Surya menunjukkan setengah sinarnya, burung-burung
berkicau sambung-menyambung membentuk nada merdu diiringi oleh hembusan angin
semilir menahan rindu. Seorang perempuan belia duduk tersandar di atas kursi
menghadap jendela kamarnya. Dinding putih berhiaskan dengan beberapa bingkai
foto yang tertata dengan apik. Perempuan itu masih memandang sinar surya,
kadang tak berfokus seolah-olah ada bayangan masa lalu yang mengganggunya.
Kokohnya pepohonan nyata telihat tepat beberapa meter dari jendela kamar
tersebut. Sejenak
burung-burung bertengger di ranting, seketika itu kembali terbang bebas. Dengan
suara desah perempuan itu berkata liri,”Andaikan aku bisa terbang bebas seperti
burung-burung itu”. Kebisuan kembali tercipta.
Tak pernah terbayangkan oleh perempuan itu, saat usianya
menginjak 19 tahun ia akan dijodohkan oleh orang tuanya. Dan tak pernah
terbayangkan pula kalau saat usianya menginjak 20 tahun ia tengah
mengandung. Ia masih memandang lembut
pagi itu dan angannya terus bergerak ke masa-masa yang telah silam.
"Ayah, aku akan melamar pekerjaan dan semuanya akan
baik-baik saja." Ujar perempuan itu itu diiringi dengan genggaman erat
penuh kecemasan. Tergambar jelas di wajahnya yang putih dan matanya yang
sipit. Akhir-akhir ini ayahnya menjalani
rawat jalan sesuai dengan saran dokter karena penyakit darah tinggi yang
diderita.
"Jangan Nak,
ayah tidak setuju kalau kamu kerja, kamu juga harus kuliah." Jawab ayahnya
itu dengan nada lemah tak berdaya karena penyakit darah tinggi yang
dideritanya. Suasana pun berubah bisu, hanya tatapan persetujuan yang tercipta
di antara anak dan ayah.
* * *
"Alhamdulillah Ibu, aku sudah bekerja dan aku juga
sudah kuliah di salah satu Perguruan Tiinggi Swasta di Jakarta." Terang
perempuan itu pada ibunya.
"Apakah kamu mampu Nak, kuliah sambil kerja?"
Jawab ibunya penuh kelembutan.
"Insya Allah Bu, aku mampu karena aku mengambil mata
kuliah pada hari sabtu dan minggu sedangkan hari biasanya aku akan bekerja ibu.
Doakan Rara ya, Bu? " Ucap Rara penuh harap.
"Doa ibu akan selalu ada untukmu, Nak." Jawab ibu dengan dekapan hangat yang menguatkan Rara
untuk menghadapi semuanya.
* * *
Krisis keuangan terus menggerogoti keluarga Rara, gaji
yang ia terima dan tambahan uang pensiun ayahnya tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka. Kedua adiknya membutuhkan dana yang besar untuk
melanjutkan sekolah ke tingkat selanjutnya. Belum lagi untuk pembayaran berobat
ayahnya, biaya kuliahnya serta tanggungan hidup lainnya yang semakin tinggi.
Untuk memperbaiki krisis keuangan itu, akhirnya Rara
dijodohkan oleh ayahnya dengan seorang pemuda lulusan S1 perbankan yang bernama
Ansor saat ini bekerja disalah satu bank swasta terkemuka dan mempunyai modal
untuk menikah dengannya. Usia ansor 8 tahun di atas Rara. Hal tersebutlah yang
menjadi pertimbangan ayah Rara untuk menjodohkan mereka berdua.
"Nak, apakah kamu ingin menikah?" Tanya ayah
ketika mereka berdua tengah berada di halaman rumah bersamaan dengan
tergelincirnya matahari keperaduannya.
"Kenapa ayah bicara seperti itu?" Jawab Rara
penuh rasa heran.
"Ayah pikir sebaiknya kamu menikah Nak, karena ada
seorang pemuda yang melamarmu. Apakah kamu setuju Nak?" Ucap ayah penuh
keyakinan.
"Tapi ayah, aku rasa waktunya belum tepat dan aku
belum mengenalnya ayah." Jawab Rara dengan mantap.
"Ayah tahu itu Nak, tapi sebaiknya kamu
pertimbangkan terlebih dahulu." Ucap ayah penuh harap.
"Baiklah ayah, aku akan mempertimbangkannya,"
Jawab Rara ragu.
Matahari terus bergelincir acuhkan percakapan mereka
berdua.
* * *
Bintang-bintang hiasi malam berdampingan dengan bulan.
Dalam gelapnya malam Rara menyandarkan seluruh keluh dan kesahnya kepada sang
Pencipta. Curahan asanya mengalir dalam alunan merdu ayat-ayat suci, dzikir dan
doa. Dalam relung hati yang terdalam ia tahu bahwa dengan pernikahan tersebut
akan membawa keluarganya ke dalam kehidupan yang lebih baik, tapi ada keraguan
yang menghampirinya. Tanpa disengaja tadi pagi ia mendengar percakapan orang
tuanya.
"Mungkin ini adalah jalan yang harus kita ambil Bu."
Ucap ayah dengan keyakinan.
"Tapi ayah, Rara masih muda. Apakah ia akan mampu
menjalani mahligai rumah tangga." Jawab ibu khawatir.
"Bu, Rara itu adalah anak yang kuat. Ayah yakin
ia akan mampu menghadapinya." Jawab ayah lembut.
"Tak bisakah kita hanya meminjam uang dari
keluaga mereka tanpa persyaratan perjodohan?" Ucap ibu haru.
"Perjodohan itu bukan syarat Ibu, keluarga mereka
hanya ingin menikahkan anaknya. Ayah tidak ingin meminjam atau menawarkan
apapun pada mereka. Anak mereka hanya berkata bahwa ia akan menanggung segala
kebutuhan hidup kita Ibu. Tidak ada salahnyakan kalau ayah menyetujuinya?"
Jawab ayah lirih.
"Tapi Ibu merasa kurang setuju Ayah. Dapatkan
pernikahan itu ditunda ayah?" Ucap ibu sendu.
"Ibu bagaimana mungkin kita menunda hal sebaik
ini, pernikahan itu adalah hal yang baik, Bu." Jawab ayah tegas.
Rarapun menghampiri orangtuanya dan berkata, “Sudahlah
Ibu, Insya Allah aku mampu untuk menghadapi semuanya. Aku yakin ini adalah
jalan yang telah Allah berikan untukku. Dan aku percaya Allah tidak akan
membebankan kepada hambanya diluar kemampuan hambanya tersebut.”
Mendengar perkataan Rara,
suasanapun menjadi haru. Ibunya langsung memeluknya dan ada butiran-butiran air
mata yang mengalir dari kedua matanya. Rara dapat merasakan air mata ibunya
yang membasahi jilbab merah mudanya.
"Ya Allah, jika jalan ini adalah jalan yang terbaik
yang Kau tentukan untukku maka berikan aku kesanggupan untuk
menjalaninya." Sepenggal doa yang terucap lirih penuh harap di dada Rara.
* * *
Setelah Rara memberikan
persetujuannya untuk dijodohkan oleh ayahnya. Akhirnya rara pun tahu bahwa
Ansorlah pemuda yang dimaksud. Sebenarnya Rara sudah mengenal Ansor sejak lama,
karena Ansor adalah anak seorang teman lama ayahnya. Walaupun perkenalan mereka
sebatas mengetahui belum mendalami. Tak ada pilihan selain menerima perjodohan
itu karena Ansor adalah pemuda yang memiliki pemahaman agama yang baik dan
bertanggung jawab. Hanya saja Rara merasa waktunya belum tepat, bagaimana tidak
saat ini Rara baru saja semester 2. Beberapa hari menjelang pernikahan, ansor
menemui Rara di tempat kerjanya dan mengajaknya untuk berjalan-jalan. Dalam
perjalanan percakapanpun tercipta antara Ansor dan Rara.
“Apakah kamu yakin menerima aku untuk menjadi pasangan
hidupmu?” Tanya Ansor serius
”Seberapa yakin kamu memilih aku sebesar itu pula aku
yakin kepada kamu.” Jawab Rara
Perkataan rara mebuat ansor
terseyum penuh arti karena ia merasa keputusannya tepat memilih Rara sebagai
pendamping hidupnya. Ansor berkata, ”Semoga ridho Allah menyertai jejak langkah
kita.” Ucap Ansor
”Amin.”Jawab Rara
* * *
Pesta pernikahanpun berjalan
dengan meriah, dalam waktu singkat Rara dan Ansor mengikat janji suci. Rara
yang memiliki pemikiran yang melebihi usianya, kini berstatus sebagai istri
seorang pegawai perbankkan. Sikap
Ansor yang pengertian, bertanggung jawab mampu membuat Rara nyaman. Ansor tetap
memberikan kebebasan kepadanya untuk melakukan hal-hal yang ia sukai termasuk
kuliah, bekerja dan mengunjungi rumah orang tuanya.
Ansor membawa Rara pergi ke rumah mereka setelah mereka
beberapa hari tinggal bersama orang tua Rara. Kini kewajiban rara bertambah
selain menuntut ilmu, bekerja, dan menjadi seorang ibu rumah tangga. Jiwa rara
yang belia mengusiknya untuk merasakan kebebasan yang semestinya dia dapatkan
sebagai seorang gadis belia yang beranjak dewasa. Kini langkahnya menjadi sulit
untuk melakukan semuanya secara bebas seperti dulu.
Kini perempuan belia itu masih tersandar di bangkunya,
pandangannya masih memandang lembut lurus ke depan dengan arah pandang yang
kabur. Burung-burung masih sambut-menyambut menyanyikan irama pagi. Bingkai foto
pernikahan menjadi saksi bisu kebisuan perempuan itu. Terlihat jelas
wajah-wajah bahagia terpancar sempurna kecuali wajahnya yang memancarkan nokta
keraguan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar