Setiap
pagi aku selalu melihatnya melalui jedela kamarku, ia berjalan dan leyap entah
kemana. Dia adalah seorang pemuda yang tidak aku ketahui namanya, entah kenapa
setiap aku melihatnya aku merasa suatu saat nanti kita akan berteman baik.
Aku
terlahir dari keluarga yang sederhana dan mempunyai 3 orang adik, 1 perempuan
dan 2 laki-laki. Orang tuaku memberi nama Laras, adik laki-lakiku bernama Iras
dan Tio sedangkan adik perempuanku bernama Sasa. Seragam putih biru selalu aku
kenakan setiap hari senin sampai kami. Saat ini aku bersekolah di SMP Tunas
Indah kelas 2 semester 2. Pendidikan agama yang diberikan orang tua kamipun
cukup sehingga perempuan dikeluarga kami mengenakan jilabab.
Orang
tua kami selalu menasehati agar kami tidak pacaran terlebi dahulu karena
dikhawatirkan akan mengganggu sekolah kami. Aku mengerti dan berusaha untuk
menjalaninya. Tapi apa boleh buat waktu membawaku untuk mengenal pemuda itu.
Berkat persahabatan antara aku dan rere maka aku bisa mengenal pemuda itu.
Ternyata ia bernama Surya, bersekolah di semester yang sama denganku dan
sekolahnya tak jauh dari sekolahku. Sayangnya ia telah menjalin hubungan dengan
seseorang dan aku mengenalnya. Seketika harapan untuk dekat dengannya sirna,
karena aku tidak ingin menjadi penghalang antara mereka berdua.
*
* *
“Hari
ini panas sekali, sudah panas pulang sendirian lagi. Sungguh terlalu, Rere
kemana lagi.” Ucap laras
Tiba-tiba
Laras mendengar suara seorang pria yang memanggilnya, iapun menoleh. Ternyata
Surya yang memanggil namanya. Suryapun berkata, “Lagi ngelamun ya?”
“Ehm,
ya. Biasa berjalan sambil berpikir.” Ucap Laras dengan senyu yang merona di
muka kemerahannya.
“Pastas
saja dari tadi aku panggil. Eh.. kamu malah jalan terus.” Kata Surya
”Maaf
ya, semoga kamu bisa maklum.” Jawab Laras
”Ya,
bisa ko. Tenang saja.” Ucap Surya
”Kamu
tidak pulang sekolah bersama Dian?” Ucap Laras spontan
”Tidak,
biasa dia ada urusan dengan organisasinya.” jawab surya
”oo. Begitu.” Kata Laras
”Kamu sendiri, sendirian. Biasanya selalu berdua dengan Rere.” Tanya Surya
”Ya, Rere ada urusan di sekolah jadi aku pulang sekolah
duluan dech.” Jawab Laras
Perjalanan pulang sekolahpun menjadi lebih berwarna, bagi
Laras karena ada surya yang menjadi teman seperjalanannya. Suasana kaku yang
dulu sempat tercipta antara Laras dan Suryapun berubah menjadi hangat dan
bersahabat. Dan setiap Rere dan Dian mempunyai urusan di sekolah maka Laras dan
Suryapun menjadi teman seperjalanan, begitulah seterusnya.
Perjalanan
itu menjadi kunci untuk membuka isi hati antara Laras dan Surya. Walaupun
seperti itu Laras tetap berpikir kalau ia sudah merasa bahagia bila ia bisa
bersahabat dengan surya tanpa mengharapkan menjalin hubungan yang khusus
dengannya.
*
* *
”Dian mendua aku, Laras.” Ucap Surya ketika mereka pulang
sekolah bersama. Wajah surya yang bersih kini diliputi oleh awan hitam
kesedihan.
”Benarkah?” Ucap Laras heran
”Ya, Ras. Kemarin aku sudah bertanya kepanya dan ia
mengaku. Setelah itu dia memutuskan hubungan yang sudah kita bangun selama 1
tahun.” Jawab Surya
”Ya, sudahlah. Kamukan laki-laki, kamu bisa mendapatkan
wanita yang lebih baik daripada Dian.” Ucap Laras
”Aku sedih, Ras.” Kata Surya
”Ya, aku ngerti. Tapikan kamu laki-laki, jangan terlalu serius memikirkan hal itu. Aku akan menjadi sahabatmu dan mendengarkan keluh
kesahmu. Ok?” Hibur Laras
”Makasih ya, Ras? Kamu selalu ada untukku.” Jawaban Surya
”Ya, sama-sama. Kamu juga selalu ada saat aku butuh teman pulang sekolah.” Hibur Laras
Percakap itupun berakhir dengan tawa dan canda yang
mereka ciptakan dengan lelucon ala anak sekolahan.
*
* *
Sejak Laras mengetahui hubungan Surya dan Dian berakhir,
entah mengapa ia merasa lebih bahagia dari biasanya. Iapun merasa bingung,
kenapa ia bisa seperti itu?. Iapun menemui Rere untuk menjelaskan apa
sebenarnya yang ia rasakan. Halaman belakang rumah Rere menjadi saksi bisu
percakapan antara Laras dan Rere.
”Rere, kamu sudah tahukan kalau aku merasakan hal yang
berbeda setiap berada di dekat Surya. Aku merasa bahagia.” Ucap Laras
”Ia, aku tahu. Masalahnya apa?” Jawab Rere
”Aku bingung apakah ini yang dinamakan suka?” Kata Laras
”Aku pikir juga begitu. Itulah yang namanya suka.” Jawab
Rere
”Tapi aku tak mungkin bisa menjalin hubungan dengannya
Re.” Keluh Laras
”Kenapa tidak?” Ucap Rere
”Karena kedua orang tuaku sudah memberi nasehat supaya
aku tidak pacaran dulu.” Ucap Laras
”Ya, kalau begitu ya jangan dulu.” Jawab Rere
“Tapi.. ya sudahlah kalau jodoh juga tak lari kemana.” Kata Laras
”Cie,, yang pasrah.” jawab Rere
”Ya, ya.” Ucap Laras
“Aku percaya keputusan yang kamu ambil adalah keputusan
yang terbaik bagi semuanya.” Kata
Rere
“Amien. Ini rahasia diantara kita ya Re. Kamu jangan
sampai mengatakannya kepada Surya. Ok?” Jawab Laras
”Ya, tenang saja.” Ucap Sarah dengan sungguh-sungguh
Percakapan itupun berlanjut dengan pembahasan yang tidak
jelas arahnya. Seperti biasa percakapan itu berakhir dengan canda dan tawa.
* * *
Bel sekolahpun berbunyi menandakan waktunya pulang
sekolah. Seperti biasa Laras langsu menuju kelas Rere yang tak hanya dipisahkan
oleh 2 kelas. Mereka berduapun pulang sekolah bersama.
“Hai, Surya.” Ucap Rere
“Hai, Re.” Jawab Surya
Laraspun heran kenapa Surya bisa ada di depan gerbang
sekolahnya. Dengan spontan Laraspun berkata, “Ada angin apa ni kamu ada di
depan gerbang sekolah kita?”
“Angin pa ya?” Jawab Surya
Dengan nada nyeleneh Rerepun berkata, “Angin cinta kali,,
hehehehe.”
Kontak Laras dan Suryapun diam dan wajah mereka berubah
memerah.
Sudah-sudah jangan main grogian-grogian gitu dong. Ayo
kita jalan?” Ucap Rere
Sebelum pulang sekolah kita makan dulu yuk di Pangkalan
Bakso Kece.” Kata Surya
“Aduh, maaf ya aku tidak bisa?” Jawab Laras
“Ayolah, Ras. Kita
makan bakso dulu.” Ucap Rere
”Gimana ya, ya sudahlah ayo?” Kata Laras
“Gitu dong.” Ucap Surya
Selesai makan kamipun bercakap-cakap sebentar dan aku
pamit duluan karena waktu menunjukkan sudah jam 2. Suryapun menahan dan
berkata, ”sebetar dulu Ras, ada yang ingin aku bicarakan.”
”Oo, oke? Ingin bicara apa si Surya.”
Rere hanya cengar-cengir tidak jelas disebelah laras.
”Aku suka sama kamu, maukah kamu menjalin hubungan denganku?” Dengan suara terbata-bata
Laraspun heran dan diam seribu bahasa.
Untung saja Rere membuat Laras menjadi sadar kembali.
“Gimana ya Surya? Sebenarnya aku suka sama kamu. Tapi bagaimana kalau kita
bersahabat, maksudnya kita tetap menjaga perasaan kita masing-masing. Aduh gimana ya?”
“Ribet kali kamu, Ras. Terima sajalah.” Sela Rere
”Bagaimana ya?” Ucap Laras ragu
”Aku bisa terima apapun pilihan kamu ko, Ras?” Jawab Surya
”Kamu tidak maukan kalau Surya menjalin hubungan lagi
dengan Dian.” Sela Rere
Seketika Laraspun berpikir, sebenarnya aku suka Surya
tapi bagaimana dengan nasehat ayah dan ibunya. Tapi bagaimana kalau dia
menjalin hunbungan lagi dengan Dian, Apakah aku rela melihatnya?” Ya Tuhan apa yang harus aku pilih. Ucap Laras
dalam hati
Akhirnya ia memilih untuk menjalin hubungan dengan Surya
ditambah persyaratan yang telah ia ajukan kepada Surya. Persyaratan tersebut
diterima oleh Surya dengan lapang dada.
*
* *
Hubungan Laras dan Suryapun akhirnya diketahui oleh Dian.
Laraspun merasa tak enak hati karena ia merasa kalau Dian masih menyukai Surya.
Rasa cemburu kadang merasuk dalam hatinya, mengetahui bahwa Dian dan Surya kini
satu kelas. Tapi kesungguhan Surya mampu untuk mengantisipasi rasa cemburunya.
Kebahagiaan Laras tak sempurna karena hubungannya dengan Surya tidak diketahui
kedua orangtuanya. Ia berusaha untuk menutupinya. Hapir saja Laras di ketahui
sedang jalan berdua di toko buku oleh adiknya Iras, untung saja Laras bisa
mengatakan bahwa Surya hanya teman biasa. Tapi Iras bukanlah adik yang bodoh
karena ia sekarang usianya hanya beda 2 tahun dengan Laras.
* * *
Ketika kami sekeluarga sedang menonton televisi seperti
malam-malam biasanya. Tiba-tiba saja
ayah Laras berkata, ”Usia kalian masih dini, jadi jangan pacaran dulu ya?”
Kontak aku merasa tersinggung atas ucapan ayah. Dan perlahan-lahan Laraspun
meninggalkan ruang televisi. ”Apa yang harus aku lakukan Ya Allah. Disisi lain
aku sangat menyukai Surya, tapi aku yakin orang tuaku tidak akan menyetujui
hubungan kami. Aku tahu sekali orang tuaku sangat tegas terhadap perkataan yang
telah mereka katakan.” Ucapnya dalam hati.
Perkataan ayahnya tadi malam membuat Laras merasa
bersalah. Ia merasa telah membohongi orang tuanya karena telah melanggar
nasehat yang telah diberikan. ”Apakah aku harus memutuskan hubungan ini.” Ucap
Laras lirih.
*
* *
Dengan keputusan yang bulat akhirnya Laras memutuskan
hubungannya dengan Surya yang berjalan hampir 3 bulan. Laras hanya berkata,
”Lebih baik kita akhiri hubungan ini karena aku tidak ingin lagi melukaimu,
Surya.” Tanpa mengatakan bahwa kedua orang tuanya tidak menghendaki hubungan
itu. Surya bingung dan berkata, ”Apakah ada laki-laki lain yang kamu sukai,
Ras?”
Laras menjawab, ”Tentu saja tidak, Maafin aku karena aku
tak bisa melanjutkan hubungan ini.” Setelah itu Laraspun pergi meninggalkan
Surya yang tengah menundukkan kepalanya.
Di dalam hati Laraspun berkata, ”Mungkin ini adalah jalan
yang terbaik untuk kita. Kalau
kita jodoh pasti kita akan dipertemukan kembali Surya. Untuk saat ini aku akan
memudarkan bayangmu dari hatiku.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar