Oleh : NKITD
Pagi menyingsing, suara alam merdu mendayu-dayu diiringi surya yang gagah mulai menampakkan diri. Seorang gadis belia tertidur pulas dalam buaian mimpi anugerah dari Ilahi. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi menandakan bahwa satu pesan telah diterima. Hal tersebut menyadarkan ia dari tidur yang cukup panjang. Dengan kekuatan seadanya diambilah ponsel itu yang berada tepat di atas meja tak jauh dari tempat tidurnya.
”Kamu tega sekali sama aku Via, aku masih cinta padamu. Lebih baik aku mati daripada kita tak bisa bersama lagi.”
Satu pesan singkat itu mampu membuat mata Via terbuka
lebar dan mendetakkan jantungnya lebih cepat dari biasanya. Sejenak ia
bergumam, ”Ya ampun, apa yang harus aku lakukan?”
Beberapa saat kemudia, dengan mengucapkan bismillah,
Viapun membalas pesan singkat tersebut.
”Begitu sempit jalan pikiran kamu, apakah Cuma karena hal
semacam ini kamu mau mengakhiri hidupmu.”
Beberapa menit kemudia ada pesan singkat dari Teguh.
”Aku tidak peduli, yang aku inginkan kita tetap bersama
selamanya.”
Viapun membalas, ”Percuma saja kita bersama karena aku
sudah tak cinta lagi denganmu.”
Teguh membalas pesan tersebut, ”Semudah dan secepat
itukah kamu melupakan aku, padahal kita putus baru beberapa hari. Aku masih
sayang padamu, Vi.”
Via membalas, ”Yang lalu biarlah berlalu Guh, kamu bisa
mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.”
Teguh membalas, ”Aku hanya ingin bersamamu, Vi.”
Via membalas, ”Cinta itu tak harus memiliki, Guh.”
Teguh membalas, ”Kalau kamu tidak ingin bersamaku lagi
lebih baik aku mati, aku sudah cukup tersiksa dengan keputusanmu yang tidak
masuk akal itu.”
Viapun merasa terpojok setelah mendapatkan pesan
singkat penghabisan itu, tak ada katapun yang mampu ia ciptakan untuk
menyakinkan lelaki itu untuk menerima keputusan yang telah ia ambil. Kebisuan
ciptakan gumamnya, ”Bagaimana kalau itu sampai terjadi, aku tidak mau
disalahkan atas kematiannya. Sebenarnya apa yang ada di dalam benaknya, sungguh
kekanak-kanakan.”
* * *
Pesan singkat yang ia
dapatkan kemarin berhasil membuat perasaannya tidak tenang dan merenggut
keceriaan yang biasanya tercermin dari wajahnya yang bulat. Padahal tugas-tugas
mata kulaihnya menumpuk.
“Kamu kenapa, Vi. Tidak
seperti biasanya kamu seperti ini.” Ucap ibu dengan air muka yang lembut ketika
masuk ke dalam kamar Via. D
“Tak apa-apa, Bu. Hanya
sedikit pusing saja dengan tugas yang menumpuk.” Jawab Via menyakinkan
“Ya sudah, kamu istirahat
dulu supaya besok bisa bangun pagi untuk berangkat kuliah.” Kata Ibu lembut
“Baiklah, Bu.” Jawab Via
“Oia, kamu sudah shalat Isya
kan?” Tanya Ibu
“Sudah, Bu.” Jawab Via
“Jangan lupa baca doa
sebelum tidur.” Saran Ibu
“Ya, Bu.” Jawab Via
Lampu kamarpun dipadamkan
ibu ketika keluar dari kamar Via. Dalam kegelapan yang biasanya mampu untuk
membuatnya tertidur nyenyak kini tidak demikian. Via masih memikirkan pesan
singkat yang ia dapatkan kemarin. Ingin rasanya ia ceritakan itu semua dengan
Ibunya tetapi tidak mungkin menurutnya. Padahal setiap ada masalah biasanya Via
selalu mencurahkan kepada ibunda tercintanya. Kesibukan ibunya mengurus Via dan
dua orang adiknya tak membuat kasih sayang dan perhatian ibunya berkurang
kepada anak-anaknya. Tanpa Via inginkan untuk tidur matanyapun memaksanya untuk
nyenyak dalam gelapnya malam.
Waktu menunjukkan pukul 3
dini hari, tiba-tiba Via terbangun dari tidurnya dan mengeluarkan peluh yang
terus bercucuran. Ada perasaan aneh yang ada dalam hatinya, ia merasa waswas.
Anehnya ia sama sekali tidak ingat, mimpi apakah yang membuat ia terkejut
seperti itu. Iapun melihat handphonenya, ternyata ada pesan singkat dari Teguh
yang dia kirimkan pada pukul 2 dini hari.
“Sekarang kamu puas, Vi. Tega sekali kamu. Saat ini
aku tidak tahu ada dimana, sama halnya dengan perasaanku yang tak tahu harus
melakukan apa untuk melupakanmu. Kamu puas karena telah berhasil membuat aku
seperti ini.”
Viapun berkata dalam hati, “Apakah mimpi tadi ada
kaitannya dengan teguh.”
*
* *
Suasana kampus hari ini berbeda dengan hari biasanya
menurut Via. Sejak sampai di kelas Via murung dan langsung duduk di tempat
duduknya. Beberapa saat kemudian datanglah Silvi, sahabat baiknya sejak awal
kuliah. Silvi langsung duduk di sebelah tempat duduk Via dan berkata,
”Sepertinya ada yang beda. Kamu ada masalah apa Vi?”
”Ya, Sil. Aku punya masalah mengenai hubunganku dengan Teguh.”
Jawab Via
”Ada apa dengan Teguh, Vi?” Tanya Silvi
”Aku sudah memutuskan hubungan dengannya beberapa hari
yang lalu, Sil.” Ucap Via
”Benarkah?” Tanya Silvi heran
”Ya, Sil. Aku merasa hubungan ini memang harus berakhir.”
Ucap Via
”Akhirnya kamu bisa bersikap Vi. Aku pikir kamu tidak
akan memutuskan hubungan dengannya.” Jawab Silvi
”Tapi ia tidak menerima begitu saja, Sil. Ia menerorku
dengan pesan singkat.” Ucap Via sambil memberikan handphonenya kepada Silvi.
”Ya, ampun.” Ucap Silvi heran ketika ia membaca pesan
singkat dari Teguh.
”Aku takut, ia akan melakukannya Sil.” Ucap Via khawatir
”Semoga saja tidak, Vi. Kita tunggu Tara dan Raras dulu
ya, Vi? Karena aku tidak tahu pasti apa yang harus kamu lakukan. Mungkin Tara
dan Raras bisa memberi masukan karena mereka berdua berpengalaman.” Jawab Silvi
menyakinkan
Beberapa menit kemudian Tara dan Raras datang ke kelas
langsung mendekati Silvi dan Via.
”Ada apa, pagi-pagi kalian berdua sudah sampai ke kampus
mendahului kita.” Ucap Raras
dengan nada bergurau.
”Ya, ni. Pasti nanti siang hujan.” Tambah Tara
“Ya, ya sudahlah.” Jawab Silvi dengan tawa khasnya
“Vi, ko kamu diam? Biasanya kamu yang paling senang membalikan lelucon dari kita.” Ucap Raras
heran
“Saat ini aku tidak bersemangat, Ras.” Jawab Via
“Coba lihat ini.” Kata Silvi sambil memberikan
handphonenya kepada Raras dan Tara
”Sungguh kekanak-kanakan.” Jawab Tara dan Raras bersmaan
”Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Via
”Kamu jangan terlalu menghiraukannya, Vi. Belum tentu ia
benar-benar melakukannya.” Saran Tara
Percakapan itu terus berlangsung, teman-teman Via
berusaha untuk menyakinkan Via bahwa kemungkinannya kecil Teguh melakukan hal
itu. Percakapan terpotong karena beberapa teman sekelasnya datang.
* * *
Aku tidak akan membiarkan ini semua, aku harus menemui
Teguh. Ucap Via dalam hati.
Karena dosen mata kuliah yang bersangkutan tidak datang
akhirnya Via memutuskan untuk pulang lebih awal. Setelah berpamitan dengan
temannya akhirnya. Ia tak langsung pulang ke rumahnya, tetapi ia ingin bertemu
dengan Teguh untuk menyelsaikan persoaalan yang terjadi. Setelah Via mengirim
pesan singkat kepada Teguh untuk bertemu di Taman kota.
Suasana taman kotapun sepi karena waktunya matahari
memancarkan panasnya dengan maksimal. Via berada tepat di bawah pohon besar
untuk menghindari panasnya matahari. Setelah ia menunggu 10 menit, akhirnya
teguhpun sampai. Percakapan langsungpun terjadi antara Teguh dan Via.
”Vi, apakah kita benar-benar tidak bisa bersama lagi
seperti dulu?” Tanya Teguh
”Tidak bisa, Guh.” Jawab Via Mantap
”Apakah kamu sudah menyukai laki-laki lain?” Tanya Teguh
”Tentu saja tidak.”
”Lalu kenapa? Kamu senang melihat aku menderita, Vi.”
”Aku juga menderita, Guh. Lebih dari kamu. Apa maksud kamu untuk mengirim pesan singkat seperti itu.
Aku sakit, Guh. Kamu teror aku seperti ini.” Ucap Via menyakinkan sambil
menepuk-nepuk dadanya dengan kencang
Kontak Teguhpun kaget
melihat Via seperti itu.
”Keputusan aku sudah bulat, Guh. Aku tidak bisa bersama kamu lagi. Kamu harus mengerti dan
jangan pernah lakukan hal-hal yang aneh-aneh.”
”Tapi, Vi.” Ucap Teguh sambil mencoba meraih tangan Via
namun gagal.
”Cukup, Guh. Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik
dari aku.” Saran Via
”Vi, Aku..”
”Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.” Ucap
Via sambil berlalu meninggalkan Teguh.
Teguh hanya terpaku dan membisu dengan apa yang diucapkan
oleh Via. Dia heran kenapa Via bisa bersikap seperti itu kepadanya. Yang ia
pikirkan Via sangat menyukainya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar