dengan ibunya.

”Waalaikum salam.” Jawab Ibunya

”Ibu, sudah dua minggu Retno tidak masuk sekolah.” Kata sarah

”ko, bisa memangnya kenapa? Kamu sudah ke rumahnya untuk memastikan kenapa dia tidak masuk?” Jawab Ibunya heran

”Entahlah ibu, aku tidak tahu. Sarah sudah ke rumahnya tetapi Retno tidak ada. Di rumahnya hanya ada adiknya bermain boneka sendiri.” Ucap Sarah

”Ada kabar yang tidak baik menyebar di lingkungan kita Sar.” Ucap ibu khawatir

”Kabar apa Bu?” Jawab Sarah

”Kalau Retno telah mengalami tindakan bejak Bapaknya. Tapi ibu tidak terlalu yakin, apakah sebelumnya retno pernah bercerita?” Ucap Ibu

”sebelum Retno tidak masuk sekolah, ia sempat berbicara dengannya tapi pembicaraan tersebut terpotong oleh tetesan air mata Bu. Sarah tanya kenapa? Tapi retno tidak menjawab.” Kata Sarah

”Semoga kabar itu tidak benar ya Nak?” Harap Ibu

”Ia, Bu.” Harap Sarah

* * *

”Ya Allah sudah hampir dua bulan, aku tak berjumpa dengan Retno. Dia pergi kemana?” Nyanyian pagi menyaksikan seorang remaja yang mengkhawatirkan seorang sahabta. Tiba-tiba ada sosok yang menghampirinya dan berkata, ”Assalamualaikum, Sarah.” Seketika lamunannya hilang dan ia terperanjat dari tempat duduknya dan berkata, ”Waalaikumsalam, Retno? Kemana saja kamu selama ini?” tiba-tiba air muka retno berubah sedih dan kedua kelopak matanya yang sipit mengeluarkan butiran-butiran air mata. Sarah bingung dan berkata, ”Kenapa kamu menangis, Retno?” Dengan suar parau Retnopun berkata, ”Dapatkah kita berbicara di kamarmu, Sar?”

”Tentu saja bisa.” Jawab Sarah        

Akhirnya Sarah mengajak Retno untuk masuk ke dalam kamarnya. Pembicaraan kembali disambung setelah terputus sesaat.

“Sebelum kamu berbicara, lebih baik kamu minum dulu, Re.”

Dengan linangan air mata retnopun meminum air pemberian Sarah. Seketika Retno memeluk sahabatnya dengan erat dan menangis sejadi-jadinya. Sarahpun bingung dengan apa yang terjadi dengan Retno, iapun hanya mendaratkan tangan kekepala sahabatnya dengan sentuhan sayang. Beberapa saat kemudian Sarahpun memberanikan diri dan berkata, “Kenapa kamu menangis Retno? Coba ceritakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi?”

Retnopun menjawab, “Aku bingung dan malu, Sar. Harus dari mana aku memulainya. Dan sekarang aku bingung apa yang harus aku lakukan”. Butiran-butiran air matapun kembali tercipta dari mata Retno. “Katakanlah apa adanya, Retno. Janganlah kamu merasa malu denganku, bukankah kita sudah bersahabat sejak lama. Apakah kamu harus malu dengan sahabatmu ini.” Ucap Sarah

Retnopun menjawab, “Aku harap kamu bisa jaga rahasia ini, Sar.”

“Baiklah, Retno.” Jawab Sarah

“Kamu tahukan, Sar? Hampir dua bulan aku pergi dari rumah. Sebenarnya aku pergi karena Bapakku. Sekarang aku hamil, aku bingung apa yang harus aku lakukan?” Ucap Retno diiringi tangisannya

“Apa? Kamu mengandung? Ya Allah sungguh kejamnya Bapakmu, Retno.” Jawab Sarah

Tangis merekapun pecah dalam kamar yang berhiaskan foto-foto yang tersenyum riang.

* * *

Sejak pertemuan itu, aku tidak pernah melihat bahkan mengetahui secara pasti keberadaan sahabatku, Retno. Kabar yang beredar dimasyarakat saat ini adalah Retno mengandung anak Bapak kandungnya sendiri. Yang lebih tragis, kini Bapaknya telah menikah lagi dengan wanita lain. Ada yang mengatakan kini Retno tinggal bersama saudaranya di Bandung, tapi entahlah. Aku hanya bisa melihat ia dalam bingkai foto berwarna biru, tanpa bisa bertukar pikiran dengannya. Aku merasa sedih karena tidak bisa melakukan apa-apa. Sahabat baikku Retno mengalami akhir cerita remajanya dalam keadaan yang menyedihkan dan tragis. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa kepada Allah, semoga Retno selalu dalam lindungan-Nya. Amien










Tidak ada komentar:

Posting Komentar