Selasa, 25 September 2018

Satu Harapan


Oleh : NKITD

Surya menunjukkan setengah sinarnya, burung-burung berkicau sambung-menyambung membentuk nada merdu diiringi oleh hembusan angin semilir menahan rindu. Seorang perempuan belia duduk tersandar di atas kursi menghadap jendela kamarnya. Dinding putih berhiaskan dengan beberapa bingkai foto yang tertata dengan apik. Perempuan itu masih memandang sinar surya, kadang tak berfokus seolah-olah ada bayangan masa lalu yang mengganggunya. Kokohnya pepohonan nyata telihat tepat beberapa meter dari jendela kamar tersebut. Sejenak burung-burung bertengger di ranting, seketika itu kembali terbang bebas. Dengan suara desah perempuan itu berkata liri,”Andaikan aku bisa terbang bebas seperti burung-burung itu”. Kebisuan kembali tercipta.

Tak pernah terbayangkan oleh perempuan itu, saat usianya menginjak 19 tahun ia akan dijodohkan oleh orang tuanya. Dan tak pernah terbayangkan pula kalau saat usianya menginjak 20 tahun ia tengah mengandung.  Ia masih memandang lembut pagi itu dan angannya terus bergerak ke masa-masa yang telah silam.

"Ayah, aku akan melamar pekerjaan dan semuanya akan baik-baik saja." Ujar perempuan itu itu diiringi dengan genggaman erat penuh kecemasan. Tergambar jelas di wajahnya yang putih dan matanya yang sipit.  Akhir-akhir ini ayahnya menjalani rawat jalan sesuai dengan saran dokter karena penyakit darah tinggi yang diderita.

 "Jangan Nak, ayah tidak setuju kalau kamu kerja, kamu juga harus kuliah." Jawab ayahnya itu dengan nada lemah tak berdaya karena penyakit darah tinggi yang dideritanya. Suasana pun berubah bisu, hanya tatapan persetujuan yang tercipta di antara anak dan ayah.

* * *

"Alhamdulillah Ibu, aku sudah bekerja dan aku juga sudah kuliah di salah satu Perguruan Tiinggi Swasta di Jakarta." Terang perempuan itu pada ibunya.

"Apakah kamu mampu Nak, kuliah sambil kerja?" Jawab ibunya penuh kelembutan.

"Insya Allah Bu, aku mampu karena aku mengambil mata kuliah pada hari sabtu dan minggu sedangkan hari biasanya aku akan bekerja ibu. Doakan Rara ya, Bu? " Ucap Rara penuh harap.

"Doa ibu akan selalu ada untukmu, Nak." Jawab ibu dengan dekapan hangat yang menguatkan Rara untuk menghadapi semuanya.

* * *



Krisis keuangan terus menggerogoti keluarga Rara, gaji yang ia terima dan tambahan uang pensiun ayahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kedua adiknya membutuhkan dana yang besar untuk melanjutkan sekolah ke tingkat selanjutnya. Belum lagi untuk pembayaran berobat ayahnya, biaya kuliahnya serta tanggungan hidup lainnya yang semakin tinggi.

Untuk memperbaiki krisis keuangan itu, akhirnya Rara dijodohkan oleh ayahnya dengan seorang pemuda lulusan S1 perbankan yang bernama Ansor saat ini bekerja disalah satu bank swasta terkemuka dan mempunyai modal untuk menikah dengannya. Usia ansor 8 tahun di atas Rara. Hal tersebutlah yang menjadi pertimbangan ayah Rara untuk menjodohkan mereka berdua.

"Nak, apakah kamu ingin menikah?" Tanya ayah ketika mereka berdua tengah berada di halaman rumah bersamaan dengan tergelincirnya matahari keperaduannya.

"Kenapa ayah bicara seperti itu?" Jawab Rara penuh rasa heran.

"Ayah pikir sebaiknya kamu menikah Nak, karena ada seorang pemuda yang melamarmu. Apakah kamu setuju Nak?" Ucap ayah penuh keyakinan.

"Tapi ayah, aku rasa waktunya belum tepat dan aku belum mengenalnya ayah." Jawab Rara dengan mantap.

"Ayah tahu itu Nak, tapi sebaiknya kamu pertimbangkan terlebih dahulu." Ucap ayah penuh harap.

"Baiklah ayah, aku akan mempertimbangkannya," Jawab Rara ragu.

Matahari terus bergelincir acuhkan percakapan mereka berdua.

* * *



Bintang-bintang hiasi malam berdampingan dengan bulan. Dalam gelapnya malam Rara menyandarkan seluruh keluh dan kesahnya kepada sang Pencipta. Curahan asanya mengalir dalam alunan merdu ayat-ayat suci, dzikir dan doa. Dalam relung hati yang terdalam ia tahu bahwa dengan pernikahan tersebut akan membawa keluarganya ke dalam kehidupan yang lebih baik, tapi ada keraguan yang menghampirinya. Tanpa disengaja tadi pagi ia mendengar percakapan orang tuanya.

"Mungkin ini adalah jalan yang harus kita ambil Bu." Ucap ayah dengan keyakinan.

"Tapi ayah, Rara masih muda. Apakah ia akan mampu menjalani mahligai rumah tangga." Jawab ibu khawatir.

"Bu, Rara itu adalah anak yang kuat. Ayah yakin ia akan mampu menghadapinya." Jawab ayah lembut.

"Tak bisakah kita hanya meminjam uang dari keluaga mereka tanpa persyaratan perjodohan?" Ucap ibu haru.

"Perjodohan itu bukan syarat Ibu, keluarga mereka hanya ingin menikahkan anaknya. Ayah tidak ingin meminjam atau menawarkan apapun pada mereka. Anak mereka hanya berkata bahwa ia akan menanggung segala kebutuhan hidup kita Ibu. Tidak ada salahnyakan kalau ayah menyetujuinya?" Jawab ayah lirih.

"Tapi Ibu merasa kurang setuju Ayah. Dapatkan pernikahan itu ditunda ayah?" Ucap ibu sendu.

"Ibu bagaimana mungkin kita menunda hal sebaik ini, pernikahan itu adalah hal yang baik, Bu." Jawab ayah tegas.

Rarapun menghampiri orangtuanya dan berkata, “Sudahlah Ibu, Insya Allah aku mampu untuk menghadapi semuanya. Aku yakin ini adalah jalan yang telah Allah berikan untukku. Dan aku percaya Allah tidak akan membebankan kepada hambanya diluar kemampuan hambanya tersebut.”

Mendengar perkataan Rara, suasanapun menjadi haru. Ibunya langsung memeluknya dan ada butiran-butiran air mata yang mengalir dari kedua matanya. Rara dapat merasakan air mata ibunya yang membasahi jilbab merah mudanya.

"Ya Allah, jika jalan ini adalah jalan yang terbaik yang Kau tentukan untukku maka berikan aku kesanggupan untuk menjalaninya." Sepenggal doa yang terucap lirih penuh harap di dada Rara.

* * *



Setelah Rara memberikan persetujuannya untuk dijodohkan oleh ayahnya. Akhirnya rara pun tahu bahwa Ansorlah pemuda yang dimaksud. Sebenarnya Rara sudah mengenal Ansor sejak lama, karena Ansor adalah anak seorang teman lama ayahnya. Walaupun perkenalan mereka sebatas mengetahui belum mendalami. Tak ada pilihan selain menerima perjodohan itu karena Ansor adalah pemuda yang memiliki pemahaman agama yang baik dan bertanggung jawab. Hanya saja Rara merasa waktunya belum tepat, bagaimana tidak saat ini Rara baru saja semester 2. Beberapa hari menjelang pernikahan, ansor menemui Rara di tempat kerjanya dan mengajaknya untuk berjalan-jalan. Dalam perjalanan percakapanpun tercipta antara Ansor dan Rara.

“Apakah kamu yakin menerima aku untuk menjadi pasangan hidupmu?” Tanya Ansor serius

”Seberapa yakin kamu memilih aku sebesar itu pula aku yakin kepada kamu.” Jawab Rara

Perkataan rara mebuat ansor terseyum penuh arti karena ia merasa keputusannya tepat memilih Rara sebagai pendamping hidupnya. Ansor berkata, ”Semoga ridho Allah menyertai jejak langkah kita.” Ucap Ansor

”Amin.”Jawab Rara

* * *



Pesta pernikahanpun berjalan dengan meriah, dalam waktu singkat Rara dan Ansor mengikat janji suci. Rara yang memiliki pemikiran yang melebihi usianya, kini berstatus sebagai istri seorang pegawai perbankkan. Sikap Ansor yang pengertian, bertanggung jawab mampu membuat Rara nyaman. Ansor tetap memberikan kebebasan kepadanya untuk melakukan hal-hal yang ia sukai termasuk kuliah, bekerja dan mengunjungi rumah orang tuanya.

Ansor membawa Rara pergi ke rumah mereka setelah mereka beberapa hari tinggal bersama orang tua Rara. Kini kewajiban rara bertambah selain menuntut ilmu, bekerja, dan menjadi seorang ibu rumah tangga. Jiwa rara yang belia mengusiknya untuk merasakan kebebasan yang semestinya dia dapatkan sebagai seorang gadis belia yang beranjak dewasa. Kini langkahnya menjadi sulit untuk melakukan semuanya secara bebas seperti dulu.

Kini perempuan belia itu masih tersandar di bangkunya, pandangannya masih memandang lembut lurus ke depan dengan arah pandang yang kabur. Burung-burung masih sambut-menyambut menyanyikan irama pagi. Bingkai foto pernikahan menjadi saksi bisu kebisuan perempuan itu. Terlihat jelas wajah-wajah bahagia terpancar sempurna kecuali wajahnya yang memancarkan nokta keraguan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar