Selasa, 25 September 2018

Tanda Kasih



Oleh : NKITD

Sang surya melebihi tiang bendera, seorang siswa memancarkan aura kebahagiaan, bersandar duduk dipojok kelas. Pandangan matanya terus terarah pada satu bingkisan berplastik hitam yang berada di hadapannya. Suasana kelas sepi, jauh dari hiruk-piruk suara canda-tawa anak smp. Di dalam kelas ia hanya sendiri karena bel istirahat telah berbunyi 10 menit yang lalu. Bingkisan itu melahirkan kebahagiaan yang sangat di dalam hatinya, sehingga ia putuskan untuk berada di kelas saja. Ia hanya berkata kepada teman karibnya Qia, ”Aku malas ke kantin, kamu duluan saja.”

* * *

            Ia hanyalah seorang remaja bernama Rina, dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ayahnya adalah seorang guru honorer di daerahnya. Ia tinggal di daerah terpencil, untuk mendatangi keramaian pasar ia harus naik angkutan umum selama satu jam. Rina adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Antara anak yang satu dengan yang lain hanya berjarak 1 tahun paling lama 2 tahun. Pernah sekali ia mengeluh kepada ibunya dengan berkata, ”Ibu, belikan Rin tas yang baru?”

Ibunya berkata lembut diiringi dengan sentuhan lembut tepat di rambut Rina, ”Kamu pakai saja tas itu ya Nak? Kalau ada uang Insya Allah akan ibu belikan.”

Dengan senyum paksa rina menjawab, ”Baiklah Ibu.”

Dalam hatinya ia berkata, ”Sudah aku duga pasti jawaban ibu seperti itu. Ya, sudahlah.”

* * *

            Saat ini ia hanyalah pelajar kewajibannya adalah belajar dan sekolah. Karena itu apapun yang terjadi Rina selalu berangkat ke sekolah walaupun sering tidak diberikan uang saku. Untungnya sekolahnya bisa ia jangkau dengan berjalan kaki. Saat ia tidak mendapatkan uang saku, setiap istirahat ia pergi ke perpustakaan atau belajar di dalam kelas sendiri. Terkadang ia merasa geram jika ada beberapa temannya yang menyianyiakan makanannya dengan cara yang mubazir. Pernah waktu itu ia melihat seorang temannya yang bernama Rasti sedang asik berbicara kepada Romi sambil minum es beberapa sedot dan langsung membuangnya ke tempat sampah, sungguh miris. Dalam hatinya ia berkata, ”Sayang sekali, padahal esnya masih banyak.”

* * *

”Baiklah anak-anak, Bapak akan mengambil nilai untuk lari jarak jauh. Jadi kalian harus mengelilingin lingkungan sekolah selama 2 kali putaran.” Kata Guru Olahraga

”Ya, Pak.” Jawab teman-teman Rina serempak

Barisanpun sudah dalam keadaan baik dan benar, setiap baris terdiri dari lima siswa. Rina berada di barisan kedua pada urutan terakhir, sedangkan evi teman baiknya berada pada urutan keempat satu baris dengannya. Dalam hati Rina berkata, ”Sepatunya kuat tidak ya.”

Sepatu Rina kini memasuki taraf kurang layak pakai, sudah banyak lubang yang agak besar di bagian sampinya dan alasnya juga sudah belah. Sepat ingin sekali ia mengatakan pada Orang tuanya untuk membelikan ia sepatu baru, tapi tidak mungkin. Hampir saja ia ingin mengatakannya pada malam menjelang tidur di ruang tamu, namun ia urung melakukannya. Uang yang orang tua rina dapatkan lebih baik digunakan untuk keperluan sekolah adiknya daripada harus digunakan untuk membeli sepatu, begitulah pikirnya saat itu.

Pernah sekali temannya berkata. ”Ya ampun Rina, kamu ko masih pakai sepatu yang tidak layak pakai si.”  Rina hanya tersenyum miris tanpa berkata apa-apa.

* * *

Assalamualaikum, Mamah.” Ucap rasti ketika memasuki rumahnya.

”Waalaiku salam.” Jawab mamah Rasti

”Kamu sduah pulang, Nak.” ucap mamah ketika Rasti mencium tangan mamahnya.

”Ya, Mah. Hari ini rasti tidak ada sekul.” Jawab Rasti.

”Oo, begitu. Kamu makan dulu ya sebelum shalat?” Saran mamah rasti sambil menyiapkan makanan di meja makan.

”Ya, Mah.” Jawab Rasti sambil duduk di meja makan.

”Kamu makan yang banyak ya, Nak.” Ucap mamah sambil menyendok nasi untuk Rasti

”Ya, Mah. Mamah lihat sepatu rasti yang waktu itu dibelikan ka Rizal?” tanya rasti sambil menguyah beberapa butir nasi.

”Sepatu yang mana, sepatu kamukan banyak.” Ucap mamah Rasti

”Itu loh mah, sepatu sekolah yang ukurannya tidak pas sama aku.” Urai Rasti.

”Oo, sepatu yang satu bulan lalu dibelikan ka rizal.”  Ucap mamah Rasti

”Ya, Mah.” Jawab Rasti

”Nanti mamah cariin ya, Nak? sekarang kamu makan dulu.” Saran mamah

”Ya, Mah.” Jawab Rasti

Setelah selesai makan, rastipun bergegas untuk shalat dzuhur yang berkumandang 2 jam yang lalu. Setelah shalat rasti kembali menemui mamahnya yang sedang mencari sepatu. ”Sudah ketemu, Mah sepatu yang rasti maksud.” ucap rasti halus

”Belum, Nak. mamah lupa meletakkannya dimana?”

”Dimana ya? Rasti juga lupa.” Tambah rasti

Beberapa saat kemudian rastipun berkata. ”Oia kemarin aku letakkan di dalam lemarin.”

”Kamu itu kebiasaan sekali.” ucap mamah

”Maaf mah. Biasa akukan lupaan orangnya.” Jawab Rasti sambil meenunjukkan giginya.

”Ya sudah. Memang sepatu itu mau kamu apakan rasti? Tanya mamah

”Rahasia.” Ucap Rasti

”Kamu itu.” Kata mamah Rasti

”Ini sepatu untuk temanku mamah, daripada tidak aku pakai lebih baik buat dia.” Jelas Rasti.

”Anak mamah perhatian sekali.” Puji mamahnya

”Ya donk, Rasti.”Jawab Rasti

”Baru dipuji sedikit sudah sombong.” Tukas mamah

* * *

Tidak seperti biasanya hari ini Rasti berangkat ke sekolah lebih awal. Hal itu membuat keluarganya menjadi bingung. Kakanyapun berkata, ”Tumben kamu sudah rapi jam segini.” Rasti hanya unjuk gigi tanpa berkata apapun pada kakaknya yang sedang menikmati sarapan pagi bersama ibu dan ayahnya. Rasti langsung menyantap makan pagi dan berpamitan pada kedua orangtuanya dan kakaknya.

”Assalamualaikum.”  Ucap Rasti berlalu meninggalkan ruang makan.

”Waalaikum salam.” Jawab keluarganya serempak.

Hati-hati di jalan ya, Nak?” Ucap papah.

”Ya. Papah.” Jawab Rasti.

Rastipun berlalu, sementara itu kaknya rizal merasa aneh kiarena adiknya rasti memegang bingkisan yang berlapiskan plasti hitam. Rizapun bertanya, ”Mah, Rasti bawa apa?”

”Oo, itu. Dia bawa sepatu untuk diberikan kepada temannya.” Jawab mamah.

”Mulia sekali hatinya.” Ucap papah.

”Siapa dulu Mamahnya.” Tukas mamah.

”Siapa dulu Kakaknya donk, Mah.” Sela Rizal.

”Sudah-sudah kalian berdua ini ada-ada saja.” Ucap Papah.

* * *

Seperti yang telah ia pikirkan sebelum berangkat bahwa Rina pasti sudah datang lebih dulu dari teman-temannya. Rina sedang menyapu kelas karena saat ini adalah jadwal piketnya. Pekerjaannya hampir selesai, tinggal mengeduk sampahnya.

”Assalamualaikum, Rina.” Ucap Rasti

”Waalaikum salam.” Jawab Rina

Setelah Rasti duduk di bangkunya, rinapun selesai. Rastipun berkata, ”Rina ke sini sebentar.” Kata Rasti

”Ada apa, Ti?”  Tanya Rina

”Ini untuk kamu.” Ucap Rasti sambil memberikan bingkisan berplastik hitam.

”Apa ini, Ti?” Tanya Rina

”Kamu lihat saja.” Saran Rasti

”Ya, ampun ini sepatu untuk aku?” Tanya Rina memastikan

”Ya, Aku harap kamu bisa terima walaupun ini bukan sepatu baru.” Ucap Rasti dengan hati-hati

”Makasih rasti. Ini semua sudah lebih dari cukup.” Jawab Rina

            Pemberian Rasti membuat Rina bahagia sampai-sampai ia enggan untuk ke kantin pada jam istirahat. Rina merasa ini adalah tanda kasih dari yang terkasih, dan ia tak pernah menduga bahwa yang terkasih itu adalah Rasti. Teman yang tak pernah ia kira akan melakukan hal ini. Begitu baiknya Rasti sampai-sampai ia memperhatikan hal yang seperti ini. Berbeda sekali dengan temannya sarah yang mencemoohnya tanpa bisa memberikan apapun.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar