Selasa, 25 September 2018

Surya Memudar


Oleh ; NKITD

Setiap pagi aku selalu melihatnya melalui jedela kamarku, ia berjalan dan leyap entah kemana. Dia adalah seorang pemuda yang tidak aku ketahui namanya, entah kenapa setiap aku melihatnya aku merasa suatu saat nanti kita akan berteman baik.

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana dan mempunyai 3 orang adik, 1 perempuan dan 2 laki-laki. Orang tuaku memberi nama Laras, adik laki-lakiku bernama Iras dan Tio sedangkan adik perempuanku bernama Sasa. Seragam putih biru selalu aku kenakan setiap hari senin sampai kami. Saat ini aku bersekolah di SMP Tunas Indah kelas 2 semester 2. Pendidikan agama yang diberikan orang tua kamipun cukup sehingga perempuan dikeluarga kami mengenakan jilabab.

Orang tua kami selalu menasehati agar kami tidak pacaran terlebi dahulu karena dikhawatirkan akan mengganggu sekolah kami. Aku mengerti dan berusaha untuk menjalaninya. Tapi apa boleh buat waktu membawaku untuk mengenal pemuda itu. Berkat persahabatan antara aku dan rere maka aku bisa mengenal pemuda itu. Ternyata ia bernama Surya, bersekolah di semester yang sama denganku dan sekolahnya tak jauh dari sekolahku. Sayangnya ia telah menjalin hubungan dengan seseorang dan aku mengenalnya. Seketika harapan untuk dekat dengannya sirna, karena aku tidak ingin menjadi penghalang antara mereka berdua.

* * *



“Hari ini panas sekali, sudah panas pulang sendirian lagi. Sungguh terlalu, Rere kemana lagi.” Ucap laras

Tiba-tiba Laras mendengar suara seorang pria yang memanggilnya, iapun menoleh. Ternyata Surya yang memanggil namanya. Suryapun berkata, “Lagi ngelamun ya?”

“Ehm, ya. Biasa berjalan sambil berpikir.” Ucap Laras dengan senyu yang merona di muka kemerahannya.

“Pastas saja dari tadi aku panggil. Eh.. kamu malah jalan terus.”  Kata Surya

”Maaf ya, semoga kamu bisa maklum.” Jawab Laras

”Ya, bisa ko. Tenang saja.” Ucap Surya

”Kamu tidak pulang sekolah bersama Dian?” Ucap Laras spontan

”Tidak, biasa dia ada urusan dengan organisasinya.” jawab surya

”oo. Begitu.” Kata Laras

”Kamu sendiri, sendirian. Biasanya selalu berdua dengan Rere.” Tanya Surya

”Ya, Rere ada urusan di sekolah jadi aku pulang sekolah duluan dech.” Jawab Laras

Perjalanan pulang sekolahpun menjadi lebih berwarna, bagi Laras karena ada surya yang menjadi teman seperjalanannya. Suasana kaku yang dulu sempat tercipta antara Laras dan Suryapun berubah menjadi hangat dan bersahabat. Dan setiap Rere dan Dian mempunyai urusan di sekolah maka Laras dan Suryapun menjadi teman seperjalanan, begitulah seterusnya.

            Perjalanan itu menjadi kunci untuk membuka isi hati antara Laras dan Surya. Walaupun seperti itu Laras tetap berpikir kalau ia sudah merasa bahagia bila ia bisa bersahabat dengan surya tanpa mengharapkan menjalin hubungan yang khusus dengannya.

* * *

”Dian mendua aku, Laras.” Ucap Surya ketika mereka pulang sekolah bersama. Wajah surya yang bersih kini diliputi oleh awan hitam kesedihan.

”Benarkah?” Ucap Laras heran

”Ya, Ras. Kemarin aku sudah bertanya kepanya dan ia mengaku. Setelah itu dia memutuskan hubungan yang sudah kita bangun selama 1 tahun.” Jawab Surya

”Ya, sudahlah. Kamukan laki-laki, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik daripada Dian.” Ucap Laras

”Aku sedih, Ras.” Kata Surya

”Ya, aku ngerti. Tapikan kamu laki-laki, jangan terlalu serius memikirkan hal itu. Aku akan menjadi sahabatmu dan mendengarkan keluh kesahmu. Ok?” Hibur Laras

”Makasih ya, Ras? Kamu selalu ada untukku.” Jawaban Surya

”Ya, sama-sama. Kamu juga selalu ada saat aku butuh teman pulang sekolah.” Hibur Laras

Percakap itupun berakhir dengan tawa dan canda yang mereka ciptakan dengan lelucon ala anak sekolahan.

* * *

            Sejak Laras mengetahui hubungan Surya dan Dian berakhir, entah mengapa ia merasa lebih bahagia dari biasanya. Iapun merasa bingung, kenapa ia bisa seperti itu?. Iapun menemui Rere untuk menjelaskan apa sebenarnya yang ia rasakan. Halaman belakang rumah Rere menjadi saksi bisu percakapan antara Laras dan Rere.

”Rere, kamu sudah tahukan kalau aku merasakan hal yang berbeda setiap berada di dekat Surya. Aku merasa bahagia.” Ucap Laras

”Ia, aku tahu. Masalahnya apa?” Jawab Rere

”Aku bingung apakah ini yang dinamakan suka?” Kata Laras

”Aku pikir juga begitu. Itulah yang namanya suka.” Jawab Rere

”Tapi aku tak mungkin bisa menjalin hubungan dengannya Re.” Keluh Laras

”Kenapa tidak?” Ucap Rere

”Karena kedua orang tuaku sudah memberi nasehat supaya aku tidak pacaran dulu.” Ucap Laras

”Ya, kalau begitu ya jangan dulu.” Jawab Rere

“Tapi.. ya  sudahlah kalau jodoh juga tak lari kemana.” Kata Laras

”Cie,, yang pasrah.” jawab Rere

”Ya, ya.” Ucap Laras

“Aku percaya keputusan yang kamu ambil adalah keputusan yang terbaik bagi semuanya.” Kata Rere

“Amien. Ini rahasia diantara kita ya Re. Kamu jangan sampai mengatakannya kepada Surya. Ok?” Jawab Laras

”Ya, tenang saja.” Ucap Sarah dengan sungguh-sungguh

Percakapan itupun berlanjut dengan pembahasan yang tidak jelas arahnya. Seperti biasa percakapan itu berakhir dengan canda dan tawa.

* * *

Bel sekolahpun berbunyi menandakan waktunya pulang sekolah. Seperti biasa Laras langsu menuju kelas Rere yang tak hanya dipisahkan oleh 2 kelas. Mereka berduapun pulang sekolah bersama.

“Hai, Surya.” Ucap Rere

“Hai, Re.” Jawab Surya

Laraspun heran kenapa Surya bisa ada di depan gerbang sekolahnya. Dengan spontan Laraspun berkata, “Ada angin apa ni kamu ada di depan gerbang sekolah kita?”

“Angin pa ya?” Jawab Surya

Dengan nada nyeleneh Rerepun berkata, “Angin cinta kali,, hehehehe.”

Kontak Laras dan Suryapun diam dan wajah mereka berubah memerah.

Sudah-sudah jangan main grogian-grogian gitu dong. Ayo kita jalan?” Ucap Rere

Sebelum pulang sekolah kita makan dulu yuk di Pangkalan Bakso Kece.” Kata Surya

“Aduh, maaf ya aku tidak bisa?” Jawab Laras

“Ayolah, Ras. Kita makan bakso dulu.” Ucap Rere

”Gimana ya, ya sudahlah ayo?” Kata Laras

“Gitu dong.” Ucap Surya

Selesai makan kamipun bercakap-cakap sebentar dan aku pamit duluan karena waktu menunjukkan sudah jam 2. Suryapun menahan dan berkata, ”sebetar dulu Ras, ada yang ingin aku bicarakan.”

”Oo, oke? Ingin bicara apa si Surya.”

Rere hanya cengar-cengir tidak jelas disebelah laras. ”Aku suka sama kamu, maukah kamu menjalin hubungan denganku?” Dengan suara terbata-bata

Laraspun heran dan diam seribu bahasa.

Untung saja Rere membuat Laras menjadi sadar kembali. “Gimana ya Surya? Sebenarnya aku suka sama kamu. Tapi bagaimana kalau kita bersahabat, maksudnya kita tetap menjaga perasaan kita masing-masing. Aduh gimana ya?”

“Ribet kali kamu, Ras. Terima sajalah.” Sela Rere

”Bagaimana ya?” Ucap Laras ragu

”Aku bisa terima apapun pilihan kamu ko, Ras?” Jawab Surya

”Kamu tidak maukan kalau Surya menjalin hubungan lagi dengan Dian.” Sela Rere

Seketika Laraspun berpikir, sebenarnya aku suka Surya tapi bagaimana dengan nasehat ayah dan ibunya. Tapi bagaimana kalau dia menjalin hunbungan lagi dengan Dian, Apakah aku rela melihatnya?”  Ya Tuhan apa yang harus aku pilih. Ucap Laras dalam hati

Akhirnya ia memilih untuk menjalin hubungan dengan Surya ditambah persyaratan yang telah ia ajukan kepada Surya. Persyaratan tersebut diterima oleh Surya dengan lapang dada.

* * *

Hubungan Laras dan Suryapun akhirnya diketahui oleh Dian. Laraspun merasa tak enak hati karena ia merasa kalau Dian masih menyukai Surya. Rasa cemburu kadang merasuk dalam hatinya, mengetahui bahwa Dian dan Surya kini satu kelas. Tapi kesungguhan Surya mampu untuk mengantisipasi rasa cemburunya. Kebahagiaan Laras tak sempurna karena hubungannya dengan Surya tidak diketahui kedua orangtuanya. Ia berusaha untuk menutupinya. Hapir saja Laras di ketahui sedang jalan berdua di toko buku oleh adiknya Iras, untung saja Laras bisa mengatakan bahwa Surya hanya teman biasa. Tapi Iras bukanlah adik yang bodoh karena ia sekarang usianya hanya beda 2 tahun dengan Laras.

* * *

Ketika kami sekeluarga sedang menonton televisi seperti malam-malam biasanya. Tiba-tiba saja ayah Laras berkata, ”Usia kalian masih dini, jadi jangan pacaran dulu ya?” Kontak aku merasa tersinggung atas ucapan ayah. Dan perlahan-lahan Laraspun meninggalkan ruang televisi. ”Apa yang harus aku lakukan Ya Allah. Disisi lain aku sangat menyukai Surya, tapi aku yakin orang tuaku tidak akan menyetujui hubungan kami. Aku tahu sekali orang tuaku sangat tegas terhadap perkataan yang telah mereka katakan.” Ucapnya dalam hati.

Perkataan ayahnya tadi malam membuat Laras merasa bersalah. Ia merasa telah membohongi orang tuanya karena telah melanggar nasehat yang telah diberikan. ”Apakah aku harus memutuskan hubungan ini.” Ucap Laras lirih.

* * *

Dengan keputusan yang bulat akhirnya Laras memutuskan hubungannya dengan Surya yang berjalan hampir 3 bulan. Laras hanya berkata, ”Lebih baik kita akhiri hubungan ini karena aku tidak ingin lagi melukaimu, Surya.” Tanpa mengatakan bahwa kedua orang tuanya tidak menghendaki hubungan itu. Surya bingung dan berkata, ”Apakah ada laki-laki lain yang kamu sukai, Ras?”

Laras menjawab, ”Tentu saja tidak, Maafin aku karena aku tak bisa melanjutkan hubungan ini.” Setelah itu Laraspun pergi meninggalkan Surya yang tengah menundukkan kepalanya.

Di dalam hati Laraspun berkata, ”Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kita. Kalau kita jodoh pasti kita akan dipertemukan kembali Surya. Untuk saat ini aku akan memudarkan bayangmu dari hatiku.”














Tidak ada komentar:

Posting Komentar