Selasa, 25 September 2018

Pengertianmu







Oleh : NKITD

Pagi menyingsing, suara alam merdu mendayu-dayu diiringi surya yang gagah mulai menampakkan diri. Seorang gadis belia tertidur pulas dalam buaian mimpi anugerah dari Ilahi. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi menandakan bahwa satu pesan telah diterima. Hal tersebut menyadarkan ia dari tidur yang cukup panjang. Dengan kekuatan seadanya diambilah ponsel itu yang berada tepat di atas meja tak jauh dari tempat tidurnya.

”Kamu tega sekali sama aku Via, aku masih cinta padamu. Lebih baik aku mati daripada kita tak bisa bersama lagi.”

Satu pesan singkat itu mampu membuat mata Via terbuka lebar dan mendetakkan jantungnya lebih cepat dari biasanya. Sejenak ia bergumam, ”Ya ampun, apa yang harus aku lakukan?”

Beberapa saat kemudia, dengan mengucapkan bismillah, Viapun membalas pesan singkat tersebut.

”Begitu sempit jalan pikiran kamu, apakah Cuma karena hal semacam ini kamu mau mengakhiri hidupmu.”

Beberapa menit kemudia ada pesan singkat dari Teguh.

”Aku tidak peduli, yang aku inginkan kita tetap bersama selamanya.”

Viapun membalas, ”Percuma saja kita bersama karena aku sudah tak cinta lagi denganmu.”

Teguh membalas pesan tersebut, ”Semudah dan secepat itukah kamu melupakan aku, padahal kita putus baru beberapa hari. Aku masih sayang padamu, Vi.”

Via membalas, ”Yang lalu biarlah berlalu Guh, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.”

Teguh membalas, ”Aku hanya ingin bersamamu, Vi.”

Via membalas, ”Cinta itu tak harus memiliki, Guh.”

Teguh membalas, ”Kalau kamu tidak ingin bersamaku lagi lebih baik aku mati, aku sudah cukup tersiksa dengan keputusanmu yang tidak masuk akal itu.”

Viapun merasa terpojok setelah mendapatkan pesan singkat penghabisan itu, tak ada katapun yang mampu ia ciptakan untuk menyakinkan lelaki itu untuk menerima keputusan yang telah ia ambil. Kebisuan ciptakan gumamnya, ”Bagaimana kalau itu sampai terjadi, aku tidak mau disalahkan atas kematiannya. Sebenarnya apa yang ada di dalam benaknya, sungguh kekanak-kanakan.”

* * *

Pesan singkat yang ia dapatkan kemarin berhasil membuat perasaannya tidak tenang dan merenggut keceriaan yang biasanya tercermin dari wajahnya yang bulat. Padahal tugas-tugas mata kulaihnya menumpuk.

“Kamu kenapa, Vi. Tidak seperti biasanya kamu seperti ini.” Ucap ibu dengan air muka yang lembut ketika masuk ke dalam kamar Via. D

“Tak apa-apa, Bu. Hanya sedikit pusing saja dengan tugas yang menumpuk.” Jawab Via menyakinkan

“Ya sudah, kamu istirahat dulu supaya besok bisa bangun pagi untuk berangkat kuliah.” Kata Ibu lembut

“Baiklah, Bu.” Jawab Via

“Oia, kamu sudah shalat Isya kan?” Tanya Ibu

“Sudah, Bu.” Jawab Via

“Jangan lupa baca doa sebelum tidur.” Saran Ibu

“Ya, Bu.” Jawab Via

Lampu kamarpun dipadamkan ibu ketika keluar dari kamar Via. Dalam kegelapan yang biasanya mampu untuk membuatnya tertidur nyenyak kini tidak demikian. Via masih memikirkan pesan singkat yang ia dapatkan kemarin. Ingin rasanya ia ceritakan itu semua dengan Ibunya tetapi tidak mungkin menurutnya. Padahal setiap ada masalah biasanya Via selalu mencurahkan kepada ibunda tercintanya. Kesibukan ibunya mengurus Via dan dua orang adiknya tak membuat kasih sayang dan perhatian ibunya berkurang kepada anak-anaknya. Tanpa Via inginkan untuk tidur matanyapun memaksanya untuk nyenyak dalam gelapnya malam.

Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari, tiba-tiba Via terbangun dari tidurnya dan mengeluarkan peluh yang terus bercucuran. Ada perasaan aneh yang ada dalam hatinya, ia merasa waswas. Anehnya ia sama sekali tidak ingat, mimpi apakah yang membuat ia terkejut seperti itu. Iapun melihat handphonenya, ternyata ada pesan singkat dari Teguh yang dia kirimkan pada pukul 2 dini hari.

“Sekarang kamu puas, Vi. Tega sekali kamu. Saat ini aku tidak tahu ada dimana, sama halnya dengan perasaanku yang tak tahu harus melakukan apa untuk melupakanmu. Kamu puas karena telah berhasil membuat aku seperti ini.”

Viapun berkata dalam hati, “Apakah mimpi tadi ada kaitannya dengan teguh.”

* * *



Suasana kampus hari ini berbeda dengan hari biasanya menurut Via. Sejak sampai di kelas Via murung dan langsung duduk di tempat duduknya. Beberapa saat kemudian datanglah Silvi, sahabat baiknya sejak awal kuliah. Silvi langsung duduk di sebelah tempat duduk Via dan berkata, ”Sepertinya ada yang beda. Kamu ada masalah apa Vi?”

”Ya, Sil. Aku punya masalah mengenai hubunganku dengan Teguh.” Jawab Via

”Ada apa dengan Teguh, Vi?” Tanya Silvi

”Aku sudah memutuskan hubungan dengannya beberapa hari yang lalu, Sil.” Ucap Via

”Benarkah?” Tanya Silvi heran

”Ya, Sil. Aku merasa hubungan ini memang harus berakhir.” Ucap Via

”Akhirnya kamu bisa bersikap Vi. Aku pikir kamu tidak akan memutuskan hubungan dengannya.” Jawab Silvi

”Tapi ia tidak menerima begitu saja, Sil. Ia menerorku dengan pesan singkat.” Ucap Via sambil memberikan handphonenya kepada Silvi.

”Ya, ampun.” Ucap Silvi heran ketika ia membaca pesan singkat dari Teguh.

”Aku takut, ia akan melakukannya Sil.” Ucap Via khawatir

”Semoga saja tidak, Vi. Kita tunggu Tara dan Raras dulu ya, Vi? Karena aku tidak tahu pasti apa yang harus kamu lakukan. Mungkin Tara dan Raras bisa memberi masukan karena mereka berdua berpengalaman.” Jawab Silvi menyakinkan

Beberapa menit kemudian Tara dan Raras datang ke kelas langsung mendekati Silvi dan Via.

”Ada apa, pagi-pagi kalian berdua sudah sampai ke kampus mendahului kita.” Ucap Raras dengan nada bergurau.

”Ya, ni. Pasti nanti siang hujan.” Tambah Tara

“Ya, ya sudahlah.” Jawab Silvi dengan tawa khasnya

“Vi, ko kamu diam? Biasanya kamu yang paling senang membalikan lelucon dari kita.” Ucap Raras heran

“Saat ini aku tidak bersemangat, Ras.” Jawab Via

“Coba lihat ini.” Kata Silvi sambil memberikan handphonenya kepada Raras dan Tara

”Sungguh kekanak-kanakan.” Jawab Tara dan Raras bersmaan

”Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Via

”Kamu jangan terlalu menghiraukannya, Vi. Belum tentu ia benar-benar melakukannya.” Saran Tara

Percakapan itu terus berlangsung, teman-teman Via berusaha untuk menyakinkan Via bahwa kemungkinannya kecil Teguh melakukan hal itu. Percakapan terpotong karena beberapa teman sekelasnya datang.

* * *

Aku tidak akan membiarkan ini semua, aku harus menemui Teguh. Ucap Via dalam hati.

Karena dosen mata kuliah yang bersangkutan tidak datang akhirnya Via memutuskan untuk pulang lebih awal. Setelah berpamitan dengan temannya akhirnya. Ia tak langsung pulang ke rumahnya, tetapi ia ingin bertemu dengan Teguh untuk menyelsaikan persoaalan yang terjadi. Setelah Via mengirim pesan singkat kepada Teguh untuk bertemu di Taman kota.

Suasana taman kotapun sepi karena waktunya matahari memancarkan panasnya dengan maksimal. Via berada tepat di bawah pohon besar untuk menghindari panasnya matahari. Setelah ia menunggu 10 menit, akhirnya teguhpun sampai. Percakapan langsungpun terjadi antara Teguh dan Via.

”Vi, apakah kita benar-benar tidak bisa bersama lagi seperti dulu?” Tanya Teguh

”Tidak bisa, Guh.” Jawab Via Mantap

”Apakah kamu sudah menyukai laki-laki lain?” Tanya Teguh

”Tentu saja tidak.”

”Lalu kenapa? Kamu senang melihat aku menderita, Vi.”

”Aku juga menderita, Guh. Lebih dari kamu. Apa maksud kamu untuk mengirim pesan singkat seperti itu. Aku sakit, Guh. Kamu teror aku seperti ini.” Ucap Via menyakinkan sambil menepuk-nepuk dadanya dengan kencang

Kontak Teguhpun kaget melihat Via seperti itu.

”Keputusan aku sudah bulat, Guh. Aku tidak bisa bersama kamu lagi. Kamu harus mengerti dan jangan pernah lakukan hal-hal yang aneh-aneh.”

”Tapi, Vi.” Ucap Teguh sambil mencoba meraih tangan Via namun gagal.

”Cukup, Guh. Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.” Saran Via

”Vi, Aku..”

”Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.” Ucap Via sambil berlalu meninggalkan Teguh.

Teguh hanya terpaku dan membisu dengan apa yang diucapkan oleh Via. Dia heran kenapa Via bisa bersikap seperti itu kepadanya. Yang ia pikirkan Via sangat menyukainya.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar